Dalam wawancaranya dengan UFC, Bilal Hasan secara eksplisit menyatakan bahwa ia secara pribadi ingin membawa dan mewakili nama Indonesia. Proudly represent Indonesia, katanya.
Salah satu keinginannya adalah menginspirasi anak muda di Indonesia dan Asia Tenggara. Dgn kesadaran penuh, Bilal ingin membangun warisan atau legacy atas kiprahnya di UFC. Bukan krn paksaan, tekanan, atau manipulasi dari pihak atau lembaga manapun di luar dirinya.
Bilal ingin memakai panggung besar UFC sbg alat dan sumber daya utk mencapai visi pribadinya yakni mengembangkan olah raga MMA di Indonesia.
Apakah Bilal lantas menjadi korban atau berpotensi menjadi korban eksploitasi?
Tentu tidak!
Eksploitasi terjadi ketika satu pihak memanfaatkan pihak lain tanpa memberikan manfaat balik.
Dlm soal ini, posisi Bilal di UFC justru ia pakai sbg platform sukarela dgn cita2 besar memberikan inspirasi dan dampak positif bagi komunitas2 tarung di Indonesia.
Berkali2 Bilal mengatakan bahwa keberhasilannya dibangun atas pengorbanan keluarganya, pendidikan formal, ia meraih gelar sarjana Health Studies dari University of Washington Bothell, serta kerja keras finansial mandiri.
Bilal pernah bekerja sebagai resepsionis, security guard, sampai pramusaji.
Bilal ingin terus menunjukkan bahwa pencapaiannya adl buah perjuangan pribadi dan keluarga. Bilal lantas secara bebas memilih identitas kulturalnya sbg manusia Indonesia. Identitas itu, ia dibagikan secara luas kpd publik tanpa merasa ditunggangi oleh kepentingan pihak luar manapun.
Bilal sendiri ingin menampilkan dirinya sbg individu yang utuh dan berwarna. Ia menyukai musik, bikin konten, fokus juga pd akademik, sampai melakukan banyak kegiatan sosial.
Bilal tidak ingin sekadar menjadi komoditas bertarung atau objek pemasaran. Ia punya keinginan dikenal secara autentik. Seperti kata Bilal, more than just wins.



