Editor
Penulis: Rahka Susanto/DW Indonesia
KOMPAS.com - Lapangan Azadi, Teheran, kembali menjadi panggung sejarah pada Rabu (11/2/2026). Bendera berkibar, lagu-lagu revolusi dikumandangkan, dan Presiden Masoud Pezeshkian berdiri di hadapan ribuan warga yang memperingati hari lahir republik.
Empat puluh tujuh tahun lalu, revolusi menggulingkan monarki Shah dan membuka era kepemimpinan ulama di bawah Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Namun perayaan tahun ini berlangsung dalam suasana genting. Sehari sebelumnya, ketika pemerintah menyalakan kembang api di langit Teheran, sejumlah warga justru meneriakkan slogan dari balkon apartemen mereka: "Matilah Khamenei" dan "Matilah wahai diktator".
Baca juga: Diam-diam, AS Selundupkan 6.000 Starlink ke Iran Saat Demo Berdarah
Video-video yang beredar di media sosial menunjukkan teriakan itu menggema di beberapa sudut kota, meski aparat keamanan memperketat pengawasan.
Di atas panggung di Teheran, Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan tunduk pada agresi dan tidak akan menyerah pada tuntutan berlebihan dari Amerika Serikat (AS).
Dia kembali menegaskan bahwa program nuklir Iran bersifat damai dan siap diverifikasi. Pada saat yang sama, dia menyebut pihaknya tetap membuka dialog demi perdamaian dan ketenangan kawasan.
Baca juga: Ketegangan Meningkat, Pesawat Mata-mata AS Terdeteksi Pantau Perbatasan Iran
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump belum menutup kemungkinan aksi militer terhadap Iran.
Usai mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln bersama kelompok tempurnya ke Timur Tengah, dia kini mempertimbangkan pengiriman kapal induk kedua.
Baru-baru ini, serdadu AS dilaporkan menembak jatuh sebuah drone yang mendekati armada tempurnya, serta membantu kapal berbendera AS yang hendak dihentikan Iran di Selat Hormuz.
Di tengah atmosfer panas itu, diplomasi tetap berjalan. Jumat (6/2/2026) lalu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu dengan utusan khusus AS Steve Witkoff.
Namun hingga kini belum jelas kapan putaran berikutnya akan digelar. Pejabat senior keamanan nasional Iran, Ali Larijani, menyebut hanya terjadi pertukaran pesan dan tidak ada proposal konkret dari Washington.
Baca juga: Iran Ngaku Belum Terima Proposal yang Jelas dari AS
Di Washington, Trump menyatakan pembicaraan harus terus berlanjut untuk melihat apakah kesepakatan bisa dicapai.
"Jika bisa, itu pilihan yang saya utamakan,” tulisnya di Truth Social.
Dia mengingatkan bahwa pada perundingan sebelumnya Iran memilih tidak membuat kesepakatan dan mereka "dipukul", sebuah rujukan pada serangan AS terhadap situs nuklir Iran dalam perang 12 hari Iran–Israel pada Juni lalu.