Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
RILIS BIZ

Bahas Aturan BMAD Keramik yang Bakal Terbit, Arcasia Ingatkan Tantangan

Kompas.com, 28 Juli 2024, 09:11 WIB
Yakob Arfin T Sasongko,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kementerian Perdagangan (Kemendag) menargetkan aturan perpanjangan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) sebesar 200 persen yang dikenakan terhadap ubin keramik porselen dari China  terbit bulan depan.

Hal itu menuai kritik dari Ketua Komite Arsitek Muda Architects Regional Council Asia (Arcasia), Denny Setiawan. Ia juga mengingatkan sejumlah tantangan bila beleid tersebut disahkan.

Denny beralasan, meskipun sebenarnya tujuan pengenaan BMAD untuk melindungi industri dalam negeri, hal itu perlu dibuktikan terlebih dahulu apakah terjadi dumping atau tidak.

Baca juga: Aturan Bea Masuk Kain dan Keramik Ditargetkan Terbit Bulan Depan

Terlebih, jika BMAD diterapkan, bakal ada potensi kelangkaan dan harga keramik di pasaran. Ini mengingat produksi dalam negeri, ia nilai, belum mampu memenuhi kebutuhan konsumen.

“Ini upaya yang baik buat pemerintah untuk melindungi pasar dalam negeri, utamanya mereka yang memproduksi keramik di dalam negeri. (Tapi tantangannya juga harus dipertimbangkan). Saya setuju kepada para ekonom yang saat ini menilai bahwa aturan tersebut belum saatnya diimplementasikan di Tanah Air. Ini bukan saat yang tepat karena kesiapan produsen keramik dalam negeri belum sesiap itu untuk memenuhi semua kebutuhan keramik dalam negeri sendiri,” ujar Denny dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Sabtu (27/7/2024).

Denny melanjutkan, efek lain dari pengenaan BMAD 200 persen, yakni biaya membangun rumah menjadi lebih mahal dari biasanya. Ia memberi estimasi untuk membangun rumah, bisa mencapai harga Rp 6-7 juta per meter persegi.

“Jadi, kalau kita melihat membangun sekarang tidak bisa lagi dengan biaya yang murah,” bebernya.

Implementasi BMAD bisa saja dilakukan, menurut Denny, jika produsen keramik dalam negeri sudah mampu memproduksi sesuai dengan kebutuhan pasar. yakni yang berkualitas dan harga terjangkau.

Baca juga: Sri Mulyani Bakal Cek Aturan Bea Masuk Kain Usai RI Kebanjiran Tekstil Impor

Makin susah memiliki rumah layak

Sebagai imbas aturan BMAD untuk keramik, Denny menilai bahwa Indonesia juga bakal menghadapi tantangan sulitnya memiliki rumah yang layak untuk sejumlah kalangan karena tingginya harga keramik.

"(Jangan sampai jadi ada) risiko (dari pengenaan) BMAD 200 persen, yaitu generasi milenial terancam saat membangun atau mempunyai rumah pertamanya," tuturnya.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia ke depan menghadapi bonus demografi. Adapun populasi terbesar di Tanah Air saat ini merupakan kelompok usia 25-45 tahun.

Ia berharap, generasi muda yang tengah berjuang memiliki rumah pertama justru dimudahkan agar mencapai kemapanan ekonomi di level pertama.

“Jangan sampai perjuangan mereka untuk bisa mendapatkan rumah pertama ini semakin jauh arangnya karena harga keramiknya semakin mahal,” tukasnya.

Sekali lagi, atas pertimbangan tantangan yang bakal dihadapi, ia mendorong pemerintah untuk menunda aturan terlebih dulu.

"Sebaiknya ditunda dulu sampai kita (di Indonesia) benar-benar siap dan produsen dalam negeri siap untuk menggantikan keramik-keramik China yang datang itu,” harapnya.

Di sisi lain, Denny juga mendorong agar pemerintah bisa membantu menggenjot produksi dalam negeri dengan melakukan hilirisasi bahan baku keramik, yaitu kaolin.

Bahan keramik itu, kata Denny, dimiliki Indonesia secara melimpah, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal.

“Indonesia sebenarnya bisa melakukan hilirisasi di lini ini karena sebenarnya memiliki sumber daya yang cukup untuk bisa membuat keramik sendiri. Jadi, rasanya pemerintah daripada memberhentikan produk dari China, lebih baik fokus membesarkan produsen-produsen keramik yang ada di dalam negeri,” tambahnya.

Baca juga: India Batalkan BMAD Produk Stainless Steel Asal Indonesia

Pihaknya pun mendorong agar pemerintah membantu produsen keramik rumahan yang banyak tersebar di daerah untuk diberikan insentif atau pelatihan membuat keramik yang berkualitas dan sesuai kebutuhan pasar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau