BrandzView
Konten ini merupakan Kerjasama Kompas.com dengan Bank Raya

Bukan Nabung dengan Jumlah Besar, Ini Cara Unik Gen Z Kelola Keuangan

Kompas.com, 24 Desember 2025, 17:49 WIB
Yakob Arfin T Sasongko,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Banyak pakar keuangan sepakat bahwa formula pengelolaan keuangan terbaik adalah 50:30:20. Sebanyak 50 persen dari penghasilan dialokasikan untuk kebutuhan, 30 persen untuk keinginan, serta 20 persen untuk tabungan, utang, dan dana darurat.

Formula yang kerap dikenal dengan hard saving tersebut sangat populer, bahkan kerap dijadikan rumus untuk bisa mencapai kebebasan finansial di masa mendatang.

Namun, di kalangan Gen Z, prinsip hard saving justru mulai ditinggalkan. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang ketat menyisihkan tabungan dengan persentase besar, Gen Z mengambil jalan sebaliknya.

Mereka lebih memilih menabung secara fleksibel, semisal menyisihkan jumlah kecil secara konsisten demi menghindari stres finansial. Gaya menabung ini disebut sebagai soft saving.

Diberitakan Kompas.com, Selasa (5/3/2024), soft saving merupakan pengelolaan keuangan dengan menekankan perkembangan diri dan kesehatan mental daripada keamanan finansial atau status di masa mendatang.

Dengan mengutamakan kesehatan mental, soft saving tidak berfokus pada seberapa besar target investasi yang ingin dicapai. Alhasil, beban finansial yang bisa menyebabkan burn out dapat dikurangi demi mendapatkan hidup berkualitas.

Baca juga: Apa Itu Soft Saving, Tren Keuangan yang Populer di Kalangan Gen Z?

Berdasarkan hasil Prosperity Index Study yang dilakukan Intuit, 3 dari 4 Gen Z memilih kualitas hidup baik ketimbang uang ekstra di bank. Sementara itu, 2 dari 3 Gen Z mengatakan, mereka tertarik dengan keuangan sebagai cara mendukung hal lain yang menjadi ketertarikannya dalam hidup.

Mereka pun lebih mementingkan keseimbangan kehidupan kerja, menekuni hobi, dan menikmati hal-hal bermakna, seperti liburan. Karena itulah, soft saving digandrungi kalangan Gen Z.

Direktur Bisnis Bank Raya Kicky Andrie Davetra mengatakan, saat ini Gen Z merupakan demografi dan usia produktif terbesar di Indonesia dengan rentang usia 12-27 tahun.

Mereka pada umumnya memiliki mindset memprioritaskan kebutuhan saat ini dan menginginkan financial freedom di usia muda.

“Untuk menjembatani hal tersebut, diperlukan pemahaman pengelolaan keuangan yang baik dan bagaimana mengalokasikan pendapatan atau gaji secara optimal untuk investasi jangka panjang,” ujar Kicky kepada Kompas.com lewat keterangan tertulis, Rabu (24/12/2025).

Mempraktikkan soft saving

Cara mempraktikkan soft saving cukup mudah. Mulailah dengan menabung dalam jumlah kecil agar bisa menumbuhkan kebiasaan, semisal menabung dari uang kembalian saat makan siang.

Sebagai contoh, jika kamu punya anggaran makan siang Rp 30.000 dan ternyata saat itu hanya menghabiskan Rp 20.000, sisa Rp 10.000 bisa ditabung langsung.

Bayangkan bila dalam 20 hari kerja kebiasaan ini konsisten dilakukan, tak terasa dalam satu bulan kamu sudah memiliki tabungan Rp 200.000.

Guna memudahkan, gunakan fitur tabungan otomatis untuk memindahkan dana tersebut ke rekening tabungan khusus.

Metode soft saving membantu siapa pun membangun kebiasaan menabung tanpa tekanan. Dengan mengalihkan dana kecil secara konsisten, kamu tetap bisa menjalani gaya hidup seperti biasa sambil perlahan memperkuat ketahanan finansial.

Sejumlah negara juga telah mengadopsi pendekatan serupa melalui fitur tabungan otomatis, yang terbukti efektif membantu generasi muda mengumpulkan dana tanpa perlu repot mengatur transfer manual.

Baca juga: Cara Mengatur Keuangan Gen Z Setelah Terima Gaji

Soft saving mudah di Bank Raya

Di Indonesia, fitur serupa dihadirkan oleh Bank Raya. Anak usaha Bank Rakyat Indonesia ini menghadirkan fitur Saku yang memudahkan nasabah mengelola dana sesuai kebutuhan.

Saku Bujet, misalnya, membantu pengguna mengatur anggaran harian, seperti belanja dan transportasi. Kemudian, Saku Pintar menyediakan fitur autodebit untuk menabung rutin harian, mingguan, atau bulanan.

Selanjutnya, Saku Jaga menawarkan bunga kompetitif bagi dana darurat yang tetap dapat diakses kapan saja.

Fitur “Nabung Rutin” di Saku Pintar dapat dimanfaatkan untuk mempraktikkan soft saving karena memungkinkan pengguna mengatur autotransfer sebesar Rp 10.000 hingga Rp 20.000 setiap hari.

Untuk mendorong praktik baik ini, Bank Raya juga menggelar program apresiasi nasabah melalui Pesta Raya mulai Jumat (8/8/2025) hingga Sabtu (31/1/2026).

Baca juga: Transaksi QRIS Bisnis Bank Raya Melonjak 300 Persen

Selama periode tersebut, setiap aktivitas seperti membuka rekening, mengisi saldo, melakukan transfer, pembayaran tagihan, dan transaksi QRIS akan menghasilkan poin.

Poin tersebut dapat ditukar menjadi beragam hadiah langsung, mulai dari voucher belanja, gadget, hingga logam mulia atau ditukarkan menjadi kupon undian untuk memenangkan saldo Rp 1 juta, Samsung S25 Ultra, motor listrik Alva Cervo, hingga mobil listrik BYD Seal.

Info selengkapnya silakan akses di https://bankraya.co.id/promo/pesta-raya-2025.

Bank Raya, imbuh Kicky, berupaya untuk menghadirkan produk perbankan digital yang built to last sehingga produk yang dihadirkan tidak lekang oleh waktu karena fungsinya yang selalu relevan dan memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bertransaksi perbankan, serta mudah dan reliable.

“Kami menjaga produk yang diluncurkan adalah produk digital berkualitas dan esensial sehingga menciptakan pengalaman perbankan yang berfokus pada kenyamanan, efisiensi, dan kepuasan nasabah,” tutur Kicky.

Jangan remehkan kekuatan langkah kecil. Hanya dengan menyisihkan Rp 10.000 per hari setara harga jajan sore, kamu bisa mengumpulkan Rp 300.000 dalam sebulan!

Siapa sangka, konsistensi "receh" ini justru jadi strategi jitu untuk panen poin lebih banyak dan memuluskan jalanmu menyabet hadiah di tier tertinggi.

Bagaimana, tak sabar untuk menang? Yuk, praktikkan soft saving di Bank Raya!

Baca tentang

Terkini Lainnya
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau