JAKARTA, KOMPAS.com – Inflasi nasional terlihat jinak, tapi biaya hidup di kota besar justru terasa makin menekan. Jakarta menjadi contoh paling nyata.
Bagi warga perkotaan, kenaikan harga hadir setiap hari. Tekanan terasa dari belanja dapur, ongkos transportasi, hingga sewa rumah. Penghasilan bulanan cepat habis. Separuh bulan sering belum terlewati.
Data Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat inflasi nasional 2025 masih moderat. Inflasi bulanan Desember 2025 tercatat 0,64 persen. Angka ini menunjukkan kenaikan harga dibandingkan bulan sebelumnya.
Inflasi kalender sejak awal tahun berada di 2,92 persen. Inflasi tahunan juga 2,92 persen. Tekanan harga dinilai terkendali, meski meningkat di akhir tahun.
Kenaikan inflasi Desember dipicu komoditas harian. Cabai rawit menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,17 persen. Daging ayam ras menyusul 0,09 persen. Bawang merah dan emas perhiasan masing-masing 0,07 persen. Ikan segar berkontribusi 0,04 persen.
Baca juga: Emas Perhiasan Jadi Penyumbang Inflasi Sepanjang 2025
Tekanan tahunan terbesar justru datang dari emas perhiasan. Andilnya mencapai 0,79 persen. Cabai merah menyumbang 0,18 persen. Ikan segar, cabai rawit, dan beras masing-masing 0,15 persen.
Pergerakan inflasi 2025 bersifat fluktuatif. Inflasi Januari tercatat 0,76 persen. Februari sempat deflasi minus 0,09 persen. Inflasi kembali meningkat sejak Maret. Tahun ditutup di level 2,92 persen.
Seluruh 38 provinsi mengalami inflasi bulanan pada Desember. Kenaikan harga terjadi di semua wilayah dengan intensitas berbeda.
Aceh mencatat inflasi tertinggi di Sumatera sebesar 3,60 persen. Bengkulu terendah 0,43 persen. Jawa Timur mencatat inflasi tertinggi di Jawa sebesar 0,76 persen. DKI Jakarta terendah di kawasan ini dengan 0,33 persen.
Kalimantan Tengah mencatat inflasi tertinggi di Kalimantan sebesar 1,04 persen. Kalimantan Barat terendah 0,28 persen. Nusa Tenggara Timur mencatat inflasi tertinggi di Bali dan Nusa Tenggara sebesar 0,81 persen. Bali terendah 0,70 persen.
Gorontalo mencatat inflasi tertinggi di Sulawesi sebesar 0,88 persen. Sulawesi Tengah terendah 0,14 persen. Papua mencatat inflasi tertinggi di Maluku dan Papua sebesar 1,77 persen. Maluku Utara terendah 0,05 persen.
Persentase inflasi Jakarta memang rendah. Tekanan biaya hidup terasa paling kuat. Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance atau INDEF Tauhid Ahmad menilai lonjakan biaya hidup dipicu kebutuhan nonmakanan.
Baca juga: BI Targetkan Inflasi Pada 2026-2027 Tetap Berada di Kisaran 1,5-3,5 Persen
Struktur pengeluaran rumah tangga berubah. Beban terbesar bergeser dari pangan ke transportasi, komunikasi, dan kebutuhan penunjang kerja.
Ongkos transportasi publik di kota besar semakin mahal. Akses juga semakin terbatas. Kondisi ini memberatkan pekerja dengan mobilitas tinggi.
“Yang pertama pokoknya adalah kebutuhan non-makanan, itu kebutuhan tinggi gitu ya, misalnya untuk transportasi, ya sekarang di kota-kota dulu mungkin transportasi publik masih terjangkau (secara harga), kalau sekarang sudah sulit (mahal),” ujar Tauhid kepada Kompas.com, Rabu (7/1/2026).