Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Inflasi Tampak Jinak, Biaya Hidup Kota Justru Kian Mencekik

Kompas.com, 7 Januari 2026, 13:55 WIB
Suparjo Ramalan ,
Teuku Muhammad Valdy Arief

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Inflasi nasional terlihat jinak, tapi biaya hidup di kota besar justru terasa makin menekan. Jakarta menjadi contoh paling nyata.

Bagi warga perkotaan, kenaikan harga hadir setiap hari. Tekanan terasa dari belanja dapur, ongkos transportasi, hingga sewa rumah. Penghasilan bulanan cepat habis. Separuh bulan sering belum terlewati.

Data Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat inflasi nasional 2025 masih moderat. Inflasi bulanan Desember 2025 tercatat 0,64 persen. Angka ini menunjukkan kenaikan harga dibandingkan bulan sebelumnya.

Inflasi kalender sejak awal tahun berada di 2,92 persen. Inflasi tahunan juga 2,92 persen. Tekanan harga dinilai terkendali, meski meningkat di akhir tahun.

Kenaikan inflasi Desember dipicu komoditas harian. Cabai rawit menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,17 persen. Daging ayam ras menyusul 0,09 persen. Bawang merah dan emas perhiasan masing-masing 0,07 persen. Ikan segar berkontribusi 0,04 persen.

Baca juga: Emas Perhiasan Jadi Penyumbang Inflasi Sepanjang 2025

Tekanan tahunan terbesar justru datang dari emas perhiasan. Andilnya mencapai 0,79 persen. Cabai merah menyumbang 0,18 persen. Ikan segar, cabai rawit, dan beras masing-masing 0,15 persen.

Pergerakan inflasi 2025 bersifat fluktuatif. Inflasi Januari tercatat 0,76 persen. Februari sempat deflasi minus 0,09 persen. Inflasi kembali meningkat sejak Maret. Tahun ditutup di level 2,92 persen.

Seluruh 38 provinsi mengalami inflasi bulanan pada Desember. Kenaikan harga terjadi di semua wilayah dengan intensitas berbeda.

Aceh mencatat inflasi tertinggi di Sumatera sebesar 3,60 persen. Bengkulu terendah 0,43 persen. Jawa Timur mencatat inflasi tertinggi di Jawa sebesar 0,76 persen. DKI Jakarta terendah di kawasan ini dengan 0,33 persen.

Kalimantan Tengah mencatat inflasi tertinggi di Kalimantan sebesar 1,04 persen. Kalimantan Barat terendah 0,28 persen. Nusa Tenggara Timur mencatat inflasi tertinggi di Bali dan Nusa Tenggara sebesar 0,81 persen. Bali terendah 0,70 persen.

Gorontalo mencatat inflasi tertinggi di Sulawesi sebesar 0,88 persen. Sulawesi Tengah terendah 0,14 persen. Papua mencatat inflasi tertinggi di Maluku dan Papua sebesar 1,77 persen. Maluku Utara terendah 0,05 persen.

Persentase inflasi Jakarta memang rendah. Tekanan biaya hidup terasa paling kuat. Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance atau INDEF Tauhid Ahmad menilai lonjakan biaya hidup dipicu kebutuhan nonmakanan.

Baca juga: BI Targetkan Inflasi Pada 2026-2027 Tetap Berada di Kisaran 1,5-3,5 Persen

Struktur pengeluaran rumah tangga berubah. Beban terbesar bergeser dari pangan ke transportasi, komunikasi, dan kebutuhan penunjang kerja.

Ongkos transportasi publik di kota besar semakin mahal. Akses juga semakin terbatas. Kondisi ini memberatkan pekerja dengan mobilitas tinggi.

“Yang pertama pokoknya adalah kebutuhan non-makanan, itu kebutuhan tinggi gitu ya, misalnya untuk transportasi, ya sekarang di kota-kota dulu mungkin transportasi publik masih terjangkau (secara harga), kalau sekarang sudah sulit (mahal),” ujar Tauhid kepada Kompas.com, Rabu (7/1/2026).

Halaman:


Terkini Lainnya
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau