Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Industri hasil tembakau (IHT) dinilai mendatangkan dampak berganda di bidang ekonomi, mulai dari serapan tenaga kerja, memberikan pendapatan kepada daerah dan pusat.
Salah satu daerah penghasil tembakau yaitu Madura.
Fathor Rosi, pemilik pabrik rokok (PR) Cahaya yang berbasis di Madura mengatakan, pertumbuhan IHT di Madura tumbuh pesat, sehingga perlu dukungan kebijakan yang tepat dari pemerintah.
Baca juga: Mengurai Peran Strategis IHT dalam Rantai Nilai Ekonomi Indonesia
Pekerja membersihkan peralatan linting rokok setelah digunakan buruh linting di unit produksi sigaret keretek tangan di pabrik rokok di Surabaya tahun 2007."Silakan pemerintah pusat tegak lurus itu, jangan membunuh industri tembakau, tapi tolong industri tembakau ini dibina. Tidak hanya Cahaya Pro yang ingin maju. Kita juga ingin maju bersama. Seperti kata Bapak Bupati Pamekasan ‘Bangkit Bersama, Sejahtera Berkualitas'" kata Fathor dikutip Rabu (7/1/2026).
Ia juga menyampaikan pesan pada Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak agar pemerintah pusat melakukan pembinaan ke para pengusaha IHT di Madura.
"Izin saya ingin menyampaikan, bapak Emil Dardak, tolong disampaikan kepada pemerintah pusat, agar supaya Madura ini dibina. Karena Madura ini tinggal pembinaan saja, bapak, inshaallah, Madura tidak akan malu-maluin," ujarnya.
Diketahui, PR Cahaya Pro Pamekasan menerima penghargaan Madura Awards untuk kategori kontributor cukai tertinggi IHT lokal 2025. Penghargaan diterima langsung owner PR Cahaya Pro, Fathor Rosi.
Baca juga: Serikat Pekerja Sebut Cukai Rokok Tak Naik Selamatkan Pekerja IHT
Kontribusi cukai IHT tahun 2025, PR Cahaya Pro tidak hanya tertinggi di Kabupaten Pamekasan. Namun, nomor satu se-Madura.
Ilustrasi rokok. "Tak lupa, kami ingin menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada seluruh karyawan kami, karena tanpa mereka, kami tidak akan bisa sampai ke sini. Sebetulnya, kontribusi terbesar dari tahun 2015 itu, Alhamdulillah, Cahaya Pro selalu nomor satu di Madura," kata Fathor.
Menurutnya, peran pemerintah sangat penting dalam menciptakan iklim usaha yang sehat serta mendorong peningkatan ekonomi masyarakat Madura.
“Pemerintah harus hadir membina, bukan membinasakan. Industri rokok di Madura punya potensi besar, baik untuk serapan tenaga kerja maupun kesejahteraan petani tembakau. Jangan sampai Madura dicap sebagai sarang rokok ilegal,” tutur dia.
Baca juga: IHT Dipandang Bisa Terpukul PP Kesehatan hingga RPMK Tembakau
PR Cahaya Pro tahun ini kembali menjadi perusahaan dengan jumlah buruh penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) terbanyak di Pamekasan tahun 2025.
Data Dinas Sosial (Dinsos) Pamekasan menyebutkan, dari 54 perusahaan yang terinventarisasi, sebanyak 418 buruh PR Cahaya Pro menerima BLT DBHCHT dari total 4.458 penerima yang diproyeksikan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada kuartal I/2025 industri pengolahan tembakau mengalami kontraksi terdalam sebesar minus 3,77 persen year-on-year (yoy), berbanding terbalik dengan pertumbuhan positif 7,63 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Produksi rokok selama enam bulan pertama 2025 tercatat 142,6 miliar batang, turun 2,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menjadi yang terendah dalam delapan tahun terakhir sejak 2018, kecuali pada 2023.
Baca juga: DPR: Kenaikan Cukai Perlu Dibarengi Pengawasan untuk Jaga IHT