Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Strategi Menabung Realistis di Tengah Tekanan Biaya Hidup

Kompas.com, 10 Januari 2026, 07:00 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Kebiasaan menabung sering dimulai dari niat yang sederhana, misalnya "tahun ini harus lebih hemat”.

Namun, kebiasaan menabung tak jarang berakhir di minggu ketiga karena biaya hidup datang bertubi-tubi, misalnya kebutuhan dapur, tagihan sekolah, cicilan, sampai pengeluaran tak terduga.

Perlu diingat, menabung bukan soal sempurna atau tidak sama sekali.

Baca juga: Revenge Saving, Strategi Menabung Balas Dendam Saat Ekonomi Tak Pasti

Ilustrasi menabung, menabung harian.FREEPIK/JCOMP Ilustrasi menabung, menabung harian.

Banyak perencana keuangan menekankan target yang kecil tapi konsisten, karena target yang terlalu besar justru membuat rumah tangga kalah sebelum mulai.

Reuters mewartakan, perencana keuangan Cynthia Luna mengingatkan pentingnya target menabung yang tidak mengundang rasa gagal sejak awal.

Cara yang tepat adalah dengan menggunakan langkah-langkah kecil dan membuatnya mudah dicapai serta memotivasi, karena Anda tidak ingin gagal dalam resolusi keuangan Anda," ujarnya.

Berangkat dari pendekatan langkah kecil itu, berikut kerangka praktis menetapkan target menabung yang realistis, yang bisa dicapai tanpa membuat arus kas rumah tangga megap-megap.

Baca juga: Biaya Hidup Naik, Soft Saving ala Gen Z Bisa Jadi Strategi Menabung

1. Mulai dari angka yang benar-benar ada di kas: audit arus kas 30 hari

Target menabung yang realistis selalu dimulai dari baseline, berapa uang yang benar-benar “tersisa” setelah kebutuhan pokok dan kewajiban dibayar.

Banyak rumah tangga merasa tak bisa menabung karena semua pengeluaran tampak sama pentingnya. Karena itu, tahap pertama bukan menentukan nominal tabungan, melainkan memetakan pola uang keluar.

Ilustrasi tabungan. Kehilangan pekerjaan bisa datang tiba-tiba. Agar keuangan tetap aman, dana darurat jadi penyelamat utama. Simak lima cara sederhana membangunnya sejak sekarang.UNSPLASH/TOWFIQU BARBHUIYA Ilustrasi tabungan. Kehilangan pekerjaan bisa datang tiba-tiba. Agar keuangan tetap aman, dana darurat jadi penyelamat utama. Simak lima cara sederhana membangunnya sejak sekarang.

Cara yang lazim direkomendasikan perencana keuangan adalah mencatat seluruh pengeluaran 30 hari, bukan untuk “menghakimi” belanja, melainkan untuk membedakan tiga kelompok, yakni sebagai berikut.

  • Kebutuhan wajib: makan, transport kerja, listrik, air, komunikasi, sewa atau cicilan rumah, pendidikan dasar.
  • Kewajiban finansial: cicilan, premi asuransi, iuran, pembayaran utang.
  • Belanja fleksibel: hiburan, langganan, makan di luar, belanja impulsif, biaya kecil harian.

Setelah peta ini terbentuk, barulah rumah tangga bisa menilai ruang menabung yang realistis, sering kali bukan dari memotong kebutuhan wajib, tetapi dari “kebocoran kecil” yang tidak terasa.

Baca juga: Tips Menabung Harian agar Konsisten di Tengah Biaya Hidup Naik

2. Ubah target besar menjadi target bertahap: dari “3 sampai 6 bulan biaya hidup” ke “Rp 500.000 dulu”

Banyak perencana keuangan menyebut dana darurat ideal 3 sampai 6 bulan pengeluaran. Masalahnya, target itu terasa jauh bagi rumah tangga yang masih bertarung dengan biaya harian.

Karena itu, banyak praktisi menyarankan milestone kecil lebih dulu.

Associated Press (AP) menulis bahwa gagasan menabung setara 3 sampai 6 bulan pengeluaran bisa terasa menakutkan, sehingga lebih baik memulai dari tonggak yang lebih kecil.

Sebaiknya, tetapkan target awal yang terasa ringan tapi nyata, misalnya sebagai berikut.

  • Target 1 (2 sampai 8 minggu): Rp 250.000 sampai Rp 1 juta pertama.
  • Target 2 (3 sampai 6 bulan): 1 bulan biaya hidup.
  • Target 3 (6 sampai 18 bulan): 3 bulan biaya hidup.
  • Target 4 (lebih dari 18 bulan): 6 bulan biaya hidup, khususnya bila pendapatan tidak stabil.

Baca juga: Mengapa Menabung Kerap Gagal? Ini Penyebab dan Solusinya

Langkah kecil membantu dua hal. Pertama, memberi rasa progres, dan kedua, mengurangi risiko target menabung “mengganggu” kebutuhan pokok.

3. Pakai rumus aman agar tidak memberatkan: mulai dari persentase kecil, lalu naikkan otomatis

Ilustrasi menabung.FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi menabung.

Menabung sering gagal bukan karena orang tidak tahu harus menabung, tetapi karena targetnya tidak selaras dengan kemampuan arus kas.

Salah satu pendekatan yang banyak dianjurkan adalah memulai dari persentase kecil pendapatan dan menaikkannya bertahap, bukan langsung melompat.

Halaman:


Terkini Lainnya
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau