Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Elon Musk Makin Dekat Jadi Triliuner Pertama Dunia, Roket SpaceX Jadi Penopang Kekayaan

Kompas.com, 8 Februari 2026, 08:11 WIB
Erlangga Djumena

Editor

Sumber CNBC

NEW YORK, Kompas.com - Perjalanan miliarder Elon Musk menuju status triliuner pertama di dunia diperkirakan akan lebih banyak ditopang bisnis roket dibandingkan mobil listrik. Saat ini, SpaceX disebut menyumbang hampir dua pertiga dari total kekayaan CEO Tesla tersebut.

Musk pekan ini menjadi orang pertama yang melampaui angka 800 miliar dollar AS atau sekitar Rp 13.487,2 triliun(kurs Rp 16.850 per dollar AS).

Menurut Forbes, kekayaan bersihnya kini berada di kisaran 845 miliar dollar AS atau sekitar Rp 14.245,9 triliun—lebih besar daripada gabungan kekayaan tiga tokoh teknologi lain, yakni pendiri Google Larry Page dan Sergey Brin serta CEO Meta Mark Zuckerberg.

Lonjakan kekayaan itu terjadi setelah perusahaan kedirgantaraan dan pertahanan miliknya, SpaceX, mengakuisisi perusahaan kecerdasan buatan dan media sosialnya, xAI.

Baca juga: Elon Musk Semakin Tajir, Kekayaannya Tembus Rp 13.000 Triliun

Seperti dikutip dari CNBC, Minggu (8/2/2026), kesepakatan tersebut menilai entitas gabungan SpaceX–xAI sekitar 1,25 triliun dollar AS (Rp 21.073,8 triliun).

Dengan porsi kepemilikan Musk diperkirakan sekitar 43 persen di perusahaan gabungan tersebut, nilai kepemilikannya bisa mencapai lebih dari 530 miliar dollar AS (Rp 8.935,3 triliun). Perubahan ini menunjukkan pergeseran cepat dalam komposisi sumber kekayaannya.

Fokus Musk juga dinilai semakin condong ke SpaceX dibanding Tesla. Hal itu turut diakui perusahaan kendaraan listrik tersebut dalam dokumen proxy terbaru yang menyebut bahwa “sebagian besar kekayaan Mr. Musk kini berasal dari usaha bisnis lainnya.”

Tahun lalu, Musk mengonfirmasi rencana membawa SpaceX melantai di bursa pada 2026. Langkah ini berpotensi membuat Tesla menjadi komponen yang kurang dominan dalam kekayaan likuidnya.

Meski demikian, rencana tersebut tetap bergantung pada minat investor pasar publik, yang mungkin berhati-hati menilai perusahaan gabungan yang mencakup bisnis pertahanan, satelit, serta pengembang model AI yang masih membutuhkan pendanaan besar untuk bersaing dengan Google, OpenAI, dan Anthropic.

Menurut riset FedScout, SpaceX telah menerima lebih dari 20 miliar dollar AS (Rp 337,2 triliun) dari kontrak pemerintah federal, dengan potensi kontrak bernilai lebih besar di masa mendatang. Musk sendiri menggambarkan akuisisi xAI sebagai langkah menuju pengembangan “pusat data orbital”.

“Anda sedikit mengaburkan cerita Anda sebagai pemegang saham SpaceX murni, tetapi peluangnya menjadi jauh lebih besar,” ujar Managing Director Rainmaker Securities Greg Martin.

“Masuk akal bagi mereka untuk mengakses pasar modal yang jauh lebih besar, terutama dengan xAI yang memiliki kebutuhan modal yang nyaris tak terbatas,” tambah dia.

SpaceX tengah menyiapkan IPO pada 2026 dengan target dana lebih dari 25 miliar dollar AS. Jika terealisasi, valuasi perusahaan Elon Musk itu bisa melampaui 1 triliun dollar AS.X/@SpaceX SpaceX tengah menyiapkan IPO pada 2026 dengan target dana lebih dari 25 miliar dollar AS. Jika terealisasi, valuasi perusahaan Elon Musk itu bisa melampaui 1 triliun dollar AS.

xAI dipantau otoritas

Di sisi lain, xAI saat ini tengah diselidiki otoritas di Eropa, Asia, Australia, dan California setelah generator gambar Grok memungkinkan pembuatan dan penyebaran gambar “deepfake” eksplisit terhadap anak-anak dan perempuan.

Belum jelas apakah merger SpaceX–xAI akan memerlukan peninjauan regulator lebih lanjut. Sejumlah senator Partai Demokrat juga meminta Pentagon menyelidiki SpaceX terkait investor China yang tidak diungkap.

Meski fokus Musk disebut bergeser, Tesla tetap menjadi bagian penting. Ketua Dewan Tesla Robyn Denholm menilai paket kompensasi Musk lebih berkaitan dengan pengaruh hak suara dibanding sekadar bayaran.

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau