Editor
NEW YORK, Kompas.com - Perjalanan miliarder Elon Musk menuju status triliuner pertama di dunia diperkirakan akan lebih banyak ditopang bisnis roket dibandingkan mobil listrik. Saat ini, SpaceX disebut menyumbang hampir dua pertiga dari total kekayaan CEO Tesla tersebut.
Musk pekan ini menjadi orang pertama yang melampaui angka 800 miliar dollar AS atau sekitar Rp 13.487,2 triliun(kurs Rp 16.850 per dollar AS).
Menurut Forbes, kekayaan bersihnya kini berada di kisaran 845 miliar dollar AS atau sekitar Rp 14.245,9 triliun—lebih besar daripada gabungan kekayaan tiga tokoh teknologi lain, yakni pendiri Google Larry Page dan Sergey Brin serta CEO Meta Mark Zuckerberg.
Lonjakan kekayaan itu terjadi setelah perusahaan kedirgantaraan dan pertahanan miliknya, SpaceX, mengakuisisi perusahaan kecerdasan buatan dan media sosialnya, xAI.
Baca juga: Elon Musk Semakin Tajir, Kekayaannya Tembus Rp 13.000 Triliun
Seperti dikutip dari CNBC, Minggu (8/2/2026), kesepakatan tersebut menilai entitas gabungan SpaceX–xAI sekitar 1,25 triliun dollar AS (Rp 21.073,8 triliun).
Dengan porsi kepemilikan Musk diperkirakan sekitar 43 persen di perusahaan gabungan tersebut, nilai kepemilikannya bisa mencapai lebih dari 530 miliar dollar AS (Rp 8.935,3 triliun). Perubahan ini menunjukkan pergeseran cepat dalam komposisi sumber kekayaannya.
Fokus Musk juga dinilai semakin condong ke SpaceX dibanding Tesla. Hal itu turut diakui perusahaan kendaraan listrik tersebut dalam dokumen proxy terbaru yang menyebut bahwa “sebagian besar kekayaan Mr. Musk kini berasal dari usaha bisnis lainnya.”
Tahun lalu, Musk mengonfirmasi rencana membawa SpaceX melantai di bursa pada 2026. Langkah ini berpotensi membuat Tesla menjadi komponen yang kurang dominan dalam kekayaan likuidnya.
Meski demikian, rencana tersebut tetap bergantung pada minat investor pasar publik, yang mungkin berhati-hati menilai perusahaan gabungan yang mencakup bisnis pertahanan, satelit, serta pengembang model AI yang masih membutuhkan pendanaan besar untuk bersaing dengan Google, OpenAI, dan Anthropic.
Menurut riset FedScout, SpaceX telah menerima lebih dari 20 miliar dollar AS (Rp 337,2 triliun) dari kontrak pemerintah federal, dengan potensi kontrak bernilai lebih besar di masa mendatang. Musk sendiri menggambarkan akuisisi xAI sebagai langkah menuju pengembangan “pusat data orbital”.
“Anda sedikit mengaburkan cerita Anda sebagai pemegang saham SpaceX murni, tetapi peluangnya menjadi jauh lebih besar,” ujar Managing Director Rainmaker Securities Greg Martin.
“Masuk akal bagi mereka untuk mengakses pasar modal yang jauh lebih besar, terutama dengan xAI yang memiliki kebutuhan modal yang nyaris tak terbatas,” tambah dia.
SpaceX tengah menyiapkan IPO pada 2026 dengan target dana lebih dari 25 miliar dollar AS. Jika terealisasi, valuasi perusahaan Elon Musk itu bisa melampaui 1 triliun dollar AS.Di sisi lain, xAI saat ini tengah diselidiki otoritas di Eropa, Asia, Australia, dan California setelah generator gambar Grok memungkinkan pembuatan dan penyebaran gambar “deepfake” eksplisit terhadap anak-anak dan perempuan.
Belum jelas apakah merger SpaceX–xAI akan memerlukan peninjauan regulator lebih lanjut. Sejumlah senator Partai Demokrat juga meminta Pentagon menyelidiki SpaceX terkait investor China yang tidak diungkap.
Meski fokus Musk disebut bergeser, Tesla tetap menjadi bagian penting. Ketua Dewan Tesla Robyn Denholm menilai paket kompensasi Musk lebih berkaitan dengan pengaruh hak suara dibanding sekadar bayaran.