Editor
JAKARTA, KOMPAS.com – Indonesia menghadapi kesenjangan pensiun yang semakin nyata. Survei Sun Life di Asia menunjukkan, sebagian orang bekerja di masa pensiun karena pilihan, tetapi sebagian lain terpaksa bekerja karena tekanan finansial.
Albertus Wiroyo, Presiden Direktur Sun Life Indonesia mengatakan, pihaknya melihat dua realitas yang berbeda. Bagi yang siap, bekerja lebih lama bisa menjadi pilihan yang menawarkan fleksibilitas dan kebebasan.
Sementara bagi yang lain, bekerja lebih lama mencerminkan tekanan keuangan yang dihadapi. "Merencanakan pensiun lebih awal dan secara menyeluruh adalah penentu realitas mana yang akan dijalani,” kata Albertus, melalui keterangan pers, dikutip Sabtu (14/2/2026).
Baca juga: Bank Aladin Syariah (BANK) Bidik Segmen Pensiunan Lewat Program Umrah
Riset Sun Life membagi pekerja menjadi dua kategori: Gold Star Planners yang siap secara finansial, dan Stalled Starters yang menunda pensiun karena keterbatasan dana.
Bagi Gold Star Planners, melanjutkan bekerja adalah aspirasi yang dipilih sendiri, dipengaruhi tujuan hidup, identitas, dan kesejahteraan (60 persen).
Hampir setengah dari mereka (48 persen) menantikan masa pensiun karena merasa aman secara finansial. Sementara itu, 83 persen menikmati aspek sosial dari pekerjaan dan tetap aktif secara fisik atau mental.
Sebaliknya, Stalled Starters bekerja karena kebutuhan. Sebanyak 71 persen menyebut penghasilan tambahan diperlukan untuk biaya hidup sehari-hari, dan 43 persen menunda pensiun untuk menutup biaya pendidikan atau kebutuhan anak. Hanya 20 persen dari kelompok ini yang optimis tentang pensiunnya.
“Semakin banyak orang Indonesia yang umurnya lebih panjang. Namun, terlalu banyak yang masih tidak yakin apakah mereka bisa pensiun dengan nyaman," lanjut Albertus.
"Itulah mengapa peran institusi keuangan semakin penting: menyediakan panduan dan solusi yang mengubah ketidakpastian menjadi pemberdayaan,” tambah Albertus.
Baca juga: Sun Life Indonesia Salurkan Rp 1,19 Miliar untuk Pemulihan Banjir dan Longsor di Sumatera
Penggunaan generative AI seperti ChatGPT dan Google Gemini meningkat lebih dari dua kali lipat, dari 13 persen menjadi 30 persen, sebagai sumber informasi perencanaan keuangan.
Di sisi lain, konsultasi dengan bank turun dari 40 persen menjadi 31 persen, dan penasihat keuangan independen turun dari 44 persen menjadi 31 persen.
Albertus mengatakan, AI bisa menjadi titik awal pencarian informasi dan sangat membantu, tetapi seringkali tidak memiliki konteks dan tingkat personalisasi yang dibutuhkan untuk mewujudkan keamanan finansial jangka panjang.
"Pelibatan nasihat dari ahli keuangan tetap penting agar keputusan yang diambil dapat ditopang oleh informasi yang akurat, seimbang, dan selaras dengan tujuan masing-masing individu,” ujar Albertus.