Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kesenjangan Pensiun di Indonesia: Pilihan atau Tekanan Finansial?

Kompas.com, 14 Februari 2026, 19:30 WIB
Aprillia Ika

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com – Indonesia menghadapi kesenjangan pensiun yang semakin nyata. Survei Sun Life di Asia menunjukkan, sebagian orang bekerja di masa pensiun karena pilihan, tetapi sebagian lain terpaksa bekerja karena tekanan finansial.

Albertus Wiroyo, Presiden Direktur Sun Life Indonesia mengatakan, pihaknya melihat dua realitas yang berbeda. Bagi yang siap, bekerja lebih lama bisa menjadi pilihan yang menawarkan fleksibilitas dan kebebasan.

Sementara bagi yang lain, bekerja lebih lama mencerminkan tekanan keuangan yang dihadapi. "Merencanakan pensiun lebih awal dan secara menyeluruh adalah penentu realitas mana yang akan dijalani,” kata Albertus, melalui keterangan pers, dikutip Sabtu (14/2/2026).

Baca juga: Bank Aladin Syariah (BANK) Bidik Segmen Pensiunan Lewat Program Umrah

Dua Realitas Pensiun: Pilihan vs Kewajiban

Riset Sun Life membagi pekerja menjadi dua kategori: Gold Star Planners yang siap secara finansial, dan Stalled Starters yang menunda pensiun karena keterbatasan dana.

Bagi Gold Star Planners, melanjutkan bekerja adalah aspirasi yang dipilih sendiri, dipengaruhi tujuan hidup, identitas, dan kesejahteraan (60 persen).

Hampir setengah dari mereka (48 persen) menantikan masa pensiun karena merasa aman secara finansial. Sementara itu, 83 persen menikmati aspek sosial dari pekerjaan dan tetap aktif secara fisik atau mental.

Sebaliknya, Stalled Starters bekerja karena kebutuhan. Sebanyak 71 persen menyebut penghasilan tambahan diperlukan untuk biaya hidup sehari-hari, dan 43 persen menunda pensiun untuk menutup biaya pendidikan atau kebutuhan anak. Hanya 20 persen dari kelompok ini yang optimis tentang pensiunnya.

“Semakin banyak orang Indonesia yang umurnya lebih panjang. Namun, terlalu banyak yang masih tidak yakin apakah mereka bisa pensiun dengan nyaman," lanjut Albertus.

"Itulah mengapa peran institusi keuangan semakin penting: menyediakan panduan dan solusi yang mengubah ketidakpastian menjadi pemberdayaan,” tambah Albertus.

Baca juga: Sun Life Indonesia Salurkan Rp 1,19 Miliar untuk Pemulihan Banjir dan Longsor di Sumatera

AI dan Perencanaan Pensiun Mandiri

Penggunaan generative AI seperti ChatGPT dan Google Gemini meningkat lebih dari dua kali lipat, dari 13 persen menjadi 30 persen, sebagai sumber informasi perencanaan keuangan.

Di sisi lain, konsultasi dengan bank turun dari 40 persen menjadi 31 persen, dan penasihat keuangan independen turun dari 44 persen menjadi 31 persen.

Albertus mengatakan, AI bisa menjadi titik awal pencarian informasi dan sangat membantu, tetapi seringkali tidak memiliki konteks dan tingkat personalisasi yang dibutuhkan untuk mewujudkan keamanan finansial jangka panjang.

"Pelibatan nasihat dari ahli keuangan tetap penting agar keputusan yang diambil dapat ditopang oleh informasi yang akurat, seimbang, dan selaras dengan tujuan masing-masing individu,” ujar Albertus.

Halaman:


Terkini Lainnya
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau