Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - Perubahan komposisi demografi penumpang kini menggeser sumber utama pendapatan bandara di berbagai negara di dunia.
Jika sebelumnya generasi baby boomers mendominasi aktivitas konsumsi dan belanja di bandara, kini Gen Z dan milenial muncul sebagai pembelanja terbesar, dengan nilai belanja yang jauh melampaui generasi sebelumnya.
Dikutip dari Gulf News, Selasa (17/2/2026), temuan ini terungkap dalam studi terbaru Airports Council International (ACI) Asia-Pacific & Middle East yang menganalisis 36 bandara utama di 21 negara dan melibatkan survei terhadap 4.000 penumpang.
Baca juga: Pesawat Ditembak, 11 Bandara Perintis Papua Ditutup Sementara
Ilustrasi bandara, terminal bandara.Studi tersebut menunjukkan, ketika dibandingkan dengan baby boomers, Gen Z dan milenial membelanjakan hingga 3,5 kali lebih banyak di bandara, menandai perubahan fundamental dalam ekonomi bandara global.
Perubahan ini tidak hanya berdampak pada perilaku konsumsi, tetapi juga memaksa operator bandara, pengelola duty-free, dan merek ritel global untuk menyesuaikan strategi mereka guna menarik generasi muda yang kini menjadi penggerak utama pendapatan non-penerbangan.
Dalam laporan tersebut, milenial tercatat sebagai kelompok dengan pengeluaran tertinggi per penumpang, dengan indeks belanja sebesar 378.
Posisi ini diikuti oleh Gen Z dengan indeks 312, menempatkan kedua generasi ini sebagai kontributor utama pendapatan ritel bandara.
Baca juga: Reaktivasi Bandara Dumai, Sinyal Ekonomi Bergerak
Sebaliknya, generasi yang lebih tua, seperti Gen X dan baby boomers, menunjukkan tingkat pengeluaran yang relatif lebih rendah dan cenderung mempertahankan pola konsumsi tradisional.
Ilustrasi Bandara Incheon berencana menertibkan airport fashion para artis dan bintang K-Pop karena dianggap mengganggu keamanan dan kenyamanan.Direktur Jenderal ACI Asia-Pacific & Middle East Stefano Baronci mengatakan, perubahan ini mencerminkan pergeseran fundamental dalam cara generasi berbeda memandang bandara.
“Generasi muda jauh lebih peka terhadap nilai jual komersial bandara dibandingkan dengan para pelancong yang lebih tua,” kata Baronci.
Pernyataan ini menunjukkan generasi muda tidak lagi melihat bandara hanya sebagai tempat transit, tetapi sebagai bagian dari pengalaman konsumsi dan gaya hidup.
Baca juga: Bandara Pinang Kampai Aktif Lagi, Dumai Bidik Konektivitas
Preferensi konsumsi Gen Z dan milenial juga berbeda secara signifikan dibanding generasi sebelumnya. Kedua generasi ini lebih tertarik pada produk premium, termasuk barang mewah, parfum, kosmetik, dan elektronik.
Studi ACI menemukan, Gen Z empat kali lebih mungkin membeli elektronik dibanding baby boomers, serta 2,5 kali lebih mungkin membeli barang mewah.
Secara keseluruhan, kategori barang mewah serta parfum dan kosmetik menjadi dua kategori dengan penjualan tertinggi di bandara, sementara elektronik menempati posisi ketiga.
Ketiga kategori ini memberikan margin keuntungan tertinggi bagi operator bandara dan peritel.
Baca juga: Punya Pengendali Baru, Asri Karya Lestari Tbk (ASLI) Bidik Proyek Bandara hingga Logistik Nasional
Peningkatan pembelian elektronik juga mencerminkan perubahan perilaku konsumen modern.
Di kawasan Timur Tengah, misalnya, pengeluaran per penumpang untuk elektronik meningkat 14 persen dibandingkan periode sebelum pandemi, karena penumpang mencari produk eksklusif bandara dan harga yang lebih kompetitif dibanding pusat perbelanjaan di kota.
Perubahan ini menegaskan, bandara telah berkembang menjadi destinasi belanja yang kompetitif, bukan sekadar lokasi transit.
Sementara generasi muda mendominasi kategori premium dan teknologi, baby boomers tetap menjadi pembeli utama dalam kategori tradisional seperti alkohol dan produk makanan ringan.
Ilustrasi Bandara Internasional Muan di Korea Selatan.Baca juga: Hadapi Arus Mudik Lebaran 2026, InJourney Siapkan 37 Bandara
Studi ACI menunjukkan baby boomers 2,5 kali lebih mungkin membeli alkohol dibanding Gen Z, mencerminkan pola konsumsi yang lebih konservatif dan berbasis kebiasaan.