Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sihar P.H. Sitorus
Anggota DPR RI, Rektor Universitas Satya Negara Indonesia

Seorang politisi pecinta bola dan dunia usaha

Ada Apa dengan Angka Pertumbuhan Ekonomi Indonesia?

Kompas.com, 22 Februari 2026, 06:45 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia ditargetkan oleh pemerintah akan tembus 8 persen. Angka ini menjanjikan banyak hal, meskipun bagi banyak kalangan terlalu bombastis, agak jauh dari realitas indikator yang menyertai pertumbuhan ekonomi.

Boleh dan sah-sah saja bagi pemerintah jika ingin mematok target tinggi. Namun, kalau kata orang tua dulu, ‘jangan sampai lupa memijak bumi’.

Artinya angka pertumbuhan ekonomi haruslah didukung indikator dan variabel yang jelas, presisi dan konsisten sesuai dengan realitas yang sebenarnya.

Pemerintah Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming dalam konteks ekonomi makro, mereka mewarisi laju pertumbuhan yang terjadi pada periode sebelumnya.

Data awal dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2024 berada di sekitar 5,02 persen (year-on-year) dan pada kuartal I-2025 terpantau sekitar 4,87 persen.

Ini berarti ketika pemerintahan baru dimulai (akhir 2024), ekonomi Indonesia masih tumbuh stabil di kisaran ±5 persen secara tahunan.

Sepanjang tahun pertama pemerintahan Prabowo-Gibran, tren pertumbuhan naik tipis kembali menjadi sekitar 5,12 persen pada kuartal II-2025, menurut angka BPS yang dikutip dalam beberapa media dan analis ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 tercatat sebesar 5,11 persen (yoy), menurut data resmi BPS.

Baca juga: Koperasi Desa Merah Putih, Sentralisasi Fiskal, dan Pelanggaran Konstitusi

Pada 2026, pemerintah Indonesia menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen sebagaimana tertuang dalam Rancangan APBN 2026 yang telah disepakati bersama DPR dan menjadi jangkar utama kebijakan fiskal serta moneter sepanjang 1 Januari hingga 31 Desember 2026.

Target ini mencerminkan optimisme pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan di tengah berbagai tantangan struktural, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, dampak bencana, hingga keterbatasan ruang fiskal akibat defisit anggaran.

Di sisi lain, lembaga internasional seperti IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,1 persen, sedikit di bawah target pemerintah.

Meski terdapat pernyataan sejumlah pejabat dan pemberitaan media yang menyebut ambisi pertumbuhan hingga 6 persen, angka 5,4 persen merupakan asumsi makro resmi yang menjadi dasar perencanaan kebijakan ekonomi nasional tahun 2026.

Realitas di Balik Angka Pertumbuhan Ekonomi

Bagaimana memahami angka pertumbuhan ekonomi itu secara sederhana dan mudah dimengerti oleh masyarakat awam? Mari kita urai secara sederhana dengan menganalisis pendapatan per kapita Indonesia.

Pendapatan per kapita Indonesia tahun 2025 tercatat sekitar 5.000–5.300 dollar AS, jika dirupiahkan sekitar Rp 78 juta per tahun. Angka ini sering dikutip sebagai bukti bahwa ekonomi nasional berada di jalur yang tepat.

Di ruang-ruang publik, statistik tersebut tampil menenangkan, seolah menjadi jawaban atas berbagai keluhan ekonomi masyarakat.

Namun, pertanyaan paling mendasar justru jarang diajukan, pendapatan siapa yang membentuk angka tersebut, dan pengalaman ekonomi siapa yang sebenarnya tercermin di dalamnya?

Pendapatan per kapita bukan rata-rata pendapatan riil yang diterima warga negara. Ia adalah hasil pembagian total output ekonomi nasional dengan jumlah penduduk.

Di dalamnya bercampur pendapatan kelompok super kaya, kelas atas, kelas menengah, buruh formal, pekerja informal, petani kecil, hingga mereka yang tidak memiliki pekerjaan sama sekali. Secara aritmatika sah, tetapi secara sosial problematik.

Data distribusi pendapatan menunjukkan masalah itu dengan gamblang. World Inequality Report mencatat bahwa 50 persen penduduk terbawah hanya menguasai sekitar 13,7 persen total pendapatan nasional.

Sementara itu, 10 persen teratas menguasai lebih dari 46 persen, bahkan 1 persen teratas menguasai sekitar 17,6 persen.

Dalam struktur seperti ini, pendapatan kelompok atas secara otomatis “mengerek” rata-rata nasional. Mayoritas penduduk tidak hidup dengan Rp 78 juta per tahun, tetapi ikut menanggung ilusi statistiknya.

Kondisi ini melahirkan disonansi kognitif ekonomi di masyarakat. Di satu sisi, pemerintah menyampaikan kabar pertumbuhan dan stabilitas.

Di sisi lain, rumah tangga merasakan biaya hidup yang terus naik, pekerjaan makin tidak pasti, dan pendapatan stagnan. PDB naik, tetapi rasa sejahtera tidak ikut tumbuh.

Oleh karena itu, angka makro tidak lagi berfungsi sebagai cermin realitas, melainkan sebagai tirai yang menutupi banyak realitas sosial yang tidak lagi dapat dilihat secara jernih.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau