JAKARTA, KOMPAS.com - Harga Bitcoin (BTC) melonjak dan bertahan di atas level 72.000 dollar AS dalam 24 jam terakhir.
Mengutip CoinMarketCap, Kamis (5/3/2026) pukul 11.03 WIB, harga aset kripto terbesar di dunia itu menguat 6,96 persen ke level 72.495,75 dollar AS, setelah sebelumnya sempat bergerak di kisaran 67.800 dollar AS.
Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan bahwa investor telah mengalirkan hampir 700 juta dollar AS ke dalam exchange-traded fund (ETF) Bitcoin di Amerika Serikat sepanjang Maret ini.
Baca juga: Harga Bitcoin Bangkit ke 73.000 Dollar AS di Tengah Gejolak Timur Tengah
Ilustrasi bitcoin. Stabilisasi harga Bitcoin terjadi ketika pasar global mulai pulih, setelah sempat dilanda kekhawatiran akibat konflik antara Iran, Israel dan AS, di mana konflik ini berpotensi mengganggu perdagangan global dan meningkatkan tekanan inflasi.
Pada awal pekan ini, Bitcoin terlihat relatif lebih stabil dibandingkan sejumlah aset lain yang mengalami aksi jual besar-besaran ketika pasar kembali dibuka sesudah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan lalu.
Namun pada Kamis, pasar saham mulai menunjukkan pemulihan.
Indeks Kospi Korea Selatan melonjak 11 persen, sementara indeks Nikkei 225 Jepang menguat 4,2 persen.
Baca juga: Konflik Timur Tengah Picu Volatilitas Bitcoin, Investor Perlu Kelola Risiko
CEO bursa kripto OKX SG, Gracie Lin, mengatakan ketidakpastian makroekonomi dan meningkatnya konflik di Timur Tengah membuat pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kondisi keuangan yang lebih longgar.
“Ketika ekspektasi likuiditas berubah, Bitcoin biasanya merespons secara lebih kuat. Itu menjelaskan mengapa kita melihat penguatan harga pada level ini,” ujar Lin.
Ilustrasi kripto. Sementara itu, salah satu pendiri hedge fund DACM, Richard Galvin, menilai premium harga Bitcoin di platform Coinbase, yang sebelumnya berada pada posisi diskon pada Minggu, menjadi sinyal bahwa sentimen bullish mulai kembali muncul di pasar Amerika Serikat.
Dalam beberapa hari terakhir, Bitcoin bahkan mampu mengungguli kinerja emas yang sering dibandingkan dengan aset kripto tersebut.
Baca juga: Bitcoin Tembus Rp 1,14 Miliar, Reli di Tengah Bayang Perang Timur Tengah
Sejak Jumat, sehari sebelum serangan terjadi, harga emas tercatat turun hampir 2 persen, sementara Bitcoin justru naik hampir 12 persen dalam periode yang sama.
Padahal dalam beberapa bulan terakhir tren yang terjadi justru sebaliknya, di mana harga emas berulang kali mencetak rekor tertinggi, sementara Bitcoin mengalami penurunan.
Reli kripto sendiri sempat terhenti setelah aksi jual besar pada Oktober lalu, tidak lama setelah Bitcoin mencapai rekor harga di atas 126.000 dollar AS.
Sejak saat itu, nilai Bitcoin telah turun lebih dari 40 persen.
Baca juga: Harga Minyak Naik Imbas Perang Iran-Israel, Bitcoin Terseret atau Jadi Pelarian Baru Investor?