JAKARTA, KOMPAS.com - Memanasnya konflik Israel, Amerika Serikat (AS) dengan Iran memicu gejolak di pasar kripto global.
Harga Bitcoin (BTC) sempat melemah ke kisaran 63.000 hingga 64.000 dollar AS.
Namun, tekanan tersebut tidak berkembang menjadi tren penurunan yang berkepanjangan.
Baca juga: Bitcoin Melonjak Hampir 7 Persen, Harga Bertahan di Atas 72.000 Dollar AS
Ilustrasi aset kripto Bitcoin.CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai pasar justru menunjukkan adanya permintaan yang cukup kuat untuk menahan penurunan harga Bitcoin.
Menurutnya, setiap kali konflik geopolitik memanas, pasar global biasanya memasuki fase risk-off, di mana investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Dalam kondisi tersebut, investor global biasanya menarik dana dari aset yang dianggap berisiko tinggi.
Hal itu membuat harga BTC mengalami koreksi cepat ketika ketegangan geopolitik meningkat.
Baca juga: Harga Bitcoin Bangkit ke 73.000 Dollar AS di Tengah Gejolak Timur Tengah
“Saat konflik Timur Tengah memanas, terutama yang melibatkan Iran dan AS, pasar kripto seperti Bitcoin umumnya bereaksi dengan volatilitas jangka pendek. Polanya sering dimulai dari sentimen risk-off di pasar global, pelaku pasar mengurangi eksposur pada aset berisiko, sehingga BTC bisa terkoreksi cepat,” ujar Calvin saat dihubungi Kompas.com, Kamis (5/3/2026).
“Dalam situasi terbaru BTC sempat melemah ke area sekitar 63.000-64.000 dollar AS ketika ketegangan meningkat dan pasar ikut gelisah,” paparnya.
Meski demikian, Calvin menilai penurunan tersebut tidak secara otomatis berkembang menjadi tren turun jangka panjang.
Sebaliknya, pasar justru menunjukkan adanya pembeli yang aktif menyerap penurunan harga melalui strategi buy the dip.
Ilustrasi bitcoin. Baca juga: Konflik Timur Tengah Picu Volatilitas Bitcoin, Investor Perlu Kelola Risiko
“Namun yang menarik adalah penurunan tersebut tidak otomatis berlanjut menjadi tren turun panjang. BTC justru terlihat bertahan dan memantul karena ada pembeli yang aktif menyerap penurunan (buy the dip),” beber Calvin.
Itu menandakan bahwa di level tertentu, permintaan riil di pasar spot cukup kuat untuk menahan tekanan jual.
Dengan kata lain, meski headline geopolitik memicu kepanikan sesaat, ada lapisan demand yang membuat BTC tetap bergerak dalam kisaran alih-alih jatuh bebas.
Lebih jauh, ia menilai kondisi pasar kripto saat ini berbeda dibandingkan periode sebelumnya, terutama karena semakin besarnya peran investor institusional melalui ETF Bitcoin spot.
Baca juga: Pasar Kripto Bergejolak, Bitcoin Tertahan di 68.600 Dollar AS