Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

CEO Tokocrypto: Gejolak Geopolitik Tekan Bitcoin, Investor Tetap "Buy the Dip"

Kompas.com, 5 Maret 2026, 13:33 WIB
Suparjo Ramalan ,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Memanasnya konflik Israel, Amerika Serikat (AS) dengan Iran memicu gejolak di pasar kripto global.

Harga Bitcoin (BTC) sempat melemah ke kisaran 63.000 hingga 64.000 dollar AS.

Namun, tekanan tersebut tidak berkembang menjadi tren penurunan yang berkepanjangan.

Baca juga: Bitcoin Melonjak Hampir 7 Persen, Harga Bertahan di Atas 72.000 Dollar AS

Ilustrasi aset kripto Bitcoin.Unsplash/kanchanara Ilustrasi aset kripto Bitcoin.

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai pasar justru menunjukkan adanya permintaan yang cukup kuat untuk menahan penurunan harga Bitcoin.

Menurutnya, setiap kali konflik geopolitik memanas, pasar global biasanya memasuki fase risk-off, di mana investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Dalam kondisi tersebut, investor global biasanya menarik dana dari aset yang dianggap berisiko tinggi.

Hal itu membuat harga BTC mengalami koreksi cepat ketika ketegangan geopolitik meningkat.

Baca juga: Harga Bitcoin Bangkit ke 73.000 Dollar AS di Tengah Gejolak Timur Tengah

“Saat konflik Timur Tengah memanas, terutama yang melibatkan Iran dan AS, pasar kripto seperti Bitcoin umumnya bereaksi dengan volatilitas jangka pendek. Polanya sering dimulai dari sentimen risk-off di pasar global, pelaku pasar mengurangi eksposur pada aset berisiko, sehingga BTC bisa terkoreksi cepat,” ujar Calvin saat dihubungi Kompas.com, Kamis (5/3/2026).

“Dalam situasi terbaru BTC sempat melemah ke area sekitar 63.000-64.000 dollar AS ketika ketegangan meningkat dan pasar ikut gelisah,” paparnya.

Meski demikian, Calvin menilai penurunan tersebut tidak secara otomatis berkembang menjadi tren turun jangka panjang.

Sebaliknya, pasar justru menunjukkan adanya pembeli yang aktif menyerap penurunan harga melalui strategi buy the dip.

Ilustrasi bitcoin. WIKIMEDIA COMMONS/JORGE FRANGANILLO Ilustrasi bitcoin.

Baca juga: Konflik Timur Tengah Picu Volatilitas Bitcoin, Investor Perlu Kelola Risiko

“Namun yang menarik adalah penurunan tersebut tidak otomatis berlanjut menjadi tren turun panjang. BTC justru terlihat bertahan dan memantul karena ada pembeli yang aktif menyerap penurunan (buy the dip),” beber Calvin.

Itu menandakan bahwa di level tertentu, permintaan riil di pasar spot cukup kuat untuk menahan tekanan jual.

Dengan kata lain, meski headline geopolitik memicu kepanikan sesaat, ada lapisan demand yang membuat BTC tetap bergerak dalam kisaran alih-alih jatuh bebas.

Lebih jauh, ia menilai kondisi pasar kripto saat ini berbeda dibandingkan periode sebelumnya, terutama karena semakin besarnya peran investor institusional melalui ETF Bitcoin spot.

Baca juga: Pasar Kripto Bergejolak, Bitcoin Tertahan di 68.600 Dollar AS

Halaman:


Terkini Lainnya
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau