JAKARTA, KOMPAS.com - Penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) dan Bonus Hari Raya (BHR) pada 2026 diperkirakan memberi dorongan bagi pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini.
Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia Tbk Banjaran Surya Indrastomo menilai pencairan THR untuk aparatur sipil negara dan pekerja swasta, serta bonus bagi pengemudi ojek online memberi tambahan likuiditas besar di masyarakat menjelang Lebaran.
Pemerintah menyiapkan anggaran THR aparatur sipil negara sekitar Rp 55 triliun. THR pekerja swasta diperkirakan mencapai Rp 124 triliun. Sementara bonus hari raya bagi pengemudi ojek online diperkirakan sekitar Rp 220 miliar.
Total dana yang mengalir ke masyarakat dari tiga komponen tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp 179,22 triliun.
"Kami memperkirakan multiplier effect dari penyaluran THR dan BHR akan meningkatkan 0,3 hingga 0,8 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026," ujar Banjaran kepada Kompas.com, Jumat (6/3/2026).
Baca juga: Purbaya Terbitkan PMK THR 2026 dan Gaji ke-13 ASN, TNI, dan Polri
Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 berada pada kisaran 5,45 persen hingga 5,5 persen.
Menurut Banjaran, stabilitas harga terutama pada komoditas pangan tetap penting untuk memastikan dampak stimulus tersebut optimal. Harga pangan memang cenderung naik selama Ramadhan, tetapi masih berada pada tingkat yang relatif terkendali.
"Oleh karena itu, penting untuk tetap mencermati perkembangan inflasi agar stimulus yang diberikan benar-benar efektif memberikan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi nasional," katanya.
Baca juga: Cara Kelola THR 2026 dengan Bijak, Apa Saja Tipsnya?
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai efek kenaikan THR tetap penting meskipun bersifat musiman.
Menurut dia, kenaikan THR tetap tergerus oleh inflasi yang relatif lebih tinggi pada periode Ramadhan tahun ini. Inflasi umum pada Februari 2026 tercatat 4,76 persen secara tahunan (year on year), sedangkan inflasi pangan bergejolak (volatile food) sekitar 4 persen.
"Artinya kenaikan THR tetap tergerus oleh inflasi yang relatif lebih tinggi dari momentum lebaran sebelumnya," ujar Bhima.
Ia juga menyoroti potensi kenaikan inflasi energi setelah Lebaran seiring ketegangan geopolitik global.
"Kita tidak tahu kapan gangguan distribusi minyak dunia berakhir. Tapi pasca Lebaran, pengeluaran BBM berisiko naik, berbarengan dengan momen tahun ajaran baru," kata Bhima.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya