Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menhub: Impor Avtur Masih Tinggi, Konflik Timur Tengah Bisa Pengaruhi Penerbangan RI

Kompas.com, 7 Maret 2026, 13:56 WIB
Kiki Safitri,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengungkapkan ketergantungan Indonesia terhadap impor avtur masih sangat tinggi, sehingga rentan terdampak dinamika geopolitik global, khususnya konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Menurut Dudy, avtur menjadi salah satu komponen biaya terbesar dalam industri penerbangan nasional.

Kondisi tersebut membuat sektor penerbangan sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi di pasar global.

Baca juga: Pertamina Proyeksi Konsumsi Avtur Naik 3 Persen saat Lebaran 2026

Ilustrasi pesawat.PIXABAY/DOMINIC WUNDERLICH Ilustrasi pesawat.

“Avtur kita sangat tergantung dengan impor, jadi kalau seperti sekarang misalnya yang jadi krisis di Timur Tengah itu berpengaruh, bahkan kita akan langsung terasa terdampak. Alhamdulillah sampai Lebaran nanti cadangan avtur kita masih cukup,” kata Dudy di Jakarta, Jumat (6/3/2026).

Ia menjelaskan, biaya bahan bakar menyumbang porsi besar dalam struktur biaya maskapai penerbangan, bahkan mencapai sekitar 27 persen dari total biaya operasional.

“Dari komponen biaya itu avtur memakan sekitar 27,6 persen. Jadi cukup tinggi dan sangat volatile, sangat tergantung dengan kondisi global,” ujarnya.

Selain avtur, biaya perawatan pesawat juga menjadi komponen besar lainnya dalam industri penerbangan.

Baca juga: Dari Jelantah ke Avtur, Upaya Warga Dorong Ekonomi Sirkular

Dudy menyebutkan sebagian besar suku cadang pesawat masih bergantung pada produk luar negeri sehingga turut memengaruhi biaya operasional maskapai.

Maintenance itu sekitar 20 persen dari total biaya. Sebagian besar sparepart kita juga masih impor, jadi kita sangat terpengaruh oleh kondisi luar,” jelasnya.

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi usai Rapat Kerja (Raker) dengan seluruh mitra kerja Komisi V DPR RI, Jakarta, Selasa (27/1/2026).Kompas.com/Suhaiela Bahfein Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi usai Rapat Kerja (Raker) dengan seluruh mitra kerja Komisi V DPR RI, Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Karena itu, ia menilai krisis global yang terjadi saat ini menjadi pelajaran penting bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi dan meningkatkan kemandirian dalam penyediaan kebutuhan strategis, termasuk bahan bakar penerbangan.

“Yang kita pikirkan ke depan bukan hanya mencari tiket murah, tapi bagaimana kita bisa menyediakan kebutuhan energi kita sendiri sehingga tidak terlalu bergantung pada pihak luar,” ujar Dudy.

Baca juga: Tak Hanya BBM, Kilang Balongan Jadi Andalan Distribusi Avtur hingga Elpiji

Ia juga menambahkan bahwa pemerintah, termasuk Presiden, telah membahas pentingnya memperkuat ketahanan energi nasional agar dampak konflik global tidak terlalu besar terhadap perekonomian dalam negeri.

“Konflik-konflik di luar itu sangat memengaruhi kita. Ini mengajarkan bahwa kita memang harus punya ketahanan, termasuk ketahanan energi,” tegasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau