JAKARTA, KOMPAS.com - Pergerakan harga komoditas global mulai dari emas dunia, minyak mentah hingga penguatan indeks dollar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam waktu dekat.
Bahkan, rupiah berpotensi melemah menembus level psikologis Rp 17.150-Rp 17.200 per dollar AS.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan harga emas dunia pada Jumat (13/3/2026) pagi tercatat ditutup di level 5.021 dollar AS per troy ounce, berdasarkan harga di pasar spot. Sementara itu, harga emas logam mulia di pasar domestik berada di kisaran Rp 2.997.000 per gram.
Menurutnya, apabila terjadi koreksi, harga emas dunia diperkirakan menguji level support pertama di 4.973 dollar AS per troy ounce dengan harga logam mulia Rp 2.972.000 per gram.
Bila terjadi koreksi, kembali di support kedua, yaitu 4.922 dollar AS per tray ounce, logam mulianya di Rp 2.920.000 per gram.
“Kemudian seandainya terkoreksi, support pertama itu di 4.973 dollar AS per tray ounce, logam mulianya itu di Rp 2.972.000 per gram. Kalau seandainya terjadi koreksi, kembali di support kedua, yaitu di 4.922 dollar AS per tray ounce, logam mulianya di Rp 2.920.000 per gram,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Minggu (15/3/2026).
Baca juga: Rupiah Diperkirakan Masih Tertekan, Berpotensi Melemah ke Rp 17.020 per Dollar AS
Sebaliknya, jika harga emas kembali menguat, level resistensi pertama diperkirakan berada di 5.078 dollar AS per troy ounce.
Bahkan, dalam sepekan ke depan, harga emas dunia bahkan berpotensi bergerak menuju level 5.158 dollar AS per troy ounce, dengan harga logam mulia domestik diperkirakan menembus kisaran Rp 3,1 juta per gram.
Namun demikian, Ibrahim menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang belakangan meningkat belum sepenuhnya mendorong kenaikan harga emas secara signifikan. Itu karena pelaku pasar global lebih mengalihkan perhatian pada pergerakan harga minyak mentah dan penguatan indeks dollar AS.
Meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama terkait potensi konflik di Selat Hormuz, justru lebih berdampak pada kenaikan harga energi global.
Saat ini harga minyak dunia kembali melonjak pada akhir perdagangan pekan ini. Dikutip dari Reuters, kontrak minyak mentah Brent crude untuk pengiriman Mei ditutup di level 103,14 dollar AS per barel, atau naik 2,68 dollar AS setara 2,67 persen.
Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April juga menguat dan ditutup di 98,71 dollar AS per barel, naik 2,98 dollar AS atau 3,11 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Baca juga: Purbaya Bantah Rupiah Hancur, Depresiasi Hanya 0,3 Persen
Kenaikan harga minyak terjadi setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan akibat laporan yang keliru mengenai aktivitas kapal tanker di kawasan Selat Hormuz. Laporan awal menyebut sebuah kapal tanker berbendera India berhasil melintasi Selat Hormuz, yang sempat memicu optimisme pasar terkait kelancaran distribusi minyak di kawasan tersebut.
Namun belakangan diketahui kapal tanker tersebut berlayar dari Oman dan tidak melewati Selat Hormuz. Informasi tersebut mendorong harga minyak kembali naik menjelang pertengahan perdagangan pada Jumat. Secara mingguan, harga minyak dunia juga menunjukkan penguatan yang signifikan.
Harga Brent tercatat telah naik 11,27 persen dibandingkan posisi penutupan pada 6 Maret, sementara harga WTI meningkat sekitar 8 persen dibandingkan sepekan sebelumnya.