Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Minyak Naik, Emas Melemah, Dollar Perkasa, Rupiah Bisa Tembus Rp 17.200

Kompas.com, 15 Maret 2026, 15:20 WIB
Suparjo Ramalan ,
Teuku Muhammad Valdy Arief

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pergerakan harga komoditas global mulai dari emas dunia, minyak mentah hingga penguatan indeks dollar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam waktu dekat.

Bahkan, rupiah berpotensi melemah menembus level psikologis Rp 17.150-Rp 17.200 per dollar AS.

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan harga emas dunia pada Jumat (13/3/2026) pagi tercatat ditutup di level 5.021 dollar AS per troy ounce, berdasarkan harga di pasar spot. Sementara itu, harga emas logam mulia di pasar domestik berada di kisaran Rp 2.997.000 per gram.

Menurutnya, apabila terjadi koreksi, harga emas dunia diperkirakan menguji level support pertama di 4.973 dollar AS per troy ounce dengan harga logam mulia Rp 2.972.000 per gram.

Bila terjadi koreksi, kembali di support kedua, yaitu 4.922 dollar AS per tray ounce, logam mulianya di Rp 2.920.000 per gram.

“Kemudian seandainya terkoreksi, support pertama itu di 4.973 dollar AS per tray ounce, logam mulianya itu di Rp 2.972.000 per gram. Kalau seandainya terjadi koreksi, kembali di support kedua, yaitu di 4.922 dollar AS per tray ounce, logam mulianya di Rp 2.920.000 per gram,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Minggu (15/3/2026).

Baca juga: Rupiah Diperkirakan Masih Tertekan, Berpotensi Melemah ke Rp 17.020 per Dollar AS

Sebaliknya, jika harga emas kembali menguat, level resistensi pertama diperkirakan berada di 5.078 dollar AS per troy ounce.

Bahkan, dalam sepekan ke depan, harga emas dunia bahkan berpotensi bergerak menuju level 5.158 dollar AS per troy ounce, dengan harga logam mulia domestik diperkirakan menembus kisaran Rp 3,1 juta per gram.

Namun demikian, Ibrahim menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang belakangan meningkat belum sepenuhnya mendorong kenaikan harga emas secara signifikan. Itu karena pelaku pasar global lebih mengalihkan perhatian pada pergerakan harga minyak mentah dan penguatan indeks dollar AS.

Meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama terkait potensi konflik di Selat Hormuz, justru lebih berdampak pada kenaikan harga energi global.

Saat ini harga minyak dunia kembali melonjak pada akhir perdagangan pekan ini. Dikutip dari Reuters, kontrak minyak mentah Brent crude untuk pengiriman Mei ditutup di level 103,14 dollar AS per barel, atau naik 2,68 dollar AS setara 2,67 persen.

Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April juga menguat dan ditutup di 98,71 dollar AS per barel, naik 2,98 dollar AS atau 3,11 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Baca juga: Purbaya Bantah Rupiah Hancur, Depresiasi Hanya 0,3 Persen

Kenaikan harga minyak terjadi setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan akibat laporan yang keliru mengenai aktivitas kapal tanker di kawasan Selat Hormuz. Laporan awal menyebut sebuah kapal tanker berbendera India berhasil melintasi Selat Hormuz, yang sempat memicu optimisme pasar terkait kelancaran distribusi minyak di kawasan tersebut.

Namun belakangan diketahui kapal tanker tersebut berlayar dari Oman dan tidak melewati Selat Hormuz. Informasi tersebut mendorong harga minyak kembali naik menjelang pertengahan perdagangan pada Jumat. Secara mingguan, harga minyak dunia juga menunjukkan penguatan yang signifikan.

Harga Brent tercatat telah naik 11,27 persen dibandingkan posisi penutupan pada 6 Maret, sementara harga WTI meningkat sekitar 8 persen dibandingkan sepekan sebelumnya.

Halaman:


Terkini Lainnya
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau