Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

IHSG Diprediksi Masih Volatil Jelang Lebaran, 4 Saham Jadi Sorotan Analis

Kompas.com, 16 Maret 2026, 06:22 WIB
Suparjo Ramalan ,
Teuku Muhammad Valdy Arief

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Pergerakan pasar saham Indonesia diperkirakan masih bergejolak menjelang libur panjang Lebaran 2026. Kondisi tersebut membuat investor perlu lebih selektif memilih saham untuk perdagangan jangka pendek.

Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjelang Lebaran tidak hanya dipengaruhi faktor global seperti harga minyak dunia dan arah kebijakan suku bunga.

Pasar domestik juga memiliki dinamika khas. Kebutuhan likuiditas masyarakat biasanya meningkat menjelang Lebaran.

Baca juga: IHSG Diproyeksi Masih Volatil, Level 7.000 Jadi Area Krusial Pasar

Sebagian investor ritel menarik dana dari pasar saham untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, biaya mudik, serta pengeluaran rumah tangga lain. Fenomena tersebut kerap muncul setiap tahun menjelang libur Lebaran.

“Fenomena ini secara historis memang dapat memberikan tekanan tambahan terhadap pasar, terutama karena investor ritel merupakan salah satu kontributor likuiditas yang cukup aktif di pasar saham domestik,” ujar Hendra saat dihubungi Kompas.com, Minggu malam (15/3/2026).

Meski demikian, pengaruh kebutuhan uang tunai masyarakat terhadap IHSG tidak selalu dominan. Struktur pasar saham Indonesia masih didominasi transaksi investor institusi besar.

Investor institusi domestik maupun asing memiliki porsi transaksi jauh lebih besar dibanding investor ritel. Kondisi ini membuat pergerakan indeks lebih banyak ditentukan investor besar.

Tekanan dari aksi jual ritel biasanya lebih terasa pada saham lapis kedua dan ketiga. Saham pada kelompok tersebut memiliki likuiditas lebih kecil.

Saham berkapitalisasi besar cenderung lebih stabil. Likuiditasnya tetap didominasi transaksi investor institusi.

“Faktor kebutuhan cash masyarakat memang bisa memperbesar volatilitas jangka pendek, tetapi kontribusinya terhadap penurunan IHSG biasanya hanya menjadi sentimen tambahan yang memperkuat tekanan pasar yang sudah ada,” paparnya.

Baca juga: Perang Iran Masuk Minggu Ketiga, Harga Minyak Diprediksi Terus Melonjak

Faktor global saat ini dinilai menjadi penggerak utama pasar. Harga minyak dunia kembali melonjak dan menembus level di atas 100 dollar AS per barrel.

Lonjakan tersebut dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pasar mulai khawatir terhadap potensi lonjakan inflasi energi.

Kenaikan harga energi memunculkan ekspektasi baru terhadap kebijakan moneter global. Pasar mulai memperkirakan bank sentral dunia menunda pelonggaran kebijakan suku bunga.

Ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve atau The Fed ikut berubah. Sebelumnya pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga berlangsung cukup agresif tahun ini.

Ekspektasi tersebut kini mulai berkurang. Kondisi ini membuat arus dana global menjadi lebih berhati-hati terhadap aset berisiko.

Saham di pasar negara berkembang ikut terdampak. Pasar saham Indonesia termasuk dalam kategori tersebut.

Halaman:


Terkini Lainnya
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau