JAKARTA, KOMPAS.com — Pergerakan pasar saham Indonesia diperkirakan masih bergejolak menjelang libur panjang Lebaran 2026. Kondisi tersebut membuat investor perlu lebih selektif memilih saham untuk perdagangan jangka pendek.
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjelang Lebaran tidak hanya dipengaruhi faktor global seperti harga minyak dunia dan arah kebijakan suku bunga.
Pasar domestik juga memiliki dinamika khas. Kebutuhan likuiditas masyarakat biasanya meningkat menjelang Lebaran.
Baca juga: IHSG Diproyeksi Masih Volatil, Level 7.000 Jadi Area Krusial Pasar
Sebagian investor ritel menarik dana dari pasar saham untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, biaya mudik, serta pengeluaran rumah tangga lain. Fenomena tersebut kerap muncul setiap tahun menjelang libur Lebaran.
“Fenomena ini secara historis memang dapat memberikan tekanan tambahan terhadap pasar, terutama karena investor ritel merupakan salah satu kontributor likuiditas yang cukup aktif di pasar saham domestik,” ujar Hendra saat dihubungi Kompas.com, Minggu malam (15/3/2026).
Meski demikian, pengaruh kebutuhan uang tunai masyarakat terhadap IHSG tidak selalu dominan. Struktur pasar saham Indonesia masih didominasi transaksi investor institusi besar.
Investor institusi domestik maupun asing memiliki porsi transaksi jauh lebih besar dibanding investor ritel. Kondisi ini membuat pergerakan indeks lebih banyak ditentukan investor besar.
Tekanan dari aksi jual ritel biasanya lebih terasa pada saham lapis kedua dan ketiga. Saham pada kelompok tersebut memiliki likuiditas lebih kecil.
Saham berkapitalisasi besar cenderung lebih stabil. Likuiditasnya tetap didominasi transaksi investor institusi.
“Faktor kebutuhan cash masyarakat memang bisa memperbesar volatilitas jangka pendek, tetapi kontribusinya terhadap penurunan IHSG biasanya hanya menjadi sentimen tambahan yang memperkuat tekanan pasar yang sudah ada,” paparnya.
Baca juga: Perang Iran Masuk Minggu Ketiga, Harga Minyak Diprediksi Terus Melonjak
Faktor global saat ini dinilai menjadi penggerak utama pasar. Harga minyak dunia kembali melonjak dan menembus level di atas 100 dollar AS per barrel.
Lonjakan tersebut dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pasar mulai khawatir terhadap potensi lonjakan inflasi energi.
Kenaikan harga energi memunculkan ekspektasi baru terhadap kebijakan moneter global. Pasar mulai memperkirakan bank sentral dunia menunda pelonggaran kebijakan suku bunga.
Ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve atau The Fed ikut berubah. Sebelumnya pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga berlangsung cukup agresif tahun ini.
Ekspektasi tersebut kini mulai berkurang. Kondisi ini membuat arus dana global menjadi lebih berhati-hati terhadap aset berisiko.
Saham di pasar negara berkembang ikut terdampak. Pasar saham Indonesia termasuk dalam kategori tersebut.