NEW YORK, KOMPAS.com - Harga emas dunia melemah pada akhir perdagangan Senin (16/3/2026) waktu setempat atau Selasa (17/3/2026) pagi WIB, di tengah kekhawatiran meningkatnya inflasi akibat konflik di Timur Tengah yang berpotensi membuat suku bunga tetap tinggi.
Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot turun tipis 0,5 persen menjadi 4.993,42 dollar AS per ons, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 19 Februari di awal sesi perdagangan.
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April melemah 1,2 persen ke level 5.002,20 dollar AS per ons.
Pelemahan harga emas terjadi meskipun nilai tukar dollar AS melemah dari posisi tertinggi dalam 10 bulan terakhir. Kondisi melemahnya dollar AS biasanya membuat emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, dan meningkatkan minat pada logam kuning tersebut.
Namun, kekhawatiran bahwa lonjakan harga minyak akibat perang di Timur Tengah akan memicu inflasi dan membuat bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), menahan suku bunga tetap tinggi, menekan minat terhadap emas.
"Dengan harga minyak yang lebih tinggi, inflasi juga akan meningkat. Jika inflasi naik, bank sentral tidak akan seantusias enam bulan lalu untuk memangkas suku bunga, dan itu menjadi sentimen negatif bagi harga emas," ujar ahli strategi pasar senior RJO Futures, Bob Haberkorn.
Baca juga: Harga Emas Dunia Tertahan di 5.017 Dollar AS per Ons
Meski demikian, ia menilai prospek emas dalam jangka panjang masih cukup kuat di tengah ketidakpastian global.
"Tapi saya masih sangat optimistis terhadap emas mengingat apa yang terjadi di seluruh dunia. Banyak dana masih menunggu di luar pasar untuk masuk, dan saya masih memperkirakan harga emas bisa mencapai 6.000 dollar AS per ons," imbuh Haberkorn.
Emas biasanya dipandang sebagai aset safe haven atau lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Namun dalam kondisi suku bunga tinggi, daya tarik emas cenderung berkurang karena investor lebih memilih aset yang memberikan imbal hasil.
Sementara itu, harga minyak memang turun pada perdagangan Senin, namun secara keseluruhan masih naik lebih dari 60 persen sepanjang tahun ini.
Kenaikan harga energi tersebut terjadi di tengah konflik antara AS dan Israel melawan Iran yang telah memasuki pekan ketiga tanpa tanda-tanda akan segera berakhir.
Baca juga: Harga Emas Dunia Turun Lagi, Pasar Dibayangi Dollar AS dan Suku Bunga Tinggi
Konflik tersebut juga menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Di sisi lain, pelaku pasar juga tengah menantikan sejumlah data dan agenda penting dari AS pada pekan ini, termasuk data Indeks Harga Produsen (PPI), keputusan kebijakan suku bunga The Fed, pidato Ketua The Fed Jerome Powell, serta data klaim pengangguran mingguan.
The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam pertemuan yang berlangsung pada Selasa hingga Rabu waktu setempat.
Adapun untuk logam mulia lainnya, harga perak di pasar spot relatif stabil di level 80,52 dollar AS per ons. Harga platinum menguat 3,9 persen menjadi 2.103,42 dollar AS per ons, sedangkan palladium naik 3,1 persen ke level 1.598,80 dollar AS per ons.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang