Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Emas Dunia Turun Tipis, Tertekan Kekhawatiran Inflasi Imbas Konflik Timur Tengah

Kompas.com, 17 Maret 2026, 08:13 WIB
Yohana Artha Uly,
Aprillia Ika

Tim Redaksi

Sumber Reuters

NEW YORK, KOMPAS.com - Harga emas dunia melemah pada akhir perdagangan Senin (16/3/2026) waktu setempat atau Selasa (17/3/2026) pagi WIB, di tengah kekhawatiran meningkatnya inflasi akibat konflik di Timur Tengah yang berpotensi membuat suku bunga tetap tinggi.

Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot turun tipis 0,5 persen menjadi 4.993,42 dollar AS per ons, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 19 Februari di awal sesi perdagangan.

Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April melemah 1,2 persen ke level 5.002,20 dollar AS per ons.

Pelemahan harga emas terjadi meskipun nilai tukar dollar AS melemah dari posisi tertinggi dalam 10 bulan terakhir. Kondisi melemahnya dollar AS biasanya membuat emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, dan meningkatkan minat pada logam kuning tersebut.

Namun, kekhawatiran bahwa lonjakan harga minyak akibat perang di Timur Tengah akan memicu inflasi dan membuat bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), menahan suku bunga tetap tinggi, menekan minat terhadap emas.

"Dengan harga minyak yang lebih tinggi, inflasi juga akan meningkat. Jika inflasi naik, bank sentral tidak akan seantusias enam bulan lalu untuk memangkas suku bunga, dan itu menjadi sentimen negatif bagi harga emas," ujar ahli strategi pasar senior RJO Futures, Bob Haberkorn.

Baca juga: Harga Emas Dunia Tertahan di 5.017 Dollar AS per Ons

Meski demikian, ia menilai prospek emas dalam jangka panjang masih cukup kuat di tengah ketidakpastian global.

"Tapi saya masih sangat optimistis terhadap emas mengingat apa yang terjadi di seluruh dunia. Banyak dana masih menunggu di luar pasar untuk masuk, dan saya masih memperkirakan harga emas bisa mencapai 6.000 dollar AS per ons," imbuh Haberkorn.

Emas biasanya dipandang sebagai aset safe haven atau lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Namun dalam kondisi suku bunga tinggi, daya tarik emas cenderung berkurang karena investor lebih memilih aset yang memberikan imbal hasil.

Sementara itu, harga minyak memang turun pada perdagangan Senin, namun secara keseluruhan masih naik lebih dari 60 persen sepanjang tahun ini.

Kenaikan harga energi tersebut terjadi di tengah konflik antara AS dan Israel melawan Iran yang telah memasuki pekan ketiga tanpa tanda-tanda akan segera berakhir.

Baca juga: Harga Emas Dunia Turun Lagi, Pasar Dibayangi Dollar AS dan Suku Bunga Tinggi

Konflik tersebut juga menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Di sisi lain, pelaku pasar juga tengah menantikan sejumlah data dan agenda penting dari AS pada pekan ini, termasuk data Indeks Harga Produsen (PPI), keputusan kebijakan suku bunga The Fed, pidato Ketua The Fed Jerome Powell, serta data klaim pengangguran mingguan.

The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam pertemuan yang berlangsung pada Selasa hingga Rabu waktu setempat.

Adapun untuk logam mulia lainnya, harga perak di pasar spot relatif stabil di level 80,52 dollar AS per ons. Harga platinum menguat 3,9 persen menjadi 2.103,42 dollar AS per ons, sedangkan palladium naik 3,1 persen ke level 1.598,80 dollar AS per ons.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau