Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bitcoin Tembus 75.600 Dollar AS di Tengah Perang Timur Tengah, Kripto Jadi Safe Haven?

Kompas.com, 17 Maret 2026, 16:30 WIB
Suparjo Ramalan ,
Teuku Muhammad Valdy Arief

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Pasar kripto menunjukkan penguatan di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Harga Bitcoin tercatat menembus 75.600 dollar AS pada Selasa (17/3/2026) pagi. Level tersebut menjadi yang tertinggi dalam satu bulan terakhir.

Ethereum juga menguat lebih signifikan dengan sempat melampaui 2.350 dollar AS.

Analis Reku Fahmi Almuttaqin menilai pergerakan tersebut mencerminkan perubahan persepsi investor terhadap aset kripto.

Dalam beberapa pekan terakhir, pergerakan Bitcoin menunjukkan pola tertentu terhadap harga minyak.

Ketika harga minyak turun, Bitcoin cenderung naik. Pola sebaliknya juga terjadi saat harga minyak meningkat.

Kondisi ini membuat meredanya ketegangan di Selat Hormuz berpotensi memberi sentimen positif bagi kripto.

“Namun, ada narasi lain yang tak kalah menarik yaitu aset kripto sebagai crisis hedge," ujar Fahmi.

Baca juga: Harga Minyak Tembus 110 Dollar AS, Bitcoin (BTC) Ikut Bergejolak

Kripto sebagai Crisis Hedge: Narasi Baru yang Mulai Terbentuk

Fahmi menjelaskan gangguan pada pasokan minyak global dapat mengguncang kepercayaan terhadap sistem keuangan berbasis petro dollar.

Dalam situasi tersebut, Bitcoin mulai dilihat sebagai alternatif lindung nilai.

Aset ini bersifat tanpa batas wilayah, tidak mudah disita, dan memiliki suplai terbatas secara algoritmik.

“Mirip narasi emas, namun dengan likuiditas perdagangan digital 24 jam,” kata dia.

Data Coinglass menunjukkan aliran dana ke ETF Bitcoin spot terus mencatat arus masuk positif sejak 9 Maret.

ETF Ethereum spot juga mencatat tren serupa sejak 10 Maret.

Di tengah volatilitas harga, akumulasi oleh investor institusi terus meningkat.

Dalam satu pekan terakhir tercatat pembelian bersih 22.337 BTC senilai sekitar 1,57 miliar dollar AS.

Total kepemilikan institusi kini mencapai 761.068 BTC atau sekitar 57,61 miliar dollar AS.

Ethereum juga mencatat perkembangan signifikan.

Jumlah ETH yang dimiliki perusahaan treasury mencapai 7,27 juta ETH atau sekitar 15,11 miliar dollar AS.

Nilai tersebut setara lebih dari 6 persen dari total suplai ETH yang beredar.

Angka ini meningkat tajam dibandingkan 12 bulan sebelumnya yang masih nol.

Fahmi menilai tren tersebut menunjukkan institusi mulai membangun posisi jangka panjang.

Peluncuran produk ETF berbasis staking Ethereum oleh BlackRock juga dinilai menjadi katalis penting.

Produk tersebut memberi akses terhadap imbal hasil staking bagi investor institusi.

Baca juga: Bitcoin Bertahan di Tengah Konflik Timur Tengah, Masih di Level 68.000–72.000 Dollar AS

Dilema The Fed dan Relevansinya bagi Rupiah

Pasar juga menunggu hasil pertemuan Federal Reserve pada 17 hingga 18 Maret.

Suku bunga diperkirakan tetap, tetapi proyeksi kebijakan ke depan menjadi perhatian utama.

Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat kuartal IV 2025 direvisi turun menjadi 0,7 persen.

Angka tersebut jauh di bawah estimasi sebelumnya 1,5 persen dan turun dari 4,4 persen pada kuartal sebelumnya.

"Eskalasi konflik yang berdampak pada rantai pasokan minyak global dapat mendorong inflasi naik signifikan, sementara kondisi ekonomi AS yang melemah membuat dilema kebijakan suku bunga semakin kompleks," ujar Fahmi.

Halaman:


Terkini Lainnya
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Merdeka Copper Gold (MDKA) Cetak Pendapatan Rp 32,06 Triliun, Turun 15,62 Persen Per 2025
Ekbis
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Strategi Kemenperin Genjot Transformasi Industri Nasional
Ekbis
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Pelaporan SPT 2025 Capai 10,53 Juta, Didominasi Karyawan
Ekbis
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Efek Berganda Industri Hulu Migas bagi Masyarakat, Mulai dari Pajak hingga Dana Bagi Hasil
Ekbis
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Update Harga iPhone 16, iPhone 17, dan 17 Pro Max Per 1 April 2026
Ekbis
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Kemenaker Imbau WFH, Sektor Kesehatan hingga Keuangan Tetap WFO
Ekbis
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN
Ekbis
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Ekbis
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Optimal
Energi
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Berbalik dari Rugi ke Untung, Laba Bersih Phapros (PEHA) Melonjak 109 Persen di 2025
Ekbis
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM  hingga Rp 100 Triliun
BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun
Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
IHSG Ditutup Menguat 1,93 Persen, Sentimen Geopolitik Timur Tengah Meredah?
Ekbis
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara
Keuangan
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Bengkel Siaga CNG Layani Kendaraan BBG di Jalur Mudik, Hadir 24 Jam
Energi
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Harga Plastik Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Tertekan
Industri
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau