Penulis
KOMPAS.com - Harga emas dunia melemah tajam di tengah memanasnya konflik Iran yang mengganggu arus minyak global, merusak infrastruktur energi, dan memicu kekhawatiran konflik berkepanjangan.
Dikutip dari CNN, Minggu (22/3/2026), sepanjang pekan ini, harga emas anjlok 11 persen, menjadi penurunan mingguan terbesar sejak 1983. Sejak konflik dimulai, logam mulia tersebut sudah turun lebih dari 14 persen.
Padahal, dalam kondisi ketidakpastian ekonomi, emas umumnya menjadi aset lindung nilai (safe haven) yang diburu investor.
Baca juga: Harga Emas Antam Sepekan Turun Rp 104.000, Buyback Ikut Anjlok
Namun kali ini, lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah justru mendorong bank sentral global meninjau ulang prospek suku bunga, faktor yang sangat memengaruhi pergerakan emas.
Gejolak tersebut juga mendorong penguatan dollar AS serta membuat investor meninjau kembali portofolio mereka.
Pelaku pasar kini memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, akan menahan suku bunga sepanjang tahun ini.
Kondisi ini meningkatkan daya tarik instrumen yang memberikan imbal hasil seperti obligasi, sekaligus menekan minat terhadap emas yang tidak menghasilkan pendapatan.
Baca juga: Harga Emas di Pegadaian 22 Maret 2026: Cek Rincian Galeri 24 dan UBS
The Fed sendiri telah menahan suku bunga dalam dua pertemuan terakhir. Berdasarkan proyeksi CME FedWatch, pasar tidak lagi memperkirakan adanya penurunan suku bunga tambahan tahun ini.
Ilustrasi emas. Perang di Timur Tengah mengganggu penerbangan dari Dubai, membuat pedagang menawarkan diskon emas hingga 30 dollar AS per ons.Sebelumnya, harga emas sempat melonjak pada musim gugur ketika The Fed memangkas suku bunga tiga kali berturut-turut.
Kini, ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan mendorong imbal hasil obligasi naik, sehingga meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) memegang emas.
“Dalam pelemahan harga emas baru-baru ini, kenaikan imbal hasil memiliki peran besar,” ujar Hardika Singh, ekonom strategis di Fundstrat.
Tidak hanya di AS, bank sentral di berbagai negara juga menyesuaikan kebijakan suku bunga sebagai respons terhadap konflik Iran dan lonjakan harga energi.
Baca juga: Kontroversi Koin Emas Trump Menguat Jelang Perayaan 250 Tahun AS
Kekhawatiran inflasi membuat sebagian bank sentral menahan suku bunga, bahkan ada yang menaikkannya seperti Bank Sentral Australia.
Selain suku bunga, pergerakan dollar AS juga menjadi faktor penting yang menekan harga emas.
Sepanjang bulan ini, dollar AS menguat hampir 2 persen sejak konflik Iran dimulai, mengakhiri tren penurunan dalam beberapa bulan sebelumnya.