Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Zulhas: Tak Ada Bahan Pangan RI Bergantung Ke Timur Tengah

Kompas.com, 28 Maret 2026, 12:46 WIB
Syakirun Ni'am,
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menegaskan Indonesia tidak memiliki ketergantungan impor pangan dari Timur Tengah.

Zulhas mengatakan, pasokan bahan pangan Indonesia tidak terdampak perang Israel dan Amerika Serikat (AS) melawan Iran.

“Tidak ada (bahan) pangan yang tergantung kepada Timur Tengah, enggak ada,” kata Zulhas saat ditemui di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (28/3/2026).

Baca juga: Mendag Yakin Ekspor CPO akan Naik di Tengah Konflik Timur Tengah

Dua hari menjelang Lebaran, harga sejumlah bahan pangan di Pasar Segiri Kota Samarinda terpantau mengalami kenaikan. Kenaikan paling signifikan terjadi pada komoditas cabai dan daging ayam. Jumat (28/3/2025) Kompas.com/pandawa borniat Dua hari menjelang Lebaran, harga sejumlah bahan pangan di Pasar Segiri Kota Samarinda terpantau mengalami kenaikan. Kenaikan paling signifikan terjadi pada komoditas cabai dan daging ayam. Jumat (28/3/2025)

Menurutnya, kebijakan pangan Presiden Prabowo Subianto yang telah mengantisipasi perang sejak jauh-jauh hari sudah tepat.

Mayoritas kebutuhan bahan pangan utama sudah terpenuhi dari dalam negeri.

Stok beras misalnya, dinilai sudah aman dan telah mencapai swasembada pada 2025.

“Beras kita aman, beras kita tahun lalu surplus 4 juta (ton), saya kira tahun ini juga akan ada 4 juta,” ujar Zulhas.

Baca juga: Perang di Timteng, Pungutan Ekspor CPO Tetap 12,5 Persen

Selain beras, komoditas pangan utama lainnya seperti jagung, daging ayam, telur, dan sayur-sayuran juga aman karena diproduksi di dalam negeri.

Sementara, beberapa komoditas impor seperti gandum dan kedelai dipasok dari negara yang tidak terdampak perang.

Gandum dan kedelai misalnya, diimpor dari negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

“Berarti pangan aman, aman tidak ada masalah apa pun,” tegas Zulhas.

Baca juga: Perang di Timteng, Kemendag Prediksi Ekspor RI Turun Tahun Ini

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu meminta masyarakat khawatir Indonesia akan menghadapi krisis pangan.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) (tengah) dan Menteri Perdagangan Budi Santoso (Busan) usai meninjau harga pangan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (28/3/2026).KOMPAS.com/Syakirun Ni'am Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) (tengah) dan Menteri Perdagangan Budi Santoso (Busan) usai meninjau harga pangan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (28/3/2026).

Sebab, stok bahan pangan mencukupi bahkan berlebih dan tidak menghadapi masalah apapun.

“Jadi tidak usah khawatir apalagi berebut membeli stoknya berlebihan, enggak perlu,” tutur Zulhas.

Setelah meninjau kondisi Pasar Minggu, ia juga menyimpulkan pasokan dan harga mayoritas bahan pangan terkendali.

Baca juga: Ekspor RI ke Iran Capai Rp 4,2 T, Meski Perang Hantui Timur Tengah

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau