Penulis
KOMPAS.com – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengklaim Iran telah menyetujui sebagian besar tuntutan Washington untuk mengakhiri perang, meski belum jelas apakah kedua pihak benar-benar sedang bernegosiasi.
Trump menyebut, dari 15 poin tuntutan yang diajukan kepada Teheran, sebagian besar telah dipenuhi.
“Mereka memberikan sebagian besar poin kepada kami. Kenapa tidak?” kata Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One, Minggu (30/3/2026) dikutip dari Bloomberg.
Ia menambahkan, AS masih akan mengajukan beberapa tuntutan tambahan, tetapi tidak merinci konsesi apa saja yang telah diberikan Iran.
Baca juga: Trump Buka Opsi Ambil Alih Minyak Iran, Ketegangan Timur Tengah Memanas
Di sisi lain, Iran secara terbuka menolak daftar 15 syarat gencatan senjata yang disampaikan AS melalui perantara di Pakistan.
Teheran justru mengajukan lima syarat balasan, termasuk mempertahankan kedaulatan atas Selat Hormuz.
Dikutip dari Financial Times, Trump juga menyatakan keinginannya untuk menguasai sumber minyak Iran—langkah yang berpotensi memperburuk eskalasi konflik.
“Sejujurnya, hal favorit saya adalah mengambil minyak di Iran, tetapi beberapa orang di AS mempertanyakan itu,” ujar Trump.
Langkah tersebut dinilai berisiko tinggi karena akan membutuhkan operasi militer besar, termasuk invasi dan pendudukan pusat ekspor utama Iran di Pulau Kharg, yang juga menjadi lokasi pangkalan angkatan laut Iran.
Trump mengakui, jika AS mengambil alih Pulau Kharg, maka pasukan Amerika Serikat harus bertahan di wilayah tersebut dalam waktu cukup lama.
Pulau Kharg memiliki nilai strategis yang sangat tinggi bagi Teheran karena menjadi titik keberangkatan bagi sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran. Baca juga: Trump Sesumbar Bisa Rebut Pulau Kharg Iran dengan Sangat Mudah
Trump sebelumnya menyatakan perang akan segera berakhir. Namun, kondisi ekonomi yang memburuk akibat konflik berpotensi menjadi beban politik bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu November.
Di sisi lain, kebijakan AS terlihat tidak konsisten. Pemerintah mendorong pembicaraan gencatan senjata, tetapi pada saat yang sama meningkatkan kehadiran militer di kawasan Timur Tengah.
“Kami sangat berhasil dalam negosiasi itu,” kata Trump.
“Tapi Anda tidak pernah tahu dengan Iran, karena kami bernegosiasi dengan mereka, dan kemudian kami selalu harus menyerang mereka,” lanjut dia.
Baca juga: Di Balik Gerakan No Kings, Mengapa Protes 7 Juta Warga AS Jadi Ancaman Nyata bagi Trump?
Ribuan tentara AS dilaporkan telah dikerahkan ke Timur Tengah selama akhir pekan, termasuk tim serangan amfibi yang tiba pada Sabtu. Pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 juga sedang menuju kawasan tersebut.