Editor
KOMPAS.com - Ketika sebagian orang tua masih sibuk menyiapkan popok dan susu formula, sebagian lainnya sudah memikirkan bangku sekolah dasar untuk anaknya.
Fenomena unik itu terjadi di SD Muhammadiyah Sapen, yang lokasinya berada di daerah Demangan, Gondokusuman, Kota Yogyakarta.
Bagi masyarakat Yogyakarta yang dikenal dengan Kota Pelajar, fenomena antrean pendaftar SD Muhammadiyah Sapen kerap jadi sorotan.
Bahkan, tingginya minat masyarakat membuat penitipan dokumen calon peserta didik di sekolah saat ini disebut telah menembus tahun ajaran 2032–2033.
Baca juga: Pendaftaran TKA SD dan SMP 2026 Dibuka 19 Januari, Ini Cara Daftar dan Jadwal Lengkapnya
Kondisi ini kemudian menjadi perbincangan luas setelah ramai disorot di media sosial.
Kabar tentang SD Muhammadiyah Sapen yang menjadi perhatian publik juga dikonfirmasi langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir.
Ia menilai fenomena tersebut sebagai refleksi mutu, integritas, dan keberhasilan sekolah dalam mendidik generasi penerus bangsa.
Baca juga: 9 Provinsi Catat Rata-rata Nilai Matematika Tertinggi di TKA 2025, Yogyakarta Peringkat 1
Dilansir dari TribunJogja.com, Kepala SD Muhammadiyah Sapen, Agung Rahmanto, menyadari ramainya perbincangan publik terkait antrean panjang calon murid.
Ia menegaskan pentingnya meluruskan konteks agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Menurut Agung, seleksi penerimaan murid baru di SD Muhammadiyah Sapen tidak menggunakan tes akademik.
Seleksi dilakukan murni berdasarkan usia calon peserta didik sesuai ketentuan yang berlaku.
Ia juga menambahkan bahwa latar belakang murid di sekolah tersebut sangat beragam.
Ada peserta didik yang sudah lancar membaca, menulis, dan berhitung sejak awal, ada pula yang belum mengenal huruf dan angka.
Bahkan, SD Muhammadiyah Sapen juga menerima murid berkebutuhan khusus.
Agung menegaskan antrean panjang yang ramai dibicarakan bukanlah pendaftaran resmi.