Penulis
KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan bahwa Bali sudah mulai memasuki musim kemarau pada Maret 2026.
Kepala Stasiun Klimatologi Bali, Aminudin Ar Roniri menyampaikan bahwa sebagian besar wilayah Bali diprediksi mengalami musim kemarau lebih cepat dari biasanya.
Sebanyak 65 persen atau 13 Zona Musim (ZOM) diperkirakan memasuki kemarau lebih awal.
Sementara itu, tiga ZOM atau sekitar 15 persen diprediksi memiliki waktu musim kemarau yang sama seperti tahun sebelumnya, dan empat ZOM atau sekitar 20 persen diperkirakan mengalami kemarau lebih lambat.
“Prediksi sifat musim kemarau 2026 bersifat di bawah normal yaitu 90 persen. Sifat di bawah normal ini perlu disikapi baik, terutama daerah potensi kekeringan,” ucap Aminudin Ar Roniri Kamis (12/3/2026), dilansir dari Antara.
Baca juga: 3 Wilayah di Jawa Barat Sudah Masuk Musim Kemarau Mulai Maret 2026, Berikut Daftarnya
Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa musim kemarau 2026 di Bali akan dimulai lebih awal dibandingkan tahun sebelumnya. Berikut daftar wilayahnya:
Secara keseluruhan, seluruh wilayah Bali diprediksi sudah memasuki musim kemarau pada Agustus 2026.
Dengan demikian, total durasi musim kemarau di Bali diperkirakan mencapai sekitar enam bulan sejak Maret.
Baca juga: BMKG Sebut Kemarau di Kalteng Mulai Akhir Mei 2026, Waspada Kekeringan dan Karhutla
Seiring dengan hal tersebut, BMKG mencatat bahwa musim kemarau 2026 di Bali diperkirakan lebih panjang dibandingkan tahun 2025.
Pada tahun lalu, musim kemarau di Bali berlangsung relatif lebih singkat, yakni mulai sekitar Juni hingga Juli dan berakhir pada Agustus hingga September dengan durasi sekitar empat bulan.
“Pada Juli hingga Oktober terjadi fenomena El Nino lemah, maka ini sangat berpotensi kekeringan panjang atau ekstrem,” kata Prakirawan Stasiun Klimatologi Bali Trayi Budi Samantu.
Baca juga: Pemerintah Diminta Mitigasi Potensi Kemarau Panjang pada 2026
BMKG memetakan beberapa wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan ekstrem selama musim kemarau 2026.
Daerah yang diprediksi paling rentan kekeringan ekstrem meliputi:
Meski musim kemarau diprediksi lebih panjang, BMKG memperkirakan suhu udara selama periode tersebut masih berada dalam kisaran normal.
Baca juga: Waspada, Ancaman Kebakaran Hutan di Indonesia Lebih Berat Saat Musim Kemarau 2026
Rata-rata suhu udara diperkirakan tetap berada di bawah 35 derajat Celsius. Kendati demikian, BMKG akan terus memantau perkembangan suhu secara berkala, baik dalam skala dasarian maupun bulanan.
BMKG juga mengingatkan pemerintah daerah, sektor pertanian, dunia usaha, serta masyarakat untuk melakukan langkah mitigasi sejak dini.
Beberapa langkah yang disarankan antara lain pengelolaan sumber daya air secara lebih efektif, penghematan penggunaan air, pengaturan distribusi air untuk kebutuhan irigasi, serta peningkatan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran lahan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang