Penulis
KOMPAS.com - Sejumlah permukiman warga di Desa Longkoga Barat, Kecamatan Bualemo, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah (Sulteng) terdampak abrasi pantai.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Sulteng, Asbudianto, menyampaikan bahwa abrasi dipicu gelombang tinggi yang menerjang Dusun I dan Dusun II, selama kurang lebih empat jam.
"Gelombang tinggi yang terjadi menyebabkan kerusakan pada permukiman warga di wilayah pesisir," katanya dilansir dari Antara.
Baca juga: 38 Rumah Hilang dan 214 Terancam karena Abrasi Pantai di Aceh Utara
Gelombang tinggi tersebut mengakibatkan kerusakan pada sejumlah rumah di kawasan pesisir.
Berdasarkan data sementara BPBD Sulteng, sebanyak 30 unit rumah mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda.
Tujuh rumah di antaranya rusak berat, termasuk dua rumah yang mengalami kerusakan total. Sementara itu, 10 rumah lainnya rusak sedang dan 13 rumah rusak ringan.
Selain permukiman, tanggul pantai di Dusun II sepanjang sekitar 30 meter juga dilaporkan mengalami kerusakan sedang.
Baca juga: BMKG Ungkap Potensi Gelombang Tinggi hingga Rob Saat Periode Mudik-Balik Lebaran
BPBD Sulteng mencatat sebanyak 116 warga terdampak abrasi pantai ini.
Dari jumlah tersebut, terdapat 12 warga lanjut usia, dua balita, serta 102 warga dewasa dan anak-anak yang ikut terdampak.
“Sebanyak tujuh kepala keluarga terpaksa mengungsi secara mandiri ke rumah kerabat yang lebih aman. Tidak ada laporan korban jiwa dalam kejadian ini,” ujar Asbudianto.
Baca juga: BMKG Deteksi Bibit Siklon Tropis 95W, Berpotensi Picu Gelombang Tinggi
Dalam penanganannya, BPBD Sulteng telah berkoordinasi dengan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Banggai serta melakukan asesmen langsung di lokasi terdampak.
Dari hasil pendataan awal, BPBD mengidentifikasi sejumlah kebutuhan mendesak bagi warga terdampak, antara lain selimut, pakaian, logistik penanggulangan bencana, perbaikan rumah, hingga pembangunan tanggul atau talud pengaman pantai di Dusun I sepanjang sekitar 360 meter.
“Hingga saat ini kondisi gelombang laut berangsur menurun, namun masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi gelombang tinggi susulan, terutama saat air laut pasang,” tukas Asbudianto.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang