Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ilmuwan Desak Pemimpin Global Batasi Biofuel Berbasis Tanaman

Kompas.com, 10 November 2025, 18:02 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hampir 100 anggota komunitas ilmiah global, termasuk perwakilan dari Union of Concerned Scientists, telah menandatangani surat yang menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk membatasi ekspansi berbahaya dari biofuel.

Tindakan tersebut dilakukan menjelang perhelatan COP30 minggu ini. Seruan itu pun diharapkan dapat memengaruhi agenda dan keputusan yang akan dibuat di pertemuan puncak iklim tahunan PBB.

Seruan juga muncul saat Brasil, tuan rumah COP30 mencari dukungan para pemimpin dunia agar melipatgandakan penggunaan apa yang disebut bahan bakar berkelanjutan termasuk konsumsi biofuel sebagai komponen utama dari respons komunitas internasional terhadap krisis iklim.

Namun, melansir Clean Technica, Kamis (6/11/2025) semakin banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa rata-rata biofuel saat ini secara global bertanggung jawab atas 16 persen emisi lebih banyak daripada bahan bakar fosil yang mereka gantikan.

Baca juga: 27 Persen Serealia Bakal Jadi Biofuel pada 2024, Indonesia Produsen Utamanya

Pada tahun 2030, biofuel diproyeksikan akan mengeluarkan, setiap tahun, 70 MtCO2e (juta metrik ton setara CO2) lebih banyak daripada bahan bakar fosil yang mereka gantikan, setara dengan menempatkan 30 juta mobil diesel baru di jalanan.

Para ilmuwan juga memprediksi tiga dampak lingkungan negatif dari peningkatan perkebunan biofuel. Ekspansi akan berdampak pada kehancuran lingkungan di beberapa wilayah dengan keanekaragaman hayati paling kaya dunia.

Selain itu juga menghabiskan sumber daya air yang langka serta berkontribusi pada limpasan pertanian. Penggunaan pupuk dan pestisida yang intensif untuk tanaman biofuel dapat mencemari air permukaan dan air tanah melalui limpasan

Selain itu, para ilmuwan juga memperingatkan bahwa peningkatan penggunaan biofuel akan memperburuk kelaparan global dengan menaikkan harga pangan, mengintensifkan volatilitas harga pangan, dan mengalihkan kalori dari konsumsi manusia di mana kalori yang seharusnya digunakan untuk memberi makan manusia justru dialihkan untuk memproduksi bahan bakar.

Di negara-negara produsen biofuel, seperti Brasil dan Indonesia, LSM lokal menyerukan pendekatan holistik untuk mengelola dampak negatif, termasuk pembatasan budidaya, ketertelusuran yang lebih baik, dan investasi dalam tata kelola berbasis masyarakat dan energi terdesentralisasi.

Baca juga: Apa Itu Biofuel dan Benarkah Ramah Lingkungan?

Namun dorongan Brasil terhadap biofuel di pasar global dikhawatirkan akan menjadi sesuatu yang berbahaya karena bakal memicu ledakan produksi yang tak berkelanjutan seperti yang terjadi pada pertengahan tahun 2000-an.

Produksi yang tak berkelanjutan itu memicu deforestasi skala besar, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pelanggaran hak asasi manusia.

“Buktinya sudah jelas, membakar tanaman pangan untuk dijadikan bahan bakar adalah ide yang buruk. Kita tidak bisa mengabaikan dampak yang ditimbulkannya terhadap iklim, ekologi, dan keamanan pangan. Pemerintah harus beralih ke alternatif yang benar-benar berkelanjutan daripada mendorong solusi yang, dalam banyak kasus, lebih banyak merugikan daripada menguntungkan,” kata Cian Delaney, pegiat biofuel di T&E.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
Pemerintah
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Pemerintah
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau