KOMPAS.com - Di Jepang, terdapat proyek percontohan daur ulang popok agar menjadi popok baru. Saat ini, proyek yang disebut pertama kalinya di dunia ini, menjalani pengujian metode untuk mengurangi konsumsi air dalam proses daur ulang.
Proyek ini diharapkan mengurangi penumpukan sampah di tempat pemrosesan akhir (TPA), sekaligus memenuhi kebutuhan popok dewasa untuk lanjut usia (lansia) yang meningkat.
Baca juga:
"Permintaan popok bayi sedang menurun. Namun, semakin banyak lansia yang menggunakan popok, dan belakangan ini, bahkan hewan peliharaan pun ikut menggunakannya," kata Presiden Unicharm, Takahisa Takahara, dilansir dari AFP via Phys.org, Sabtu (28/3/2026).
Di Jepang, terdapat proyek percontohan daur ulang popok agar menjadi popok baru untuk mengurangi penumpukan sampah. Bagaimana caranya?Adapun Unicharm merupakan perusahaan di balik inisiatif tersebut. Perusahaan produk kebersihan ini tengah menguji skema tersebut di Shibushi dan Osaki, yang mendaur ulang 80 persen sampah rumah tangga atau empat kali lipat rata-rata Jepang.
Sekitar 25 tahun lalu, Shibushi dan Osaki yang dihuni sekitar 40.000 orang, memutuskan untuk mengambil tindakan tersebut usai tempat pembuangan sampah komunal mereka diprediksi akan penuh pada 2004.
Namun, saat ini tempat pembuangan sampah komunitas tersebut diperkirakan masih akan tetap dibuka selama 40 tahun ke depan.
Popok mulai dimasukkan dalam program daur ulang pada 2024, dengan warga diharuskan menulis nama mereka pada kantong sampah yang telah ditentukan.
Sampah popok yang telah dikumpulkan kemudian diparut, dicuci, dan dipisahkan menjadi bubur kertas, plastik, serta polimer super-penyerap (SAP).
Proses daur ulang popok memanfaatkan perlakuan ozon khusus untuk sterilisasi, pemutihan, dan penghilangan bau.
Unicharm sudah mampu menggunakan bubur kertas, yang menjadi komponen utama dari sampah popok, untuk membuat produk baru.
Saat ini, produk daur ulang popok hanya dijual di beberapa toko lokal dengan harga sekitar 10 persen lebih tinggi daripada produk dengan bahan baku baru.
Pejabat eksekutif senior bisnis daur ulang Unicharm, Tsutomu Kido menargetkan akan mendaur ulang plastik dan polimer penyerap dari sampah popok untuk membuat produk baru pada tahun 2028.
Unicharm juga berencana bekerja sama dengan 20 kotamadya pada tahun 2035 untuk mendaur ulang popok mereka.
Baca juga:
Hampir 100.000 orang Jepang berusia di atas 100 tahun, yang menyebabkan permintaan popok dan produk terkait lainnya lebih banyak dari lansia dibandingkan bayi.
Menurut Asosiasi Industri Produk Kebersihan Jepang, Negeri Sakura itu memproduksi 9,6 miliar popok dewasa dan pembalut inkontinensia untuk lansia pada tahun 2024.
Pada tahun yang sama, Jepang hanya memproduksi delapan miliar popok untuk bayi.
Diperkirakan, negara tersebut akan membuang 2,6 juta ton popok kotor setiap tahunnya pada tahun 2030, meningkat dari sekitar 2,2 ton pada tahun 2020.
Berdasarkan data Institut Nasional untuk Studi Lingkungan, tingkat daur ulang sampah di Jepang kurang dari 20 persen, tergolong rendah bila dibandingkan dengan Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya