Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB, Pandji Prawisudha menganggap, aspek keekonomian menjadi tantangan utama pengelolaan limbah popok di Indonesia.
Berdasarkan perhitungannya, biaya pengelolaan limbahnya berskala kecil setara dengan harga popok baru.
Jika biaya pengelolaan limbahnya dibebankan kepada produsen melalui Extended Producer Responsibility (EPR), harga popok berpotensi naik dua kali lipat.
Tidak semua jenis limbah yang dikelola dapat menghasilkan keuntungan. Dari aspek keekonomian, jenis limbah residu kalau dikelola dengan teknik atau skema bisnis yang konvensional akan menjadi pusat biaya (cost center).
Pengelolaan limbah residu, seperti popok, terkendala aspek keekonomian lantaran di Indonesia ekosistem ekonomi sirkular belum terbentuk.
Padahal pengelolaan limbah popok secara terstruktur dapat mengatasi tantangan aspek keekonomian, mengingat berbagai komponen popok lain sebenarnya juga bisa dikelola. Misalnya, fiber dari popok atau serat tekstil masih mempunyai nilai ekonomi.
"(Pengelolaan jenis limbah) yang menguntungkan ya bisa jalan. Yang tidak menguntungkan ya akhirnya tutup atau ya akhirnya dibuang ke satu tempat seperti yang kita lakukan sekarang," ujar Pandji kepada Kompas.com, Rabu (31/12/2025).
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya