JAKARTA, KOMPAS.com - Sampah organik menjadi salah satu permasalahan di berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2024, sebanyak 30,65 persen timbulan sampah di wilayah ini tediri dari sisa makanan.
Kini, sampah makanan tersebut diolah kembali menjadi pupuk kompos melalui program Kudus Apik Resik (Kudus Asik), sebuah inisiatif dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) sejak tahun 2022.
Anak-anak muda bergerak untuk ikut mengatasi permasalahan sampah di daerahnya. Program Associate BLDF, Timothy Ariel Saputra, menjelaskan sampah organik diambil langsung dari rumah-rumah di Kudus oleh tim Kudus Asik secara gratis.
Baca juga: Sampah Puntung Rokok Berpotensi Berubah Jadi Mikroplastik
"Dengan syarat sampah sudah terpilah dari sumber. Sehingga ketika dilakukan pengambilan oleh tim Kudus Asik sudah tidak ada sampah anorganik yang tercampur," ungkap Timothy saat dihubungi, Kamis (19/3/2026).
Pengolahan sampah dilakukan di atas lahan seluas 1,5 hektar dengan kapasitas mencapai 50 ton per hari. Sampah organik difermentasi lalu diolah menjadi pupuk kompos yang melibatkan 48 tenaga kerja.
"Tempatnya kami fasilitasi berupa tempat sampah berukuran 30 liter yang setiap hari ketika kami lakukan pengambilan sudah kami cuci dari lokasi kerja kami. Jadi masyarakat tinggal memilah sampah tersebut, tidak perlu memikirkan biaya dan perawatannya karena semuanya ditanggung oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation," ucap dia.
Dari sinilah Kudus Asik memproduksi kompos yang nantinya dibagikan gratis kepada masyarakat di Kudus. Kompos yang dihasilkan juga digunakan untuk mendukung program penghijauan lingkungan, khususnya di kawasan Muria dan Patiayam.
Menurut Timothy, Kudus Asik adalah bagian dari lima pilar program BLDF, yakni Terrestrial Planting, Biodiversity Conservation, Marine and Coastal Rehabilitation, Siap Darling, serta Waste Management.
Baca juga: 34 Proyek WtE Dibangun Atasi Darurat Sampah, Green Jobs Terbuka untuk Berbagai Jurusan
Seiring berjalannya waktu, Kudus Asik kini merambah kerja sama dengan 42 Satuan Pelayanan Pengelolaan Gizi (SPPG) untuk mengolah limbah Makan Bergizi Gratis atau MBG di Kabupaten Kudus.
"SPPG yang ada diwajibkan untuk memilah sampahnya, terutama sampah dapur untuk dapat dipisahkan dan nantinya akan diambil oleh tim Kudus Asik setiap hari," tutur Timothy.
BLDF menargetkan edukasi pemilahan sampah dapat menjangkau seluruh masyarakat Kudus terutama ibu rumah tangga. Pemilahan sampah sejak dari sumber dinilai menjadi kunci utama dalam mengatasi persoalan sampah di wilayah ini.
"Kalau sampah tidak terpilah justru akan menyebabkan tempat pembuangan sampah menjadi penuh, karena sampah sampah yang tadinya seharusnya bisa didaur ulang dan dijual kembali terkotori oleh sampah organik," ucap dia.
Sebelumnya, BLDF membangun Pusat Pengolahan Organik (PPO) di Kudus sejak 2018 lalu. Sampah organik yang dikelola berasal dari 370 mitra mencakup rumah makan, pasar tradisional, masyarakat desa, hotel, korporasi, maupun sektor lainnya.
Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, Director menjelaskan PPO itu berkembang dengan melibatkan generasi muda melalui program Kudus Asik.
"Melalui gerakan digital Kudus Asik diharapkan menjadi motivasi masyarakat Kudus khususnya generasi muda untuk dapat berpartisipasi dalam memilah sampah demi menjaga lingkungannya tetap bersih. Kami berharap keterlibatan seluruh elemen masyarakat untuk memilah sampah bisa menjadi bagian dari keseharian,” kata Mutiara dikutip dari laman resmi BLDF,
Sementara itu, Deputy Program Manager BLDF, Redi J Prasetyo menyampaikan dengan adanya Kudus Asik masyarakat diajak untuk memilah sampah organik. Apabila limbah rumah tangga dipilah dengan baik, maka sampah anorganik yang tersisa bisa dijual ke bank sampah dengan nilai lebih tinggi.
Dari sampah organik yang masuk ke PPO sudah menghasilkan 82.275 meter kubik pupuk organik selama periode 2018-2024.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya