Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tak Dibantu Perang Lawan Iran, AS Mau Tinjau Hubungan NATO

Kompas.com, 1 April 2026, 13:01 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

Sumber Reuters

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio menegaskan, Washington harus meninjau ulang hubungan negaranya dengan NATO setelah perang melawan Iran berakhir.

Pernyataan ini muncul menyusul ketegangan antara AS dan beberapa sekutu Eropanya terkait penggunaan fasilitas militer selama konflik berlangsung.

"Saya rasa tidak ada keraguan, sayangnya, setelah konflik ini selesai, kita harus meninjau kembali hubungan tersebut. Kita harus meninjau kembali nilai NATO dalam aliansi tersebut bagi negara kita," ujar Rubio dalam wawancara dengan pembawa acara Sean Hannity di Fox News, Selasa (31/3/2026).

Baca juga: Ngamuk-ngamuk Tak Dibantu Perangi Iran, Trump Sebut NATO Pengecut

Meski demikian, Rubio menambahkan bahwa keputusan akhir mengenai masa depan AS di NATO sepenuhnya berada di tangan Presiden AS Donald Trump, sebagaimana dilansir AFP.

Diplomat tertinggi AS tersebut mengungkapkan bahwa selama duduk di Senat, dia merupakan salah satu pembela terkuat NATO.

Menurutnya, nilai utama NATO bagi AS adalah keberadaan pangkalan-pangkalan militer di Eropa yang memungkinkan militer AS memproyeksikan kekuatan ke berbagai belahan dunia. 

Namun, situasi saat ini telah berubah.

Baca juga: Daftar Negara yang Diizinkan Lewati Selat Hormuz, Ada 1 Negara NATO

"Jika sekarang kita telah mencapai titik di mana aliansi NATO berarti kita tidak dapat menggunakan pangkalan-pangkalan tersebut untuk membela kepentingan Amerika, maka NATO adalah jalan satu arah," tegas Rubio.

Dia menambahkan, meski Washington tidak meminta sekutu NATO untuk ikut melakukan serangan udara dalam perang melawan Iran, AS setidaknya mengharapkan akses terhadap fasilitas militer.

"Ketika kita membutuhkan mereka untuk mengizinkan kita menggunakan pangkalan militer mereka, jawaban mereka adalah 'Tidak?' Lalu untuk apa kita berada di NATO? Anda harus menanyakan pertanyaan itu," lanjutnya.

Baca juga: Bukan Perang NATO, Jerman Ogah Kirim Bantuan Militer ke Selat Hormuz

Penolakan dari Italia dan Spanyol

Kekecewaan Rubio ini didasari oleh tindakan beberapa negara Eropa yang mulai membatasi pergerakan militer AS di wilayah mereka.

Pada Selasa pagi, terungkap bahwa Italia menolak izin pendaratan bagi pesawat militer AS yang sedang dalam perjalanan menuju Timur Tengah untuk misi tempur.

Langkah serupa diambil oleh Spanyol pada Senin (30/3/2026).

Madrid memutuskan untuk menutup wilayah udaranya bagi pesawat-pesawat AS yang menjalankan misi melawan Iran. 

Baca juga: Trump Sindir NATO Usai Negara Sekutu Enggan Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Internasional
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
Internasional
Tak Dibantu Perang Lawan Iran, AS Mau Tinjau Hubungan NATO
Tak Dibantu Perang Lawan Iran, AS Mau Tinjau Hubungan NATO
Internasional
Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan
Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan
Internasional
AS Sebut Akhir Perang Iran Sudah Terlihat, Sinyal Damai Sebentar Lagi?
AS Sebut Akhir Perang Iran Sudah Terlihat, Sinyal Damai Sebentar Lagi?
Internasional
Terang-terangan, Israel Bakal Duduki Lebanon Selatan, Pemukiman Akan Dihancurkan
Terang-terangan, Israel Bakal Duduki Lebanon Selatan, Pemukiman Akan Dihancurkan
Internasional
Kebakaran Besar Landa Bandara Kuwait Usai Serangan Drone
Kebakaran Besar Landa Bandara Kuwait Usai Serangan Drone
Internasional
Sumber Keamanan PBB Sebut Israel Pelaku Serangan Batalion Indonesia di Lebanon
Sumber Keamanan PBB Sebut Israel Pelaku Serangan Batalion Indonesia di Lebanon
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau