Penulis
WASHINGTON, KOMPAS.com - Efek domino dari serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang telah berlangsung selama lebih dari sebulan kini mulai "mencekik" warga AS.
Krisis energi global yang dipicu konflik tersebut memaksa para pengemudi di AS menghadapi kenaikan harga bahan bakar yang memukul anggaran rumah tangga mereka.
Di sebuah SPBU Liberty di pinggiran Washington, Jeanne Williams (83) tak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat melihat angka di papan LED.
"Itu mengerikan, saya tidak marah. Saya hanya bingung, kacau, dan tidak bahagia, Karena kami tidak meminta perang ini," kata Williams, dikutip dari AFP, Rabu (1/4/2026).
Baca juga: Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan
Pada Selasa (31/3/2026), harga rata-rata satu galon (3,78 liter) bensin reguler di AS melampaui angka psikologis 4 dollar AS atau sekitar Rp 67.924, meningkat 35 persen sejak perang, menurut data dari klub otomotif AAA.
Stasiun tempat Williams berhenti terletak di sepanjang jalan yang ramai di kota Falls Church, diapit antara gereja Anglikan, bengkel mobil, dan kantor dokter gigi.
Harga di sana mulai dari 3,79 dollar AS per galon, dengan syarat membayar tunai. Tarifnya lebih tinggi jika pelanggan menggunakan kartu debit atau kredit. Sedikit lebih jauh di jalan, tarifnya mencapai 4,25 dollar AS per galon.
Baca juga: Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Williams yang merupakan seorang pensiunan pegawai negeri sipil dan sedang menjalani pengobatan kanker, menganggap uang pensiunnya cukup layak.
Akan tetapi, karena biaya hidup di AS telah meningkat, ia terpaksa menggunakan tabungannya.
"Untungnya, saya tidak punya anak. Saya tidak punya pasangan, jadi hanya saya sendiri dan apa pun yang saya miliki, saya bantu kerjakan untuk saudara perempuan saya," ujarnya.
Baca juga: Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Ilustrasi inflasi.Inflasi AS telah menurun dari puncaknya sebesar 9,1 persen selama pandemi, tetapi harga barang tetap tinggi.
Para analis pun memperingatkan bahwa ekonomi AS masih belum mencapai stabilitas harga.
Bertahun-tahun harga yang lebih tinggi dari perkiraan telah menghantam rumah tangga di AS.
Eliza Winger, seorang ekonom AS dari Bloomberg mengatakan, kenaikan harga bahan bakar tidak hanya berdampak pada konsumen di SPBU, tetapi juga mengurangi konsumsi mereka secara keseluruhan.
Baca juga: Tak Dibantu Perang Lawan Iran, AS Mau Tinjau Hubungan NATO