Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 1 April 2026, 15:25 WIB
Ahmad Naufal Dzulfaroh

Penulis

Sumber AFP

WASHINGTON, KOMPAS.com - Efek domino dari serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang telah berlangsung selama lebih dari sebulan kini mulai "mencekik" warga AS. 

Krisis energi global yang dipicu konflik tersebut memaksa para pengemudi di AS menghadapi kenaikan harga bahan bakar yang memukul anggaran rumah tangga mereka.

Di sebuah SPBU Liberty di pinggiran Washington, Jeanne Williams (83) tak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat melihat angka di papan LED.

"Itu mengerikan, saya tidak marah. Saya hanya bingung, kacau, dan tidak bahagia, Karena kami tidak meminta perang ini," kata Williams, dikutip dari AFP, Rabu (1/4/2026).

Baca juga: Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan

Harga BBM di AS naik 35 persen

Pada Selasa (31/3/2026), harga rata-rata satu galon (3,78 liter) bensin reguler di AS melampaui angka psikologis 4 dollar AS atau sekitar Rp 67.924, meningkat 35 persen sejak perang, menurut data dari klub otomotif AAA.

Stasiun tempat Williams berhenti terletak di sepanjang jalan yang ramai di kota Falls Church, diapit antara gereja Anglikan, bengkel mobil, dan kantor dokter gigi.

Harga di sana mulai dari 3,79 dollar AS per galon, dengan syarat membayar tunai. Tarifnya lebih tinggi jika pelanggan menggunakan kartu debit atau kredit. Sedikit lebih jauh di jalan, tarifnya mencapai 4,25 dollar AS per galon.

Baca juga: Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran

Williams yang merupakan seorang pensiunan pegawai negeri sipil dan sedang menjalani pengobatan kanker, menganggap uang pensiunnya cukup layak. 

Akan tetapi, karena biaya hidup di AS telah meningkat, ia terpaksa menggunakan tabungannya.

"Untungnya, saya tidak punya anak. Saya tidak punya pasangan, jadi hanya saya sendiri dan apa pun yang saya miliki, saya bantu kerjakan untuk saudara perempuan saya," ujarnya.

Baca juga: Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz

Inflasi turun, tapi harga tetap tinggi

Ilustrasi inflasi.FREEPIK/VWALAKTE Ilustrasi inflasi.

Inflasi AS telah menurun dari puncaknya sebesar 9,1 persen selama pandemi, tetapi harga barang tetap tinggi.

Para analis pun memperingatkan bahwa ekonomi AS masih belum mencapai stabilitas harga.

Bertahun-tahun harga yang lebih tinggi dari perkiraan telah menghantam rumah tangga di AS.

Eliza Winger, seorang ekonom AS dari Bloomberg mengatakan, kenaikan harga bahan bakar tidak hanya berdampak pada konsumen di SPBU, tetapi juga mengurangi konsumsi mereka secara keseluruhan.

Baca juga: Tak Dibantu Perang Lawan Iran, AS Mau Tinjau Hubungan NATO

Halaman:


Terkini Lainnya
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Internasional
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau