JAKARTA, KOMPAS.com - Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyebutkan, tiga prajurit TNI yang gugur di Lebanon akan menerima Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) Operasi Militer Selain Perang Anumerta (OMSPA) dari TNI dan penghargaan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Prajurit gugur mendapatkan KPLB OMSPA, (dan) penghargaan Medal ‘Dag Hammarskjold’,” ujar Agus dalam siaran pers, Kamis (1/4/2026).
Dikutip dari situs Kepolisian PBB, Medali “Dag Hammarskjöld” merupakan penghargaan yang diberikan oleh PBB kepada personel penjaga perdamaian yang gugur dalam menjalankan tugas misi perdamaian.
Nama medali ini diambil dari nama Dag Hammarskjöld, Sekretaris Jenderal ke-2 PBB yang meninggal dalam kecelakaan pesawat saat menjalankan misi perdamaian di Afrika pada 1961.
Baca juga: Panglima TNI Jamin Hak dan Masa Depan Keluarga Prajurit yang Tewas di Lebanon
Medali ini menjadi bentuk penghormatan tertinggi PBB bagi mereka yang gugur saat menjalankan mandat menjaga stabilitas dan perdamaian di wilayah konflik.
Selain itu, keluarga prajurit menerima gaji terusan selama 12 bulan yang terdiri dari gaji pokok, Uang Lauk Pauk (ULP), dan tunjangan jabatan.
“Serta pensiun janda setelah gaji terusan selesai dibayarkan,” ungkap Agus.
Dalam kesempatan yang sama, Jenderal bintang empat itu juga menyerahkan santunan kepada keluarga prajurit yang gugur.
Baca juga: Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar menerima Rp 1.894.688.236, Sersan Satu (Sertu) Muhammad Nur Ikhwan Rp 1.846.309.049, dan Prajurit Kepala (Praka) Farizal Rhomadhon Rp 1.854.075.205.
Santunan tersebut meliputi nilai tunai tabungan asuransi, santunan risiko kematian khusus, beasiswa untuk dua anak, santunan kematian dari PBB, dana Watzah, Tabungan Wajib Perumahan Angkatan Darat (TWP AD), asuransi kecelakaan diri (personal accident), serta santunan gugur dari perbankan.
Diberitakan sebelumnya, tiga prajurit TNI yang menjadi bagian Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon gugur akibat serangan Israel.
Ketiga prajurit itu adalah Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan.
Pada Minggu (29/3/2026), Praka Farizal Rhomadhon gugur saat menunaikan ibadah shalat Isya, ketika serangan antara Israel dan Hizbullah terjadi di wilayah penugasan UNIFIL.
Dalam insiden yang sama, tiga prajurit lain, yakni Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Arif Kurniawan, mengalami luka-luka.
Sehari berselang, Senin (30/3/2026), insiden kembali terjadi.
Baca juga: Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Saat itu, tim pengawal dari Kompi B Satgas Yonmek TNI yang tergabung dalam Sector East Mobile Reserve tengah mengamankan konvoi logistik dari satu pos ke pos lainnya di wilayah UNIFIL.
Di tengah perjalanan, kendaraan yang ditumpangi Kapten Inf Zulmi Aditya, Sertu Muhammad Nur Ichwan, serta dua prajurit lainnya tiba-tiba meledak.
Ledakan tersebut diduga berasal dari ranjau, disertai serangan bersenjata saat proses evakuasi berlangsung.
Selain dua prajurit yang gugur, beberapa personel lain juga mengalami luka, yakni Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang