Penulis
KOMPAS.com - Israel secara terang-terangan mengungkapkan rencananya untuk menduduki wilayah Lebanon selatan dan menghancurkan seluruh rumah di sepanjang perbatasan.
Ini menjadi indikasi paling jelas Israel untuk menduduki wilayah itu.
Menteri Pertahanan, Israel Katz mengatakan, seluruh penduduk Lebanon selatan tak diizinkan untuk kembali ke rumah mereka.
"Kembalinya lebih dari 600.000 penduduk Lebanon selatan yang mengungsi ke utara akan sepenuhnya dilarang di selatan Sungai Litani sampai keselamatan dan keamanan penduduk Israel di utara terjamin," kata Katz, dikutip dari New York Times.
Baca juga: Sumber Keamanan PBB Sebut Israel Pelaku Serangan Batalion Indonesia di Lebanon
Menurutnya, semua rumah di dekat desa-desa tersebut akan dihancurkan sesuai dengan model Rafah dan Beit Hanoun di Gaza.
Nantinya, pasukan Israel akan mempertahankan kendali atas seluruh wilayah dari perbatasan hingga Sungai Litani setelah perang berakhir.
Ini merupakan bentangan wilayah yang berjarak 20 mil dari Israel di titik terdalamnya.
Baca juga: Presiden Iran Nyatakan Siap Akhiri Perang, Asalkan...
Selama beberapa dekade, Lebanon selatan dikuasai oleh Hizbullah, kelompok militan yang telah terlibat konflik berkepanjangan dengan Israel.
Kelompok yang didukung Iran ini dibentuk setelah invasi Israel ke Lebanon pada 1982.
Tak lama setelah Israel dan Amerika Serikat menyerang Iran pada akhir Februari, Hizbullah menembakkan roket ke Israel sebagai bentuk solidaritas dengan Teheran.
Hal itu memicu serangan baru Israel terhadap kelompok tersebut yang mengakibatkan perintah evakuasi besar-besaran untuk sebagian besar wilayah Lebanon selatan serta pemboman yang meluas.
Para pejabat Israel mengatakan tujuan invasi darat adalah mendirikan "zona keamanan" guna mencegah wilayah di Lebanon selatan digunakan untuk menyerang Israel.
Namun, komentar terbaru Katz telah memperdalam kekhawatiran tentang pendudukan Israel yang diperbarui di Lebanon selatan.
Baca juga: Krisis Energi akibat Perang Iran, Asia Berisiko Kena Dampak Terparah
Asap membubung dari Universitas Negeri Lebanon (LU) dalam serangan Israel yang menewaskan dekan dan profesor kampus itu di Hadath, Ibu Kota Beirut, Kamis (12/3/2026).Menanggapi rencana itu, kepala bantuan kemanusiaan PBB, Tom Fletcher memperingatkan, Lebanon selatan dapat menjadi wilayah pendudukan lain di Timur Tengah.