Penulis
KOMPAS.com - Demo "No Kings" yang berlangsung akhir pekan lalu di seluruh wilayah Amerika Serikat, menuai sorotan dunia.
Pasalnya, demo yang menentang kebijakan Presiden Donald Trump itu diklaim diikuti oleh 8 juta orang di 3.300 titik yang tersebar di 50 negara bagian.
Ini merupakan gerakan akar rumput ketiga dalam setahun terakhir yang menjadi saluran oposisi paling vokal sejak Trump memulai masa jabatan keduanya pada Januari 2025.
Demo ini terjadi ketika invasi AS ke Iran masih berlangsung dan menuai penolakan dari sebagian besar warga.
Lantas, mengapa demo "No Kings" bisa menarik massa dalam jumlah besar?
Baca juga: Demo No Kings Meluas di AS, 8 Juta Orang Turun ke Jalan Tentang Kebijakan Trump
Ahli psikologi politik Universitas Paramadina, Abdul Malik Gismar mengatakan, "No Kings" di AS kini bukan sekadar demo, tetapi sudah menjadi sebuah movement (gerakan).
Namun, gerakan itu bukan hanya menentang perang yang sedang berkecamuk di Timur Tengah setelah AS-Israel menyerang Iran.
"Di Indonesia banyak mengira ini demo anti-perang, itu hanya symptom (gejala) mutakhir dari kecenderungan otoritariannya Trump," kata Malik saat dihubungi Kompas.com, Selasa (31/3/2026).
Baca juga: Demo No Kings Tuntut Kebijakan Trump Berujung Ricuh, Massa dan Aparat Bentrok
Menurutnya, banyak bukti kecenderungan otoritarianisme dari pemerintahan Trump, termasuk tidak adanya check and balance dari Kongres AS terhadap eksekutif.
Karenanya, ia menganggap gerakan "No Kings" kali ini sebagai demo untuk melawan kecenderungan otoritarianisme Trump atau rezim AS saat ini.
"Trump ini sering bicara mengenai ganti rezim di Iran, tapi sebetulnya demo 'No Kings' ini mau ganti rezim di AS," jelas dia.
Baca juga: Jutaan Warga AS Ikut Demo No Kings, Apa yang Perlu Diketahui?
Warga yang membawa spanduk berbaris di pusat kota selama hari protes nasional No Kings di Houston pada 28 Maret 2026.Malik menjelaskan, demo "No Kings" merupakan akumulasi dari perlawanan terhadap banyaknya kebijakan Trump yang cenderung otoriter.
Menurutnya, salah satunya terlihat dari kebijakan anti-imigran yang baru-baru ini berujung pada terbunuhnya dua warga AS.
"Bukan sekadar anti-orang asing, tapi anti-kulit putih. Rasisme di AS kini meningkat tinggi," ujar penulis buku Homo Indonesiaensis ini.