Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jurus China Tetap Tenang Meski Selat Hormuz Ditutup, Ketahanan Energi Harga Mati

Kompas.com, 1 April 2026, 09:41 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

Sumber Reuters

BEIJING, KOMPAS.com – Sebagai importir minyak terbesar di dunia yang bergantung pada jalur Selat Hormuz, China justru menjadi negara yang paling siap menghadapi risiko penutupan jalur perairan vital tersebut.

Sebagaimana yang terjadi, serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada 28 Februari telah memicu konflik di Timur Tengah. 

Teheran melancarkan serangan balasan dan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran bagi 20 persen minyak dunia.

Baca juga: Tandai Negara yang Ogah Bantu Buka Selat Hormuz, Trump: Berjuanglah Sendiri

Konflik ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang masif, tetapi juga mengganggu pasar global serta jalur penerbangan internasional secara signifikan.

Saat negara-negara tetangga di Asia mulai khawatir, Beijing justru menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi terhadap ketahanan energinya.

Di saat pejabat di berbagai negara Asia mengimbau warga untuk menghemat energi, surat kabar utama Partai Komunis China justru menegaskan bahwa negara itu memegang "mangkuk nasi" sendiri.

Berikut adalah faktor-faktor yang membuat China jauh lebih siap dibandingkan negara tetangganya dari guncangan energi global, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (31/3/2026).

Baca juga: Kapal Malaysia Kini Dapat Izin Lewati Selat Hormuz Tanpa Biaya

1. Booming kendaraan listrik

Pengujian singkat Arcfox T1 di Guangzhou Conghua International Circuit (GCIC), Guangzhou, China, Senin (24/11/2025).KOMPAS.com/Ruly Kurniawan Pengujian singkat Arcfox T1 di Guangzhou Conghua International Circuit (GCIC), Guangzhou, China, Senin (24/11/2025).

Loncatan besar China dalam adopsi kendaraan listrik menjadi faktor kunci berkurangnya ketergantungan pada minyak. 

Pada akhir 2020, Beijing menargetkan penjualan kendaraan listrik mencapai 20 persen pada 2025. 

Namun, kenyataannya penjualan kendaraan listrik telah menyentuh angka 50 persen dari total penjualan mobil baru pada tahun lalu.

Menurut data dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), jumlah minyak yang berhasil dihemat berkat penggunaan kendaraan listrik tahun lalu setara dengan volume minyak yang diimpor China dari Arab Saudi.

"Situasi saat ini benar-benar mendekati apa yang telah dipikirkan oleh para perencana China selama beberapa dekade," kata Lauri Myllyvirta, salah satu pendiri CREA.

"Ini memvalidasi dorongan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil melalui jalur laut," lanjutnya.

Baca juga: Kapal Malaysia, Thailand, dan Lima Negara Boleh Lewati Selat Hormuz, Indonesia Bagaimana?

2. Diversifikasi pemasok dan jalur pipa darat

Berbeda dengan Jepang yang membeli hampir 80 persen minyaknya hanya dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, China sangat berhati-hati untuk tidak bergantung pada satu pemasok saja.

Halaman:


Terkini Lainnya
Mengapa Israel Menolak Disalahkan Atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon?
Mengapa Israel Menolak Disalahkan Atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon?
Internasional
Irak Mendadak 'Lupa Perang' Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Irak Mendadak "Lupa Perang" Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Internasional
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau