Penulis
WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan kesiapannya untuk mengakhiri kampanye militer terhadap Iran meskipun Selat Hormuz masih dalam kondisi terblokade.
Langkah ini menandai pergeseran strategi Washington yang kemungkinan besar akan membiarkan Teheran mempertahankan kendali atas jalur pelayaran vital tersebut, sembari menunda operasi pembukaan selat yang kompleks di masa mendatang.
Sejumlah pejabat pemerintah mengungkapkan, Trump dan para tangan kanannya menilai upaya untuk membuka paksa Selat Hormuz akan memakan waktu lebih lama dari timeline perang yang dia tetapkan, yakni empat hingga enam minggu.
Baca juga: Pasukan Elite AS Tiba di Timur Tengah, Susul Ribuan Marinir ke Dekat Iran
Sebagai gantinya, Trump memutuskan bahwa prioritas utama AS saat ini adalah melumpuhkan angkatan laut dan stok rudal Iran.
Setelah target tersebut tercapai, AS berencana meredakan ketegangan militer sambil menekan Teheran secara diplomatik agar arus perdagangan kembali normal.
Jika jalur perdagangan tetap buntu, Washington akan mendesak sekutu di Eropa dan kawasan Teluk untuk mengambil alih kepemimpinan dalam operasi pembukaan selat.
"Presiden Trump akan terus melangkah maju tanpa hambatan, dan dia mengharapkan rezim Iran untuk segera membuat kesepakatan dengan pemerintah," ujar Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Senin (30/3/2026).
Leavitt menambahkan, AS sedang mengupayakan normalisasi operasional di selat tersebut, namun tidak memasukkannya ke dalam daftar tujuan militer inti yang mencakup penghancuran angkatan laut, rudal, industri pertahanan, dan kemampuan nuklir Iran.
Baca juga: Trump Klaim Negosiasi dengan Ketua Parlemen Iran, Ultimatum jika Perundingan Gagal
Rencana mengakhiri perang dan membiarkan Selat Hormuz terblokade memicu kritik keras dari para pakar.
Suzanne Maloney, pakar Iran dan Wakil Presiden Brookings Institution di Washington, menyebut keputusan untuk mengakhiri operasi militer sebelum selat dibuka sebagai tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab.
"Pasar energi pada dasarnya bersifat global. Tidak ada kemungkinan bagi AS untuk mengisolasi diri dari kerusakan ekonomi yang sudah terjadi, dan ini akan menjadi jauh lebih buruk jika penutupan selat terus berlanjut," tegas Maloney.
Dampak penutupan jalur ini pun sudah mulai terasa secara global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.
Akibat blokade ini, harga minyak mentah AS ditutup di atas 100 dollar AS per barrel pada hari Senin untuk pertama kalinya sejak 2022.
Analis keuangan bahkan memproyeksikan harga bisa melonjak hingga 200 dollar AS per barrel.
Baca juga: Kapal Amfibi dan Bayang-Bayang Perang Darat di Iran
Meski ingin segera mengakhiri perang, langkah militer Trump di lapangan menunjukkan penguatan.