Penulis
BEIJING, KOMPAS.com – Sebagai importir minyak terbesar di dunia yang bergantung pada jalur Selat Hormuz, China justru menjadi negara yang paling siap menghadapi risiko penutupan jalur perairan vital tersebut.
Sebagaimana yang terjadi, serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada 28 Februari telah memicu konflik di Timur Tengah.
Teheran melancarkan serangan balasan dan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran bagi 20 persen minyak dunia.
Baca juga: Tandai Negara yang Ogah Bantu Buka Selat Hormuz, Trump: Berjuanglah Sendiri
Konflik ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang masif, tetapi juga mengganggu pasar global serta jalur penerbangan internasional secara signifikan.
Saat negara-negara tetangga di Asia mulai khawatir, Beijing justru menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi terhadap ketahanan energinya.
Di saat pejabat di berbagai negara Asia mengimbau warga untuk menghemat energi, surat kabar utama Partai Komunis China justru menegaskan bahwa negara itu memegang "mangkuk nasi" sendiri.
Berikut adalah faktor-faktor yang membuat China jauh lebih siap dibandingkan negara tetangganya dari guncangan energi global, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (31/3/2026).
Baca juga: Kapal Malaysia Kini Dapat Izin Lewati Selat Hormuz Tanpa Biaya
Pengujian singkat Arcfox T1 di Guangzhou Conghua International Circuit (GCIC), Guangzhou, China, Senin (24/11/2025).Loncatan besar China dalam adopsi kendaraan listrik menjadi faktor kunci berkurangnya ketergantungan pada minyak.
Pada akhir 2020, Beijing menargetkan penjualan kendaraan listrik mencapai 20 persen pada 2025.
Namun, kenyataannya penjualan kendaraan listrik telah menyentuh angka 50 persen dari total penjualan mobil baru pada tahun lalu.
Menurut data dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), jumlah minyak yang berhasil dihemat berkat penggunaan kendaraan listrik tahun lalu setara dengan volume minyak yang diimpor China dari Arab Saudi.
"Situasi saat ini benar-benar mendekati apa yang telah dipikirkan oleh para perencana China selama beberapa dekade," kata Lauri Myllyvirta, salah satu pendiri CREA.
"Ini memvalidasi dorongan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil melalui jalur laut," lanjutnya.
Baca juga: Kapal Malaysia, Thailand, dan Lima Negara Boleh Lewati Selat Hormuz, Indonesia Bagaimana?
Berbeda dengan Jepang yang membeli hampir 80 persen minyaknya hanya dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, China sangat berhati-hati untuk tidak bergantung pada satu pemasok saja.
China membagi porsi impornya secara merata kepada delapan negara berbeda, termasuk membeli minyak dengan harga diskon dari Rusia, Venezuela, dan Iran, negara-negara yang terkena sanksi AS.
Selain jalur laut, China memiliki jaringan pipa yang kuat untuk menyalurkan minyak dan gas dari Rusia, Asia Tengah, dan Myanmar.
Hal ini membuat mereka tidak sepenuhnya bergantung pada pengiriman melalui kapal tanker.
Baca juga: Strategi Lepas Tangan Trump, Akhiri Perang Iran dan Biarkan Selat Hormuz Tutup
Penampakan PLTS di China yang diklaim sebagai terbesar di dunia.
Sektor kelistrikan China juga hampir terisolasi dari dampak impor karena didominasi oleh batu bara domestik dan energi terbarukan yang tumbuh sangat pesat.
Pertumbuhan energi bersih di China bahkan melampaui target pemerintah, sehingga kebutuhan tambahan listrik tahunan hampir sepenuhnya dapat dipenuhi oleh tenaga surya dan angin.
Di sisi lain, China memiliki cadangan minyak strategis yang sangat besar dan bersifat rahasia.
Meskipun jumlah pastinya tidak diketahui, para ahli memperkirakan gabungan cadangan pemerintah dan komersial China cukup untuk menggantikan impor via Selat Hormuz selama kurang lebih tujuh bulan.
Baca juga: Jalur Pipa Arab Saudi Hindari Selat Hormuz, Bisakah Jadi Solusi Perdagangan Minyak Dunia?
Foto ini, yang diambil pada 26 Maret 2026, menunjukkan sebuah kapal tanker minyak sedang membongkar minyak mentah di pelabuhan Yantai, Provinsi Shandong, bagian timur China.Meski produksi minyak domestik China mencapai rekor 4,3 juta barrel per hari tahun lalu, pertumbuhan di sektor gas dan energi terbarukanlah yang memberikan rasa aman jangka panjang.
Pertumbuhan produksi gas domestik dan impor melalui pipa bahkan membuat impor gas alam cair (LNG) China lebih rendah dibandingkan tahun 2020.
Chen Lin, Wakil Presiden riset minyak dan gas di Rystad Energy, menilai bahwa masa ketergantungan ekstrem China terhadap minyak asing akan segera berakhir.
"Permintaan minyak China kemungkinan akan mencapai puncaknya tahun ini dan menurun setelahnya," ujar Chen Lin.
"Jadi, meski pangsa impor akan tetap tinggi, situasinya tidak mungkin memburuk," sambungnya.
Dengan kombinasi armada kendaraan listrik terbesar di dunia, diversifikasi pemasok, dan penguatan energi domestik, China kini mulai melepaskan diri dari "jeratan" energi asing yang selama puluhan tahun menghantui pertumbuhan ekonominya.
Baca juga: Hormuz di Ujung Tanduk: Geopolitik Pilih Kasih Teheran
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang