Penulis
WASHINGTON, KOMPAS.com - Presiden AS, Donald Trump sekali lagi mengecam beberapa negara yang ogah membantunya untuk membuka Selat Hormuz demi mengatasi krisis minyak.
Trump juga secara khusus menyebut Inggris dalam kecamannya itu.
“Kepada semua negara yang tidak bisa mendapatkan bahan bakar jet karena Selat Hormuz, seperti Inggris Raya, yang menolak terlibat dalam pemenggalan kepala Iran, saya punya saran untuk Anda," ujarnya di Truth Social, dikutip dari News18.
"Nomor 1, belilah ke AS, kami punya banyak, dan nomor 2, kumpulkan keberanian yang tertunda, pergilah ke Selat itu, dan rebut saja,” sambungnya.
Baca juga: Kirim Peringatan, Iran Bakal Targetkan Rumah Pejabat dan Komandan AS-Israel
Dia juga memperingatkan, AS tidak akan lagi turun tangan untuk membantu negara-negara itu.
Menurutnya, negara-negara itu harus mulai belajar berjuang untuk diri mereka sendiri.
“Kalian harus mulai belajar bagaimana berjuang untuk diri sendiri, AS tidak akan ada lagi untuk membantu kalian, sama seperti kalian tidak ada untuk kami,” tulis Trump.
Trump juga menambahkan bahwa Iran telah telah dihancurkan dan bagian tersulit dalam perang telah selesai.
Baca juga: Kapal Malaysia Kini Dapat Izin Lewati Selat Hormuz Tanpa Biaya
Dalam unggahan terpisah, Trump juga mengkritik Perancis karena menolak mengizinkan pesawat yang membawa pasokan militer ke Israel untuk terbang di atas wilayahnya.
“Negara Perancis tidak mengizinkan pesawat yang menuju Israel, yang sarat dengan perlengkapan militer, terbang di atas wilayah Perancis," ungkapnya.
"Perancis sangat tidak membantu sehubungan dengan 'penjagal Iran', yang telah berhasil dilenyapkan. AS akan mengingatnya," sambungnya.
Baca juga: Mampukah Pakistan Damaikan Perang AS Vs Iran?
Ilustrasi Selat Hormuz.Peringatan itu muncul seiring AS merencanakan serangan darat ke wilayah Iran.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya memberikan opsi militer maksimal bagi Presiden Donald Trump dalam konflik yang kini memasuki minggu kelima.
Rencana tersebut dapat melibatkan serangan oleh pasukan operasi khusus dan pasukan infanteri konvensional yang akan membuat personel AS rentan terhadap drone dan rudal Iran, tembakan darat, dan bahan peledak rakitan.
Baca juga: Langit Isfahan Membara, Iran Klaim Tembak Jatuh Drone MQ-9 Reaper AS
Para pejabat yang berbicara kepada Washington Post mengatakan, diskusi di dalam pemerintahan selama sebulan terakhir telah menyentuh kemungkinan perebutan Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran di Teluk.
Selain itu, ada potensi penggerebekan ke daerah pesisir lainnya di dekat Selat Hormuz untuk menemukan, serta menghancurkan senjata yang dapat menargetkan pengiriman komersial dan militer.
Menurut laporan tersebut, tujuan yang sedang dipertimbangkan kemungkinan akan membutuhkan waktu beberapa minggu, bukan beberapa bulan untuk diselesaikan, sementara orang lain memperkirakan jangka waktunya sekitar beberapa bulan.
Bahkan, saat ini sudah ada lebih dari 50.000 pasukan AS di Timur Tengah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang