Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rioberto Sidauruk
Dosen

Rioberto Sidauruk adalah Tenaga Ahli AKD Komisi VII DPR RI. Aktif menulis isu-isu Legislasi Industri, UMKM, Standarisasi Nasional, Ekonomi Kreatif, dan Kemandirian Nasional.

Hormuz di Ujung Tanduk: Geopolitik "Pilih Kasih" Teheran

Kompas.com, 30 Maret 2026, 06:35 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DUNIA sekarang sedang menahan napas. Serangan brutal Amerika Serikat dan Israel ke jantung Iran pada 28 Februari 2026 lalu, bukan sekadar operasi militer biasa.

Dengan tumbangnya sang Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, dan hancurnya infrastruktur publik Teheran, kotak pandora ketegangan global resmi terbuka.

Agresi tersebut ternyata melahirkan serangan balik yang jauh lebih mematikan bagi urat nadi ekonomi dunia: blokade de facto Selat Hormuz.

Hormuz bukan sekadar celah air. Kawasan tersebut adalah kerongkongan energi global. Ketika Iran memutuskan untuk "menyumbat" jalur dimaksud, dampaknya seketika terasa di pompa-pompa bensin dari Jakarta hingga London.

Sekitar 1.900 kapal komersial sekarang terkatung-katung di Teluk Persia, menjatuhkan jangkar dalam ketidakpastian, sementara harga energi melonjak liar akibat terhentinya pasokan dari negara-negara Teluk.

Bagi Indonesia, blokade tersebut bukan sekadar berita mancanegara di layar televisi; hambatan distribusi itu adalah ancaman eksistensial terhadap ketahanan fiskal nasional.

Dengan asumsi harga minyak mentah dunia melonjak melewati angka 120 dollar AS per barel akibat kemacetan ribuan kapal tadi, ruang gerak APBN kita seketika menyempit.

Baca juga: Kedunguan di Balik Perang

Perlu diingat, secara historis setiap kenaikan harga minyak mentah sebesar 1 dollar AS per barel berpotensi membengkakkan beban subsidi dan kompensasi energi hingga triliunan rupiah.

Jika boikot jalur tersebut menetap lebih dari sebulan, pemerintah akan dihadapkan pada pilihan simalakama: menaikkan harga BBM subsidi di tengah daya beli yang sedang memar, atau membiarkan defisit anggaran melampaui batas aman 3 persen.

Data menunjukkan bahwa ketergantungan domestik pada impor BBM membuat inflasi sektor transportasi akan meledak dalam hitungan minggu.

Fenomena tersebut bukan sekadar angka di atas kertas; melainkan potensi kenaikan harga bahan pokok di pasar-pasar tradisional yang akan mencekik rakyat kecil.

Stabilitas ekonomi yang dibangun selama bertahun-tahun sedang dipertaruhkan di celah sempit Selat Hormuz.

Di titik tersebut, Teheran memainkan kartu geopolitiknya dengan sangat cerdik sekaligus dingin. Mereka tidak menutup total selat dimaksud, melainkan menerapkan kebijakan "pilih kasih" yang sangat politis.

Pesannya jelas: jika Anda bukan musuh, Anda boleh lewat. Jalur internasional yang seharusnya tunduk pada hukum laut global beralih menjadi instrumen negosiasi bilateral yang kental dengan nuansa "diplomasi sandera".

Krisis tersebut sejatinya adalah lonceng kematian bagi wibawa hukum laut internasional. Kita sering mendewakan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982 sebagai kitab suci samudera, yang menjamin transit passage atau hak lintas transit bagi kapal-kapal di selat internasional.

Halaman:

Terkini Lainnya
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Global
Geopolitik Global Kini: Menutup Luka Perang, Membuka Jalan Damai
Geopolitik Global Kini: Menutup Luka Perang, Membuka Jalan Damai
Global
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Internasional
Baru Lolos Piala Dunia, Negara Ini Langsung Libur Nasional, Pesta Saat Hujan
Baru Lolos Piala Dunia, Negara Ini Langsung Libur Nasional, Pesta Saat Hujan
Global
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
Internasional
Tak Dibantu Perang Lawan Iran, AS Mau Tinjau Hubungan NATO
Tak Dibantu Perang Lawan Iran, AS Mau Tinjau Hubungan NATO
Internasional
Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan
Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan
Internasional
AS Sebut Akhir Perang Iran Sudah Terlihat, Sinyal Damai Sebentar Lagi?
AS Sebut Akhir Perang Iran Sudah Terlihat, Sinyal Damai Sebentar Lagi?
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Hormuz di Ujung Tanduk: Geopolitik "Pilih Kasih" Teheran
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat