Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Prof. Dr. Ermaya
Dewan Pakar Bidang Geopolitik dan Geostrategi BPIP RI

Dewan Pakar Bidang Geopolitik dan Geostrategi BPIP RI.

Geopolitik Global Kini: Menutup Luka Perang, Membuka Jalan Damai

Kompas.com, 1 April 2026, 13:48 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DUNIA seperti menahan napasnya sendiri ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengucapkan kalimat yang terdengar sederhana namun sarat makna: “Kami akan segera pergi,” pada Selasa (31/3/2026).

Pernyataan ini, yang disertai isyarat jeda dua hingga tiga minggu, bukan sekadar pengumuman taktis, melainkan sinyal geopolitik yang menggetarkan dan sekaligus membuka ruang bagi harapan baru tentang perdamaian dunia. 

Dari sini Donald Trump menjadi penanda bahwa sebuah fase konflik tengah mencapai ambang tertentu —bukan semata karena kelelahan militer, melainkan karena kesadaran bahwa stabilitas global adalah kepentingan bersama yang tidak dapat terus-menerus dikorbankan. 

Sehari berselang, dari Teheran, Presiden Iran Masoud Pezeshkian merespons dengan nada yang lebih dalam dan berhati-hati. Ia menegaskan bahwa perang dapat diakhiri, tetapi hanya jika terdapat jaminan agar siklus kekerasan tidak kembali berulang.

Dalam lanskap geopolitik global, perubahan sikap ini mencerminkan realitas baru bahwa perdamaian bukan lagi sekadar ideal normatif, melainkan kebutuhan strategis.

Baca juga: Deep State, di Pemerintahan Prabowo

Konflik yang berlangsung selama satu bulan telah mengguncang pasar energi, memperbesar ketidakpastian ekonomi, serta mengganggu stabilitas kawasan yang menjadi urat nadi perdagangan dunia. 

Dalam kondisi seperti ini, perang tidak lagi menguntungkan bahkan bagi pihak yang secara militer unggul.

Oleh karena itu, pernyataan Trump dapat dibaca sebagai pengakuan tersirat bahwa keberlanjutan konflik justru berpotensi merusak kepentingan jangka panjang Amerika Serikat sendiri, sekaligus mengganggu keseimbangan sistem internasional yang semakin saling bergantung.

Namun, jalan menuju perdamaian tidak pernah sederhana. Di balik keinginan untuk mengakhiri perang, masih tersimpan logika kekuatan yang ingin memastikan bahwa penghentian konflik terjadi dalam kondisi yang menguntungkan.

Amerika Serikat tampak berupaya mengakhiri perang dengan tetap menjaga posisi dominannya. Sementara itu Iran, di bawah kepemimpinan Masoud Pezeshkian, menuntut jaminan agar kedaulatan dan keamanannya tidak kembali terancam. 

Di sinilah perdamaian dunia berhadapan dengan realitas geopolitik: ia bukan hanya soal menghentikan senjata, tetapi juga tentang menciptakan keseimbangan kepentingan yang dapat diterima oleh semua pihak.

Maka dalam konteks ini, perdamaian menjadi hasil dari negosiasi kompleks antara kekuatan, kepercayaan, dan kepentingan. 

Dunia tidak lagi dapat bergantung pada pendekatan unilateral dalam menyelesaikan konflik, karena setiap tindakan memiliki dampak sistemik yang melampaui batas negara.

Ancaman terhadap perusahaan-perusahaan global, ketegangan di jalur perdagangan, serta fluktuasi ekonomi menunjukkan bahwa perang modern telah menjalar ke berbagai dimensi kehidupan. 

Oleh karena itu, upaya menuju perdamaian harus melibatkan pendekatan yang lebih inklusif, yang tidak hanya mempertimbangkan kepentingan negara besar, tetapi juga stabilitas global secara keseluruhan.

Logika Kekuatan Mengakhiri Perang 

Adakalanya perdamaian tidak lahir dari kesetaraan, melainkan dari ketimpangan yang sengaja diciptakan agar satu pihak kehilangan daya tawarnya.

Dunia pun kembali diingatkan bahwa dalam praktik hubungan internasional, ideal tentang damai kerap kali tunduk pada kalkulasi kekuatan.

Pendekatan tersebut mencerminkan paradigma klasik yang telah lama mengakar bahwa keamanan global dapat dijaga dengan memastikan satu aktor tetap berada di puncak hierarki kekuatan.

Amerika Serikat, dalam hal ini, tampak berupaya memastikan bahwa setiap langkah menuju penghentian perang tetap berada dalam orbit kepentingannya. 

Perdamaian, dengan demikian, tidak berdiri sebagai tujuan moral semata, melainkan sebagai instrumen strategis untuk mengunci stabilitas yang menguntungkan.

Namun di titik inilah muncul pertanyaan mendasar: apakah stabilitas yang dibangun di atas ketimpangan benar-benar dapat bertahan dalam jangka panjang?

Sejarah kawasan Timur Tengah memberikan jawaban yang tidak sederhana. Upaya melemahkan satu negara secara ekstrem, sering kali justru menciptakan kekosongan kekuatan yang membuka ruang bagi ketidakpastian baru.

Ketika struktur negara terguncang, yang muncul bukanlah ketertiban, melainkan fragmentasi —aktor-aktor non-negara, milisi, dan jaringan transnasional yang sulit dikendalikan.

Dalam konteks tersebut, kemenangan militer dapat dengan cepat berubah menjadi beban geopolitik yang lebih kompleks, karena stabilitas yang diharapkan justru bergeser menjadi ketidakpastian yang meluas.

Maka pendekatan berbasis dominasi ini juga menyisakan persoalan psikologis dan politik yang mendalam. 

Halaman:

Terkini Lainnya
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Global
Geopolitik Global Kini: Menutup Luka Perang, Membuka Jalan Damai
Geopolitik Global Kini: Menutup Luka Perang, Membuka Jalan Damai
Global
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Internasional
Baru Lolos Piala Dunia, Negara Ini Langsung Libur Nasional, Pesta Saat Hujan
Baru Lolos Piala Dunia, Negara Ini Langsung Libur Nasional, Pesta Saat Hujan
Global
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
Internasional
Tak Dibantu Perang Lawan Iran, AS Mau Tinjau Hubungan NATO
Tak Dibantu Perang Lawan Iran, AS Mau Tinjau Hubungan NATO
Internasional
Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan
Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan
Internasional
AS Sebut Akhir Perang Iran Sudah Terlihat, Sinyal Damai Sebentar Lagi?
AS Sebut Akhir Perang Iran Sudah Terlihat, Sinyal Damai Sebentar Lagi?
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Geopolitik Global Kini: Menutup Luka Perang, Membuka Jalan Damai
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat