Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Prof. Dr. Ermaya
Dewan Pakar Bidang Geopolitik dan Geostrategi BPIP RI

Dewan Pakar Bidang Geopolitik dan Geostrategi BPIP RI.

Geopolitik Global Kini: Menutup Luka Perang, Membuka Jalan Damai

Kompas.com, 1 April 2026, 13:48 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Bagi Iran, tekanan yang bersifat sepihak tidak hanya dipahami sebagai ancaman keamanan, tetapi juga sebagai bentuk ketidakadilan yang merusak martabat nasional.

Di sinilah benih konflik jangka panjang mulai tumbuh—diam, namun persisten. Perdamaian yang dipaksakan tanpa rasa keadilan sejatinya hanyalah jeda yang rapuh, karena di bawah permukaannya tersimpan keinginan untuk memulihkan keseimbangan yang dianggap hilang.

Maka, dalam perspektif geopolitik global, logika kekuatan yang diusung Trump perlu dibaca secara lebih kritis dan reflektif.

Ia mungkin mampu menciptakan efek kejut yang efektif dalam jangka pendek, tetapi belum tentu sanggup melahirkan perdamaian yang berkelanjutan. 

Baca juga: Praka Farizal Romadhon dan Brutalitas terhadap Wasit Perdamaian

Dunia hari ini menuntut lebih dari sekadar kemenangan; ia membutuhkan keseimbangan yang adil, di mana keamanan tidak dibangun di atas kerentanan pihak lain.

Tanpa ini, setiap akhir perang hanya akan menjadi awal dari ketegangan baru, dan perdamaian dunia akan terus menjadi cita-cita yang tertunda.

Antara Kesiapan Damai dan Tuntutan Jaminan

Di sisi lain, Iran menampilkan sikap yang lebih bernuansa di bawah kepemimpinan Masoud Pezeshkian.

Kesediaannya untuk mengakhiri konflik bukanlah bentuk penyerahan, melainkan cerminan dari kalkulasi yang hati-hati antara keinginan damai dan kebutuhan menjaga kedaulatan. 

Pernyataan bahwa perang dapat dihentikan asalkan ada jaminan agar agresi tidak terulang menunjukkan bahwa bagi Iran, perdamaian bukan sekadar berhentinya senjata, tetapi juga kepastian bahwa keamanan nasional tidak lagi berada dalam bayang-bayang ancaman yang sama.

Di sinilah terlihat bahwa perdamaian, dalam perspektif geopolitik, selalu berkelindan dengan rasa aman yang konkret, bukan hanya janji normatif.

Pengalaman sejarah menjadi fondasi utama dalam membentuk sikap tersebut. Serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi mereka telah meninggalkan jejak trauma politik yang mendalam, membentuk memori kolektif yang sulit dihapus begitu saja.

Dalam konteks ini, tuntutan jaminan bukanlah sekadar prosedur diplomatik, melainkan kebutuhan eksistensial yang menyangkut keberlangsungan negara itu sendiri. 

Dunia kerap melupakan bahwa di balik setiap pernyataan resmi, terdapat lapisan psikologis dan historis yang turut menentukan arah kebijakan.

Iran, dengan segala pengalaman pahitnya, tampak berusaha memastikan bahwa perdamaian yang dibangun tidak kembali runtuh oleh pola lama yang berulang.

Namun demikian, sikap terbuka terhadap dialog tetap terlihat melalui usulan lima poin yang diajukan sebagai balasan atas rencana yang ditawarkan Amerika Serikat. Meskipun berada dalam posisi yang tidak sepenuhnya seimbang, Iran tidak menutup pintu negosiasi.

Ini menandakan adanya kesadaran bahwa dalam dunia yang saling terhubung, isolasi bukanlah pilihan yang berkelanjutan. 

Dalam lanskap geopolitik global yang terus berubah, sikap Iran mencerminkan dinamika baru di mana negara-negara tidak lagi sepenuhnya tunduk pada tekanan kekuatan besar.

Mereka berupaya menegosiasikan ruangnya sendiri, mencari titik keseimbangan antara mempertahankan kedaulatan dan menghindari eskalasi konflik yang merugikan. 

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa perdamaian dunia tidak dapat lagi dibangun melalui satu arah kekuasaan, melainkan melalui interaksi yang lebih setara, meskipun dalam praktiknya kesetaraan itu sering kali masih menjadi perjuangan yang panjang.

Tarik Ulur Diplomasi 

Sementara itu Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, memberikan pernyataan yang disiarakan pers internasional bahwa konflik bisa meningkat jika Iran tidak menyepakati kesepakatan damai.

Justru ini  memperlihatkan adanya dualisme yang kian nyata dalam pendekatan Washington. 

Di satu sisi, Presiden Donald Trump mengirimkan sinyal de-eskalasi melalui rencana penarikan pasukan; di sisi lain, ancaman eskalasi tetap dipelihara sebagai instrumen tekanan.

Dalam lanskap geopolitik global, sikap semacam ini bukanlah anomali, melainkan strategi yang kerap digunakan untuk menjaga daya tawar. 

Namun, di tengah harapan akan perdamaian dunia, dualisme ini justru menghadirkan ambiguitas yang dapat mengaburkan arah sebenarnya dari kebijakan tersebut.  Tarik ulur antara diplomasi dan kekuatan militer pun menjadi semakin terasa. 

Pesan yang dikirimkan kepada Iran tidak sepenuhnya konsisten: apakah ini momentum untuk membangun perdamaian yang setara, atau sekadar tekanan halus agar Teheran menerima syarat yang telah ditentukan?

Halaman:

Terkini Lainnya
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Geopolitik Global Kini: Menutup Luka Perang, Membuka Jalan Damai
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat