Penulis
"Sudut-sudut rasisme di AS ya mendapat angin segar. Itu semua hal yang memuakkan buat banyak orang," sambungnya.
Baca juga: Di Balik Gerakan No Kings, Mengapa Protes 7 Juta Warga AS Jadi Ancaman Nyata bagi Trump?
Ia menilai, kondisi ini juga membuktikan adanya kegagalan demokrasi di AS yang sudah tampak sejak lama.
"Modal demokrasi AS dan Eropa hari-hari ini sudah ketahuan gagal, di mana pemerintah dan negara tidak mewakili rakyat," tegas dia.
Salah satu contohnya adalah undang-undang gun control atau kepemilikan senjata yang hingga kini tak kunjung disahkan, meski banyak terjadi penembakan massal di AS.
Selain itu, perang di Iran juga bertentangan dengan kehendak mayoritas warga AS. Padahal, salah satu janji kampanye Trump yang menarik perhatian adalah "No More War".
Baca juga: Strategi Lepas Tangan Trump, Akhiri Perang Iran dan Biarkan Selat Hormuz Tutup
Namun, Trump justru melakukan operasi militer terhadap banyak negara sejak terpilih pada Januari 2025, termasuk baru-baru ini di Venezuela dan Iran.
"Ada pemikir demokrasi AS yang lumayan penting, namanya Nancy Fraser. Dia mengutip Antonio Gramsci beberapa tahun lalu, dia bilang 'model demokrasi yang tua ini sekarat, tapi yang baru belum bisa dilahirkan," ujarnya.
"Jadi ini adalah reaksi terhadap kegagalan persoalan demokrasi yang menumpuk. Jangan lupa, ini terjadi di Eropa juga," lanjutnya.
Baca juga: Trump Klaim Negosiasi dengan Ketua Parlemen Iran, Ultimatum jika Perundingan Gagal
Dampak dari gerakan "No Kings" ini bakal terlihat langsung pada pemilu sela di AS. Menurutnya, banyak kandidat yang terafiliasi dengan Trump berpotensi mengalami kekalahan.
Karena itu, ia menilai akan terjadi blue wave atau "gelombang biru", ketika Partai Demokrat menggeser Partai Republik di tubuh pemerintahan pada pemilu sela mendatang.
"Ada potensi besar untuk blue wave, take over (peralihan) kekuasaan negara akan beralih ke Demokrat," jelas dia.
Kemenangan Zohran Mamdani di New York awal tahun ini bisa menjadi bukti mulai tergerusnya suara Partai Republik.
"Mamdani sekarang dielu-elukan tidak cuma oleh orang New York, tapi banyak orang AS yang bilang 'Mamdani for President' walaupun masih suara-suara kecil. Orang AS rindu dengan demokrasi dan politik yang lebih manusiawi dan tidak basa-basi," pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang