Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

8 Juta Warga Turun ke Jalan, Demo "No Kings" Jadi Alarm Demokrasi di AS?

Kompas.com, 1 April 2026, 10:06 WIB
Ahmad Naufal Dzulfaroh

Penulis

"Sudut-sudut rasisme di AS ya mendapat angin segar. Itu semua hal yang memuakkan buat banyak orang," sambungnya.

Baca juga: Di Balik Gerakan No Kings, Mengapa Protes 7 Juta Warga AS Jadi Ancaman Nyata bagi Trump?

Ia menilai, kondisi ini juga membuktikan adanya kegagalan demokrasi di AS yang sudah tampak sejak lama.

"Modal demokrasi AS dan Eropa hari-hari ini sudah ketahuan gagal, di mana pemerintah dan negara tidak mewakili rakyat," tegas dia.

Salah satu contohnya adalah undang-undang gun control atau kepemilikan senjata yang hingga kini tak kunjung disahkan, meski banyak terjadi penembakan massal di AS. 

Selain itu, perang di Iran juga bertentangan dengan kehendak mayoritas warga AS. Padahal, salah satu janji kampanye Trump yang menarik perhatian adalah "No More War".

Baca juga: Strategi Lepas Tangan Trump, Akhiri Perang Iran dan Biarkan Selat Hormuz Tutup

Namun, Trump justru melakukan operasi militer terhadap banyak negara sejak terpilih pada Januari 2025, termasuk baru-baru ini di Venezuela dan Iran. 

"Ada pemikir demokrasi AS yang lumayan penting, namanya Nancy Fraser. Dia mengutip Antonio Gramsci beberapa tahun lalu, dia bilang 'model demokrasi yang tua ini sekarat, tapi yang baru belum bisa dilahirkan," ujarnya.

"Jadi ini adalah reaksi terhadap kegagalan persoalan demokrasi yang menumpuk. Jangan lupa, ini terjadi di Eropa juga," lanjutnya.

Baca juga: Trump Klaim Negosiasi dengan Ketua Parlemen Iran, Ultimatum jika Perundingan Gagal

Blue wave

Dampak dari gerakan "No Kings" ini bakal terlihat langsung pada pemilu sela di AS. Menurutnya, banyak kandidat yang terafiliasi dengan Trump berpotensi mengalami kekalahan.

Karena itu, ia menilai akan terjadi blue wave atau "gelombang biru", ketika Partai Demokrat menggeser Partai Republik di tubuh pemerintahan pada pemilu sela mendatang.

"Ada potensi besar untuk blue wave, take over (peralihan) kekuasaan negara akan beralih ke Demokrat," jelas dia.

Kemenangan Zohran Mamdani di New York awal tahun ini bisa menjadi bukti mulai tergerusnya suara Partai Republik.

"Mamdani sekarang dielu-elukan tidak cuma oleh orang New York, tapi banyak orang AS yang bilang 'Mamdani for President' walaupun masih suara-suara kecil. Orang AS rindu dengan demokrasi dan politik yang lebih manusiawi dan tidak basa-basi," pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Terkini Lainnya
Mengapa Israel Menolak Disalahkan Atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon?
Mengapa Israel Menolak Disalahkan Atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon?
Internasional
Irak Mendadak 'Lupa Perang' Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Irak Mendadak "Lupa Perang" Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Internasional
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau