Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ngamuk-ngamuk Tak Dibantu Perangi Iran, Trump Sebut NATO Pengecut

Kompas.com, 21 Maret 2026, 09:51 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

Sumber Reuters

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan kritik pedas kepada aliansi NATO pada Jumat (20/3/2026). 

Trump menyebut sekutu lama AS tersebut sebagai pengecut karena dianggap kurang memberikan dukungan dalam perang AS-Israel melawan Iran.

Kekesalan tersebut disampaikan Trump melalui unggahan di media sosial pribadinya. Ia bahkan menyebut aliansi pertahanan tersebut tidak berdaya tanpa campur tangan AS.

Baca juga: AS-Israel Mulai Beda Tujuan di Iran, Trump-Netanyahu Tak Padu

"Tanpa AS, NATO adalah macan kertas," tulis Trump di platform media sosial Truth Social, sebagaimana dikutip dari Reuters, Jumat (20/3/2026).

Konflik Timur Tengah dimulai oleh serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari dan membuat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur.

Teheran melancarkan serangan blasan dan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran sempit yang menyumbang seperlima pasokan minyak dunia.

Persoalan Selat Hormuz

Kritik Trump ini dipicu oleh sikap negara-negara sekutu yang enggan membantu mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang dikendalikan Iran. 

Konflik yang pecah akibat serangan AS-Israel itu sendiri telah mengacaukan pasar global, menelan ribuan korban jiwa, dan menyebabkan jutaan orang mengungsi.

Trump mengeluhkan sikap negara-negara NATO yang mengeluhkan tingginya harga minyak dunia, namun menolak untuk ikut terjun dalam operasi militer.

Baca juga: Cerita WNI Rayakan Idul Fitri di UEA: Lebaran di Tengah Bunyi Alarm Peringatan Rudal Iran

"Sekarang setelah pertempuran itu menang secara militer, dengan risiko yang sangat kecil bagi mereka, mereka justru mengeluh tentang tingginya harga minyak yang harus mereka bayar," tulis Trump.

Menurutnya, membuka Selat Hormuz adalah manuver militer sederhana yang menjadi kunci kestabilan harga minyak. 

Namun, dia kembali menyayangkan para sekutu yang tidak mau mengambil peran tersebut.

"Sangat mudah bagi mereka untuk melakukannya, dengan risiko yang sangat kecil. Pengecut, dan kami akan selalu mengingatnya,"  cibir Trump.

Baca juga: Serangan Israel Tewaskan 1.001 Orang di Lebanon, 3.134 di Iran

Respons pemimpin Eropa

Sejumlah negara seperti Jerman, Inggris, Perancis, Italia, Belanda, Jepang, dan Kanada telah mengeluarkan pernyataan bersama pada Kamis (19/3/2026). 

Mereka berjanji untuk bergabung dalam upaya yang tepat guna memastikan jalur aman melalui Selat Hormuz.

Kendati demikian, dukungan tersebut tidak diberikan secara cuma-cuma. 

Kanselir Jerman Friedrich Merz menegaskan bahwa komitmen tersebut baru akan terlaksana dengan syarat berakhirnya pertempuran.

Senada dengan Merz, Presiden Perancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa prioritas utama saat ini adalah penegakan hukum internasional dan deeskalasi.

"Saya belum mendengar siapa pun di sini yang menyatakan kesediaan untuk masuk ke dalam konflik ini, justru sebaliknya," ujar Macron usai pertemuan puncak Uni Eropa di Brussels.

Baca juga: Macron Ingin Perang Iran Dijeda Saat Idul Fitri: Semua Orang Harus Tenang

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Internasional
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau