Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?

Kompas.com, 31 Maret 2026, 17:18 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Bakteri dalam kimchi membantu mengikat nanoplastik (plastik berukuran sangat kecil) di dalam usus dan membawanya keluar dari tubuh, menurut penelitian terbaru di jurnal Bioresource Technology.

Studi yang dilakukan oleh Dr. Se Hee Lee dan rekan-rekannya dari World Institute of Kimchi (WiKim) menemukan, bakteri kimchi mampu mengikat 57 persen dari partikel plastik yang ada di usus manusia.

Berbeda dengan bakteri lain yang ditemukan di alam bebas, mikroba dalam kimchi berasal dari makanan yang sudah dikonsumsi orang selama turun-temurun. Hal ini membuat pemanfaatannya jauh lebih praktis dan meyakinkan untuk diterapkan.

Temuan itu pun menunjukkan bahwa makanan fermentasi berpotensi menjadi cara alami untuk mengurangi jumlah plastik yang mengendap di dalam tubuh manusia, dilansir dari Earth.com, Selasa (31/3/2026).

Kimchi bantu ikat plastik dalam tubuh, kok bisa?

Bakteri di kimchi bisa mengikat

Ilustrasi mikroplastik. Shutterstock Ilustrasi mikroplastik.

Bakteri yang umum ditemukan dalam makanan fermentasi seperti kimchi, yaitu Leuconostoc mesenteroides, mengandalkan proses biosorpsi.

Biosorpsi adalah proses pengikatan pada permukaan sel yang menjebak polutan plastik sebelum mereka masuk lebih dalam ke jaringan tubuh.

Gugus kimia pada lapisan luar bakteri ini membantu plastik menempel erat sehingga ikatan tersebut tetap stabil dan tidak mudah lepas.

Bahkan, sebelum simulasi pencernaan dimulai, bakteri dari kimchi ini disebut sudah berhasil mengikat 87 persen partikel plastik, sedikit lebih unggul dibanding bakteri pembanding yang mencatat angka 85 persen.

Baca juga:

Ilustrasi kimchi korea.Shutterstock/Sophia Fotography Ilustrasi kimchi korea.

Kinerjanya tetap stabil meski suhu, tingkat keasaman, dan jumlah plastiknya berubah-ubah sehingga para ahli menilai temuan ini cukup kuat untuk mulai diuji coba pada hewan, tepatnya tikus bebas kuman.

Tim peneliti menguji bakteri tersebut tanpa gangguan dari bakteri lain.

Hasilnya, tikus jantan dan betina yang diberi bakteri kimchi mengeluarkan partikel nanoplastik melalui kotoran mereka dua kali lipat lebih banyak dibandingkan tikus yang tidak diberi bakteri tersebut.

Banyaknya partikel plastik yang keluar bersama kotoran menunjukkan, lebih banyak plastik yang berhasil "ditangkap" di dalam usus sebelum sempat masuk meresap ke dalam jaringan tubuh.

Meskipun data pada tikus ini belum membuktikan efek yang sama persis pada manusia, hasil ini menunjukkan bahwa konsep tersebut dapat bekerja pada makhluk hidup.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
BUMN
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Pemerintah
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau