KOMPAS.com - Puluhan paus pilot terdampar lalu mati di pesisir Pantai Mbadokai di Desa Deranitan dan Desa Fuafuni, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, pada Senin (9/3/2026). Diduga penyebabnya adalah kerusakan organ ekolokasi.
Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Akbar Reza menuturkan, ekolokasi berguna bagi paus mencari jalan dan sumber makanan dari pantulan gelombang.
Baca juga:
Menurut dia, organ ekolokasi bisa rusak akibat beberapa faktor, antara lain tumpang tindih kegiatan manusia di kapal, survei seismik, gempa, serta eksplorasi minyak dan gas dengan sonar yang mengeluarkan gelombang suara.
Tidak hanya itu, faktor lainnya adalah kerusakan organ akibat parasit atau pencemaran lingkungan seperti plastik, jaring nelayan, dan serpihan kapal.
“Kondisi inilah yang kemudian membuat paus-paus ini terdampar,” kata Akbar dalam keterangannya, Selasa (31/3/2026).
Rusaknya sistem ekolokasi paus pilot akibat aktivitas manusia di perairan Rote, NTT, diduga menyebabkan puluhan hewan itu terdampar, lalu mati. Kejadian paus terdampar di kawasan NTT bukan pertama kalinya. Pada tahun 2024, sebanyak 50 ekor paus pilot terdampar di Alo, lalu pada tahun 2020 terdapat 11 ekor paus pilot yang terdampar di Sabu Raijua.
Akbar menuturkan, insiden itu berulang terjadi di area NTT, Laut Sawu, dan sekitar Kupang sebelah barat, lantaran perairannya merupakan jalur migrasi tahunan paus pilot dari arah selatan.
Berenang dari Australia yang dekat dengan Antarktik yang dingin, hewan ini mencari perairan yang hangat di daerah tropis.
“Memang ya kejadian ini sudah terjadi beberapa kali. Meskipun tentu sering terjadi, bukan berarti alami,” ucap dia.
Akbar menyampaikan, diperlukan pembedahan lebih lanjut (nekropsi) guna mengetahui penyebab pasti kematian 21 ekor dari 55 paus yang terdampar di Rote beberapa waktu lalu.
Baca juga:
Sebanyak 21 ekor paus yang mati setelah terdampar di Pantai Mbadokai, Desa Deranitan, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), dikuburkan di sekitar area pantai pada Selasa (10/3/2026) sore.Namun, merujuk data-data nekropsi dari Balai Konservasi Kawasan Perairan Nasional, terdapat beberapa temuan yang salah satunya dipicu kerusakan organ ekolokasi pada hewan tersebut.
“Berkaitan kerusakan organ ekolokasi, tentu hal ini bisa makin parah karena kalau rusak ketika si paus pilot atau paus sejenis bergerak ke area dangkal, dia jadi enggak tahu sudah dangkal atau masih dalam. Jadi, ibaratnya sensornya rusak, enggak tahu dia akhirnya terdampar,” papar Akbar.
Selain itu, paus pilot merupakan hewan yang hidup berkelompok. Ketua paus merupakan betina dewasa, yang jika terjadi sesuatu seperti tersasar, akan memengaruhi anggota kelompoknya yang lain.
Paus pun terkenal sensitif terhadap perubahan lingkungan berupa pencemaran air, logam berat, dan bahkan badai matahari.
“Memang dugaan-dugaan terbesar karena polusi suara, karena pencemaran air, bisa airnya kualitasnya buruk, atau ada plastik, ataupun ada sampah-sampah jaring ikan, jaring nelayan dan lain sebagainya,” jelas Akbar.
Sayangnya, International Union for Conservation of Nature (IUCN) masih belum mencatat data keseluruhan populasi paus pilot secara global. Alhasil, naik atau turunnya popuasi satwa itu pun tak diketahui pasti.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya