Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Polusi Plastik Percepat Pertumbuhan Alga Beracun

Kompas.com, 21 Februari 2026, 17:26 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Pertumbuhan alga dalam jumlah yang besar semakin sering terlihat di perairan di seluruh dunia. Kemunculan alga ini bukan hanya sekedar pemandangan yang tidak enak dipandang.

Pasalnya, alga-alga ini berbahaya dan dapat meracuni kehidupan laut, menutup pantai, mengganggu industri perikanan, dan menciptakan risiko kesehatan masyarakat yang serius.

Misalnya saja yang terjadi di Australia Selatan, pertumbuhan alga beracun telah berlangsung selama kurang lebih sembilan bulan. Alga tersebut menyebar di sepanjang garis pantai yang luas dan menyebabkan kematian massal spesies laut.

Selama berpuluh-puluh tahun, para ilmuwan sebagian besar menyalahkan pencemaran nutrisi sebagai penyebab peristiwa-peristiwa ini.

Limpasan pupuk, air limbah, dan sumber nutrisi berlebih lainnya dapat memacu pertumbuhan alga secara besar-besaran hingga ekosistem menjadi tidak seimbang.

Namun, melansir Earth, Jumat (30/1/2026) penelitian baru UC San Diego di Amerika Serikat, menunjukkan pendorong pertumbuhan alga: polusi plastik.

Baca juga: Banjir Jadi Faktor Pendorong Polusi Plastik di Sungai dan Laut

Polusi plastik di mana-mana

Mikroplastik sudah ada di mana-mana, mulai dari sedimen laut dalam hingga es kutub. Ini bukan lagi sekadar masalah lingkungan. Partikel plastik kecil ini juga telah terdeteksi di dalam darah manusia serta di organ-organ seperti otak dan paru-paru.

“Kita melihat semua plastik ini di luar sana, tetapi bagaimana hal itu memengaruhi populasi alga, bakteri, burung laut, atau ikan? Kita benar-benar tidak tahu,” kata profesor ilmu biologi Jonathan Shurin, penulis senior studi tersebut.

Ledakan alga sebagian besar disebabkan oleh polusi nutrisi, tetapi studi ini menunjukkan bahwa beberapa pertumbuhan alga disebabkan oleh efek plastik.

Untuk menyelidikinya, peneliti menjalankan eksperimen selama tiga bulan menggunakan 30 ekosistem tangki seperti kolam.

Mereka kemudian membandingkan plastik poliuretan konvensional yang berbahan dasar bahan bakar fosil dengan plastik yang dapat terurai secara hayati. Bahan biodegradable tersebut mencakup produk yang dikembangkan di UC San Diego.

Hasilnya, tangki yang berisi plastik berbasis minyak bumi menunjukkan perubahan yang langsung dan dramatis. Jumlah zooplankton menurun tajam.

Dengan lebih sedikit pemangsa di dalam air, alga dengan cepat meningkat.

Sementara itu, tangki-tangki yang berisi plastik berbasis hayati (bio-based) tidak menunjukkan perilaku yang sama. Para peneliti mengamati penurunan jumlah zooplankton yang jauh lebih kecil dan gangguan yang lebih sedikit terhadap ekosistem secara lebih luas.

"Plastik berbahan dasar minyak bumi tampaknya memiliki efek negatif yang kuat terhadap populasi zooplankton,” kata penulis utama studi, Scott Morton.

Baca juga: Peneliti Sebut Perjanjian Plastik Global Mandek, tapi Masih Mungkin Dicapai

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau