KOMPAS.com - Pertumbuhan alga dalam jumlah yang besar semakin sering terlihat di perairan di seluruh dunia. Kemunculan alga ini bukan hanya sekedar pemandangan yang tidak enak dipandang.
Pasalnya, alga-alga ini berbahaya dan dapat meracuni kehidupan laut, menutup pantai, mengganggu industri perikanan, dan menciptakan risiko kesehatan masyarakat yang serius.
Misalnya saja yang terjadi di Australia Selatan, pertumbuhan alga beracun telah berlangsung selama kurang lebih sembilan bulan. Alga tersebut menyebar di sepanjang garis pantai yang luas dan menyebabkan kematian massal spesies laut.
Selama berpuluh-puluh tahun, para ilmuwan sebagian besar menyalahkan pencemaran nutrisi sebagai penyebab peristiwa-peristiwa ini.
Limpasan pupuk, air limbah, dan sumber nutrisi berlebih lainnya dapat memacu pertumbuhan alga secara besar-besaran hingga ekosistem menjadi tidak seimbang.
Namun, melansir Earth, Jumat (30/1/2026) penelitian baru UC San Diego di Amerika Serikat, menunjukkan pendorong pertumbuhan alga: polusi plastik.
Baca juga: Banjir Jadi Faktor Pendorong Polusi Plastik di Sungai dan Laut
Mikroplastik sudah ada di mana-mana, mulai dari sedimen laut dalam hingga es kutub. Ini bukan lagi sekadar masalah lingkungan. Partikel plastik kecil ini juga telah terdeteksi di dalam darah manusia serta di organ-organ seperti otak dan paru-paru.
“Kita melihat semua plastik ini di luar sana, tetapi bagaimana hal itu memengaruhi populasi alga, bakteri, burung laut, atau ikan? Kita benar-benar tidak tahu,” kata profesor ilmu biologi Jonathan Shurin, penulis senior studi tersebut.
Ledakan alga sebagian besar disebabkan oleh polusi nutrisi, tetapi studi ini menunjukkan bahwa beberapa pertumbuhan alga disebabkan oleh efek plastik.
Untuk menyelidikinya, peneliti menjalankan eksperimen selama tiga bulan menggunakan 30 ekosistem tangki seperti kolam.
Mereka kemudian membandingkan plastik poliuretan konvensional yang berbahan dasar bahan bakar fosil dengan plastik yang dapat terurai secara hayati. Bahan biodegradable tersebut mencakup produk yang dikembangkan di UC San Diego.
Hasilnya, tangki yang berisi plastik berbasis minyak bumi menunjukkan perubahan yang langsung dan dramatis. Jumlah zooplankton menurun tajam.
Dengan lebih sedikit pemangsa di dalam air, alga dengan cepat meningkat.
Sementara itu, tangki-tangki yang berisi plastik berbasis hayati (bio-based) tidak menunjukkan perilaku yang sama. Para peneliti mengamati penurunan jumlah zooplankton yang jauh lebih kecil dan gangguan yang lebih sedikit terhadap ekosistem secara lebih luas.
"Plastik berbahan dasar minyak bumi tampaknya memiliki efek negatif yang kuat terhadap populasi zooplankton,” kata penulis utama studi, Scott Morton.
Baca juga: Peneliti Sebut Perjanjian Plastik Global Mandek, tapi Masih Mungkin Dicapai
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya