Editor
KOMPAS.com – Inisiatif pendidikan yang digagas anak muda Indonesia, MagnaMinds, memperluas kiprahnya ke tingkat regional melalui program kolaboratif di Bangkok, Thailand, pada Jumat (20/2/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Thai Autism Vocational Center tersebut melibatkan sekitar 150 anak berkebutuhan khusus, keluarga, serta pendidik.
Sebagai informasi, program tersebut terlaksana melalui kemitraan dengan Thai Autistic Foundation yang dipimpin CEO Chusak Janthayanond, bekerja sama dengan Wat Rachathiwas School. Kolaborasi ini menekankan pendekatan berbasis kebutuhan lokal, dengan memperkuat praktik pendidikan yang telah berjalan alih-alih memperkenalkan sistem baru dari luar.
MagnaMinds sendiri didirikan pada Juli 2025 oleh Ryan Winston Angouw, remaja Indonesia yang berusia 15 tahun.
Baca juga: Berdayakan Neurodiversitas, Ini Upaya Astra Infra dan Yayasan Filoksenia Gaungkan Semangat Inklusi
Nama MagnaMinds merefleksikan keyakinan bahwa neurodiversitas adalah representasi dari beragam bentuk kecerdasan—bahwa cara berpikir besar tidak selalu seragam. Prinsip tersebut menjadi fondasi penyediaan sumber belajar yang terstruktur dan mudah diakses bagi keluarga ataupun pendidik.
Dalam kegiatan di Bangkok, MagnaMinds mendistribusikan berbagai materi pembelajaran kreatif, seperti buku gambar, buku mewarnai, krayon, dan cat air. Perangkat ini dirancang untuk mendukung perkembangan motorik halus, regulasi sensorik, konsentrasi, hingga ekspresi diri anak.
Para pendidik mencatat bahwa ketersediaan materi kreatif secara berkelanjutan membantu meningkatkan keterlibatan siswa dengan kebutuhan belajar yang beragam.
Baca juga: Melawan Intoleransi lewat Jalan Pendidikan
Tak hanya itu, dukungan juga diberikan dalam bentuk perangkat digital, seperti kamera video, laptop, dan komputer, guna menunjang pembelajaran daring. Akses teknologi dinilai penting untuk menjaga kesinambungan pengajaran, terutama bagi siswa yang memerlukan format belajar fleksibel.
Sebagai bagian dari program, MagnaMinds juga membagikan 100 eksemplar The Neurodiversity Playbook, buku panduan yang ditulis Angouw.
Buku tersebut memuat strategi praktis mengenai inklusi di kelas, pendekatan komunikasi, pertimbangan sensorik, serta akomodasi pembelajaran yang dapat diterapkan tanpa memerlukan sertifikasi khusus atau infrastruktur berbiaya tinggi.
“Inisiatif ini berfokus memastikan perangkat yang praktis benar-benar dapat diakses dan digunakan secara efektif,” ujar Angouw dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Sabtu (21/2/2026).
Pendidikan inklusif, lanjutnya, menjadi berkelanjutan ketika keluarga dan pendidik memiliki panduan terstruktur yang dapat diterapkan secara konsisten.
Kegiatan di Bangkok tersebut merupakan kelanjutan dari keterlibatan Angouw dalam forum regional pembangunan berkelanjutan.
Baca juga: Dukung Pendidikan Inklusif, Garudafood Beri Beasiswa Santri Tunanetra hingga Anak Prasejahtera
Pada 2025, ia berpartisipasi dalam United Nations Asia-Pacific Forum on Sustainable Development, yang membahas isu inklusi dan akses pendidikan setara bersama pembuat kebijakan, organisasi masyarakat sipil, serta perwakilan pemuda dari berbagai negara.
Menurut Chusak Janthayanond, akses terhadap materi yang dapat langsung digunakan masih menjadi kebutuhan mendesak bagi banyak keluarga dan pendidik di Thailand.
Ia menilai pendekatan berbasis konsultasi memperkuat sistem dukungan yang sudah ada dan memastikan setiap program benar-benar menjawab kebutuhan komunitas.
Perlu diketahui, inisiatif tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya pendidikan berkualitas dan inklusif (SDG poin 4) serta pengurangan kesenjangan (SDG poin 10). Model kolaborasi lintas negara yang dipimpin pemuda ini menunjukkan bagaimana aksi berbasis komunitas dapat menjadi bagian dari solusi pendidikan berkelanjutan.
Ke depan, MagnaMinds akan melanjutkan distribusi perangkat belajar gratis serta menyelenggarakan pelatihan bagi orang tua dan pendidik, terutama di wilayah dengan akses terbatas terhadap panduan terstruktur.
Agenda berikutnya dijadwalkan berlangsung di Manado, Sulawesi Utara, pada 2 Mei 2026.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya