KOMPAS.com - Perubahan iklim turut mengubah cara perusahaan memilih mitra bisnis mereka, selain rantai pasokan dan tekanan ESG (Economy, Social, and Governance).
Penelitian baru yang didasarkan pada data selama hampir 20 tahun dari ribuan perusahaan yang terdaftar di bursa Amerika Serikat menunjukkan, perusahaan yang terpapar risiko perubahan iklim yang lebih tinggi secara sengaja mengurangi ketergantungan mereka pada beberapa pelanggan besar.
Baca juga:
"Makalah ini, sejauh pengetahuan kami, adalah yang pertama memberikan bukti empiris langsung tentang hubungan antara risiko perubahan iklim dan konsentrasi pelanggan perusahaan," tulis para peneliti, dilansir dari laman Wiley Online Library, Sabtu (31/1/2026).
Sebaliknya, mereka menyebarkan penjualan ke basis pelanggan yang lebih luas sebagai cara untuk mengelola risiko, menurut studi yang diterbitkan dalam jurnal Business Strategy and the Environment.
Baca juga:
Studi terbaru menunjukkan risiko perubahan iklim mendorong perusahaan mengurangi ketergantungan pada pelanggan besar.Perusahaan yang menghadapi paparan lebih besar terhadap cuaca ekstrem, gangguan terkait iklim, atau risiko transisi regulasi, cenderung lebih kecil kemungkinannya untuk memusatkan pendapatan mereka pada segelintir pembeli besar, dikutip dari Phys.org.
Para peneliti juga menemukan bahwa perilaku ini terlihat di antara perusahaan-perusahaan dengan kinerja tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang kuat, tingkat inovasi yang lebih tinggi, serta investasi besar pada aset fisik seperti pabrik dan infrastruktur.
Perusahaan-perusahaan ini tampaknya menyadari bahwa pemusatan pelanggan dapat memperburuk dampak guncangan iklim.
"Apa yang ditunjukkan oleh bukti ini adalah bahwa risiko iklim tidak lagi bersifat abstrak atau hanya berorientasi pada masa depan. Hal tersebut sedang membentuk keputusan bisnis sehari-hari di masa kini," kata Dr. Boahen, Ketua Kluster Akuntansi, Keuangan, dan Ekonomi di University of East London.
"Dewan direksi dan eksekutif tidak hanya memikirkan emisi atau pengungkapan. Mereka diam-diam memikirkan kembali siapa yang mereka andalkan untuk pendapatan. Ketika guncangan iklim dapat menghantam perusahaan dan pelanggan terbesar mereka secara bersamaan, terlalu bergantung pada sejumlah kecil klien menjadi kerentanan strategis," tambahnya.
Penelitian ini didasarkan pada perilaku dunia nyata yang diamati di hampir 4.800 perusahaan selama periode 17 tahun.
Baca juga:
Studi terbaru menunjukkan risiko perubahan iklim mendorong perusahaan mengurangi ketergantungan pada pelanggan besar.Bagi para investor dan pemberi pinjaman, studi ini menyoroti pemusatan pelanggan sebagai blind spot dalam penilaian risiko iklim.
Selama ini, investor mungkin hanya melihat apakah sebuah pabrik berada di daerah rawan banjir atau tidak.
Namun, mereka lupa melihat siapa pelanggan perusahaan tersebut. Jika semua pelanggan perusahaan berada di area terdampak iklim, maka investasi tersebut berisiko tinggi.
Sementara itu, perusahaan dengan basis pelanggan yang terdiversifikasi mungkin terlindungi dengan lebih baik dari volatilitas pendapatan, tekanan pendanaan, serta gangguan rantai pasok.
Bagi dewan direksi dan regulator, temuan ini menunjukkan bahwa struktur pelanggan merupakan masalah tata kelola. Pemusatan pelanggan yang terus-menerus tinggi di wilayah-wilayah yang terpapar risiko iklim dapat mengindikasikan adanya kelemahan dalam manajemen risiko.
"Ketahanan iklim bukan hanya tentang di mana aset berada atau seberapa banyak karbon yang dikeluarkan sebuah perusahaan," kata Dr. Boahen.
"Ini juga tentang seberapa besar paparan risiko yang dihadapi perusahaan melalui hubungan komersialnya. Pemusatan pelanggan kini merupakan isu iklim, entah perusahaan melabelinya seperti itu atau tidak," paparnya lagi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya