Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penelitian Ungkap Risiko Perubahan Iklim Ubah Strategi Bisnis

Kompas.com, 31 Januari 2026, 11:30 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perubahan iklim turut mengubah cara perusahaan memilih mitra bisnis mereka, selain rantai pasokan dan tekanan ESG (Economy, Social, and Governance).

Penelitian baru yang didasarkan pada data selama hampir 20 tahun dari ribuan perusahaan yang terdaftar di bursa Amerika Serikat menunjukkan, perusahaan yang terpapar risiko perubahan iklim yang lebih tinggi secara sengaja mengurangi ketergantungan mereka pada beberapa pelanggan besar.

Baca juga:

"Makalah ini, sejauh pengetahuan kami, adalah yang pertama memberikan bukti empiris langsung tentang hubungan antara risiko perubahan iklim dan konsentrasi pelanggan perusahaan," tulis para peneliti, dilansir dari laman Wiley Online Library, Sabtu (31/1/2026).

Sebaliknya, mereka menyebarkan penjualan ke basis pelanggan yang lebih luas sebagai cara untuk mengelola risiko, menurut studi yang diterbitkan dalam jurnal Business Strategy and the Environment.

Baca juga:

Perubahan iklim dan cara perusahaan beroperasi

Terlihat pada perusahaan dengan tanggung jawab sosial perusahaan yang kuat

Studi terbaru menunjukkan risiko perubahan iklim mendorong perusahaan mengurangi ketergantungan pada pelanggan besar.PEXELS Studi terbaru menunjukkan risiko perubahan iklim mendorong perusahaan mengurangi ketergantungan pada pelanggan besar.

Perusahaan yang menghadapi paparan lebih besar terhadap cuaca ekstrem, gangguan terkait iklim, atau risiko transisi regulasi, cenderung lebih kecil kemungkinannya untuk memusatkan pendapatan mereka pada segelintir pembeli besar, dikutip dari Phys.org.

Para peneliti juga menemukan bahwa perilaku ini terlihat di antara perusahaan-perusahaan dengan kinerja tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang kuat, tingkat inovasi yang lebih tinggi, serta investasi besar pada aset fisik seperti pabrik dan infrastruktur.

Perusahaan-perusahaan ini tampaknya menyadari bahwa pemusatan pelanggan dapat memperburuk dampak guncangan iklim.

"Apa yang ditunjukkan oleh bukti ini adalah bahwa risiko iklim tidak lagi bersifat abstrak atau hanya berorientasi pada masa depan. Hal tersebut sedang membentuk keputusan bisnis sehari-hari di masa kini," kata Dr. Boahen, Ketua Kluster Akuntansi, Keuangan, dan Ekonomi di University of East London.

"Dewan direksi dan eksekutif tidak hanya memikirkan emisi atau pengungkapan. Mereka diam-diam memikirkan kembali siapa yang mereka andalkan untuk pendapatan. Ketika guncangan iklim dapat menghantam perusahaan dan pelanggan terbesar mereka secara bersamaan, terlalu bergantung pada sejumlah kecil klien menjadi kerentanan strategis," tambahnya.

Penelitian ini didasarkan pada perilaku dunia nyata yang diamati di hampir 4.800 perusahaan selama periode 17 tahun.

Baca juga: 

Penilaian risiko iklim untuk masa depan bisnis

Studi terbaru menunjukkan risiko perubahan iklim mendorong perusahaan mengurangi ketergantungan pada pelanggan besar.FREEPIK/PRESSFOTO Studi terbaru menunjukkan risiko perubahan iklim mendorong perusahaan mengurangi ketergantungan pada pelanggan besar.

Bagi para investor dan pemberi pinjaman, studi ini menyoroti pemusatan pelanggan sebagai blind spot dalam penilaian risiko iklim.

Selama ini, investor mungkin hanya melihat apakah sebuah pabrik berada di daerah rawan banjir atau tidak.

Namun, mereka lupa melihat siapa pelanggan perusahaan tersebut. Jika semua pelanggan perusahaan berada di area terdampak iklim, maka investasi tersebut berisiko tinggi.

Sementara itu, perusahaan dengan basis pelanggan yang terdiversifikasi mungkin terlindungi dengan lebih baik dari volatilitas pendapatan, tekanan pendanaan, serta gangguan rantai pasok.

Bagi dewan direksi dan regulator, temuan ini menunjukkan bahwa struktur pelanggan merupakan masalah tata kelola. Pemusatan pelanggan yang terus-menerus tinggi di wilayah-wilayah yang terpapar risiko iklim dapat mengindikasikan adanya kelemahan dalam manajemen risiko.

"Ketahanan iklim bukan hanya tentang di mana aset berada atau seberapa banyak karbon yang dikeluarkan sebuah perusahaan," kata Dr. Boahen.

"Ini juga tentang seberapa besar paparan risiko yang dihadapi perusahaan melalui hubungan komersialnya. Pemusatan pelanggan kini merupakan isu iklim, entah perusahaan melabelinya seperti itu atau tidak," paparnya lagi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
Pemerintah
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Pemerintah
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau