Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pengamat: Gugus Tugas Program PLTS 100 GW butuh Banyak "Resources"

Kompas.com, 24 Februari 2026, 10:30 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Institute for Essential Services Reform (IESR) telah memetakan sekitar 16.700 desa masih kekurangan listrik. Keluarga-keluarga di sana masih bergantung pada pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang mahal.

Padahal, energi surya plus BESS (battery energy storage system) dapat menghasilkan listrik dengan biaya kira-kira 10-15 sen per kWh. Itu 30-60 persen lebih murah daripada listrik memakai solar.

IESR merekomendasikan program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt (GW) dimulai dengan menyediakan untuk 5.700 desa yang masih hidup dalam kegelapan. Namun, suatu model PLTS dengan ukuran tertentu tidak cocok diterapkan untuk semua lokasi.

Baca juga: Pengamat: Program PLTS 100 GW Bisa Hemat Subsidi BBM Hingga Rp 21 T

"Rencana awal untuk membangun 1 megawatt (MW) per desa itu terlihat berani dan itu akan membuang-buang dana di desa yang kecil, tapi meninggalkan desa yang besar (tetapi juga) kekurangan daya. Solusinya, kami menyusun ada 10 arsitektur desa yang bisa dilistriki mulai dari 20-200 kWp hingga 2,5 MWp. Fleksibilitas itu adalah kuncinya," ujar Chief Executive Officer (CEO), Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa dalam Report Launching on Solar Archipelago, Senin (23/2/2026).

Listrik menjadi katalis ekonomi desa. Misalnya, sebuah desa di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dapat meningkatkan produktivitas ekonominya dengan mengolah biji kopi usai daerahnya tersedia listrik secara memadai. Bahkan, harga biji kopi yang tadinya hanya Rp 10.000, ketika sudah diolah bisa naik hingga 15 kali lipat.

Gerai Koperasi Desa Merah Putih di Desa Dukuhrejo, Kecamatan Bayan, Kabupaten PurworejoKOMPAS.COM/BAYUAPRILIANO Gerai Koperasi Desa Merah Putih di Desa Dukuhrejo, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo

Namun, tidak gampang untuk mewujudkan program PLTS 100 GW. IESR mencatat tiga kendala utamanya. Pertama, kebutuhan pembiayaan yang diperkirakan mencapai sekitar USD 70 miliar atau Rp 1.179 triliun dalam lima tahun.

"Walaupun kami yakin dana ini kalau disediakan, itu setara dengan 2 atau 3 kali dana subsidi listrik dalam 3 tahun. Jadi kalau pemerintah bisa menyediakan dana subsidi listrik, kenapa tidak untuk investasi ini?," tutur Fabby.

Kedua, penguatan kapasitas tenaga kerja. Kebutuhan teknisi instalasi PLTS mencapai 100.000 tenaga kerja. Sedangkan teknisi operasi dan pemeliharaan (O&M) mencapai 80.000 tenaga kerja.

"Yang hari ini, (masih) tidak tersedia," ucapnya.

Baca juga: PLTS Atap di Indonesia, Bagaimana dengan Limbahnya?

Keterlibatan pusat pelatihan di berbagai provinsi diperlukan untuk penguatan kapasitas. Ia memperkirakan diperlukan 34 pusat pelatihan di setiap provinsi.

Ketiga, tata kelola. Fabby menilai, sekat-sekat birokrasi perlu 'dihancurkan' untuk bisa menyukseskan program PLTS 100 GW dan bahkan perlu upaya setara menghadapi pandemi Covid-19. Indonesia membutuhkan sebuah gugus tugas atau Badan Koordinasi Surya Nasional yang IESR sarankan di bawah Kemenko Perekonomian. Gugus tugas atau badan koordinasi ini melibatkan kementerian/lembaga terkait lainnya, serta melibatkan pemerintah daerah dari provinsi hingga kabupaten/kota.

Kewenangan yang Tersebar

Senada, Analis Energi Terbarukan dan Penyimpanan Energi IESR, Afriza Ni'matus Sa'adah menganggap, tantangan utama dalam mewujudkan prgram PLTS 100 GW bukan pada potensi teknis, melainkan justru fragmentasi kewenangan. Kewenangan dalam pengembangan energi terbarukan masih tersebar ke berbagai kementerian.

Kementerian ESDM sebetulnya bertanggung jawab atas otoritas teknis dan perizinan ketenagalistrukan. Untuk izin lingkungan, tata ruang, dan bangunan perlu melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian ATR/BPN, serta Kementerian PUPR.

Sementara itu, implementasi di tingkat desa masih pula terfragmentasi di kementerian/lembaga yang berbeda. Yaitu, Kementerian Koperasi bertanggung jawab atas koperasi desa merah putih dan Kementerian Desa untuk BUMDes.

Baca juga: Cuaca Indonesia Sulit Diprediksi, Apa PLTS Atap di Mall Masih Efektif?

Tanpa adanya satu struktur pemandu yang jelas, kata dia, implementasi PLTS 100 GW berisiko sangat tinggi untuk tumpang tindih, serta keterlambatan dan inkonsistensi kebijakan. Gugus tugas atau Badan Koordinasi Tenaga Surya Nasional nantinya akan berfungsi sebagai pusat pemandu untuk memastikan kelancaran lintas.

Di sisi lain, dalam menjawab tantangan geografis Indonesia, struktur semestinya perlu lebih fleksibel, dengan tidak sepenuhnya tersentralisasi. Oleh karena itu, perlu dibentuk unit regional di tingkat provinsi yang dapat diketuai oleh gubernur. Unit regioal dapat mengimplementasikan proyek di tingkat daerah dan bertanggung jawab memastikan kesiapan maupun memonitor kinerjanya.

"Dengan adanya model ini maka program 100 gigawatt dapat dijalankan dengan satu roadmap nasional dan dieksekusi serta dimonitor oleh unit komando yang berada di tingkat provinsi," ujar Afriza.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
Pemerintah
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Pemerintah
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau