Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kurangnya Data Karbon Laut Bisa Hambat Mitigasi Perubahan Iklim

Kompas.com, 25 Februari 2026, 19:17 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Lautan dunia menyerap sebagian besar karbon dioksida yang dihasilkan oleh aktivitas manusia, tetapi manusia tidak sepenuhnya memahami bagaimana lautan menyerap dan menyimpan karbon.

Hal itu terungkap dalam laporan Komisi Oseanografi Antarpemerintah (IOC) dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

Akibatnya, prediksi tentang perubahan masa depan sistem atmosfer, samudra, dan biologis menjadi bias, karena pemahaman yang tidak lengkap mengenai karbon laut.

Melansir Down to Earth, Rabu (25/2/2026) hal ini pun akhirnya menjadi hambatan besar bagi pengurangan gas rumah kaca (GRK) di atmosfer, mitigasi dan juga adaptasi perubahan iklim.

"Samudra adalah salah satu sekutu iklim terkuat kita yang menyerap sebagian besar karbon yang kita lepaskan. Namun, kita masih belum memiliki pemahaman penuh tentang bagaimana pertahanan alami ini berfungsi," papar Khaled El-Enany, Direktur Jenderal UNESCO.

Jika lautan menyerap lebih sedikit karbon di masa depan, lebih banyak CO2 akan tetap berada di atmosfer dan mempercepat pemanasan global. Hal ini akan berdampak langsung pada target emisi di masa depan dan rencana iklim nasional.

Baca juga: KKP Targetkan Perdagangan Karbon Biru Dimulai 2027

Karbon yang diserap laut

Sekitar 25 persen dari emisi gas rumah kaca global saat ini disimpan di dalam samudra. Model iklim yang ada sekarang memberikan perkiraan yang bervariasi mengenai jumlah karbon yang diserap oleh samudra.

Laporan Penelitian Karbon Laut Terintegrasi yang disusun oleh 72 ahli dari 23 negara menyebut jumlah karbon yang diserap antara 10 hingga 20 persen secara global dan variasi yang bahkan lebih besar di tingkat regional.

Alasan utama dari variasi dan ketidakpastian dalam model-model tersebut adalah terbatasnya ketersediaan data jangka panjang dan adanya celah dalam pengetahuan tentang bagaimana sebagian proses samudra merespons pemanasan beserta konsekuensinya.

Hal ini mencakup proses-proses yang terlibat dalam penyerapan karbon di samudra, pergeseran plankton dan mikroba yang memengaruhi penyimpanan karbon jangka panjang, serta pertukaran karbon antara atmosfer dan samudra di wilayah pesisir dan kutub.

Aktivitas industri di samudra dan proyek-proyek rekayasa geospasial untuk menangkap dan menyimpan karbon juga memengaruhi penyerapan karbon alami oleh samudra dan perlu dipelajari secara mendalam.

Langkah memahami karbon laut

Salah satu langkah paling penting yang harus diambil untuk mengatasi kurangnya pemahaman tentang karbon di lautan adalah pemantauan dan pengumpulan data dari semua lapisan lautan. Langkah-langkah lainnya adalah pemodelan proses lautan dan koordinasi antar negara dalam kebijakan berbasis lautan.

Baca juga: Peneliti Ungkap Kondisi Oksigen Laut Masa Depan lewat Plankton Purba

“Oleh karena itu, pemantauan global yang terkoordinasi terhadap penyerapan karbon di lautan sangat penting dan mendesak," kata El-Enany.

Laporan pun menyerukan pembentukan sistem pengamatan karbon laut global dengan bantuan satelit, platform yang terhubung dengan sensor otomatis, dan pengumpulan data yang lebih baik dari lapisan permukaan, bawah permukaan, dan laut dalam, serta pemodelan siklus karbon laut yang lebih baik, terutama dari wilayah yang kurang terwakili.

Para ilmuwan juga perlu melakukan studi tentang proses biologis dan eksperimen terkait untuk memahaminya lebih lanjut dan mengintegrasikannya ke dalam model.

Laporan tersebut meminta pula pembentukan kerangka kerja penelitian karbon laut lintas ilmu dengan melibatkan peserta non-akademis seperti pembuat kebijakan, manajer, komunikator riset, dan pemegang pengetahuan adat.

Tujuannya adalah menciptakan waktu dan ruang untuk memahami kontribusi ilmu sosial, kemanusiaan, dan seni kreatif dalam bidang penelitian karbon laut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi
Pemerintah
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Raja Juli Temui Tiga Menteri Jepang, Bahas Investasi Karbon hingga Komodo
Pemerintah
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau