KOMPAS.com - Lautan dunia menyerap sebagian besar karbon dioksida yang dihasilkan oleh aktivitas manusia, tetapi manusia tidak sepenuhnya memahami bagaimana lautan menyerap dan menyimpan karbon.
Hal itu terungkap dalam laporan Komisi Oseanografi Antarpemerintah (IOC) dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).
Akibatnya, prediksi tentang perubahan masa depan sistem atmosfer, samudra, dan biologis menjadi bias, karena pemahaman yang tidak lengkap mengenai karbon laut.
Melansir Down to Earth, Rabu (25/2/2026) hal ini pun akhirnya menjadi hambatan besar bagi pengurangan gas rumah kaca (GRK) di atmosfer, mitigasi dan juga adaptasi perubahan iklim.
"Samudra adalah salah satu sekutu iklim terkuat kita yang menyerap sebagian besar karbon yang kita lepaskan. Namun, kita masih belum memiliki pemahaman penuh tentang bagaimana pertahanan alami ini berfungsi," papar Khaled El-Enany, Direktur Jenderal UNESCO.
Jika lautan menyerap lebih sedikit karbon di masa depan, lebih banyak CO2 akan tetap berada di atmosfer dan mempercepat pemanasan global. Hal ini akan berdampak langsung pada target emisi di masa depan dan rencana iklim nasional.
Baca juga: KKP Targetkan Perdagangan Karbon Biru Dimulai 2027
Sekitar 25 persen dari emisi gas rumah kaca global saat ini disimpan di dalam samudra. Model iklim yang ada sekarang memberikan perkiraan yang bervariasi mengenai jumlah karbon yang diserap oleh samudra.
Laporan Penelitian Karbon Laut Terintegrasi yang disusun oleh 72 ahli dari 23 negara menyebut jumlah karbon yang diserap antara 10 hingga 20 persen secara global dan variasi yang bahkan lebih besar di tingkat regional.
Alasan utama dari variasi dan ketidakpastian dalam model-model tersebut adalah terbatasnya ketersediaan data jangka panjang dan adanya celah dalam pengetahuan tentang bagaimana sebagian proses samudra merespons pemanasan beserta konsekuensinya.
Hal ini mencakup proses-proses yang terlibat dalam penyerapan karbon di samudra, pergeseran plankton dan mikroba yang memengaruhi penyimpanan karbon jangka panjang, serta pertukaran karbon antara atmosfer dan samudra di wilayah pesisir dan kutub.
Aktivitas industri di samudra dan proyek-proyek rekayasa geospasial untuk menangkap dan menyimpan karbon juga memengaruhi penyerapan karbon alami oleh samudra dan perlu dipelajari secara mendalam.
Salah satu langkah paling penting yang harus diambil untuk mengatasi kurangnya pemahaman tentang karbon di lautan adalah pemantauan dan pengumpulan data dari semua lapisan lautan. Langkah-langkah lainnya adalah pemodelan proses lautan dan koordinasi antar negara dalam kebijakan berbasis lautan.
Baca juga: Peneliti Ungkap Kondisi Oksigen Laut Masa Depan lewat Plankton Purba
“Oleh karena itu, pemantauan global yang terkoordinasi terhadap penyerapan karbon di lautan sangat penting dan mendesak," kata El-Enany.
Laporan pun menyerukan pembentukan sistem pengamatan karbon laut global dengan bantuan satelit, platform yang terhubung dengan sensor otomatis, dan pengumpulan data yang lebih baik dari lapisan permukaan, bawah permukaan, dan laut dalam, serta pemodelan siklus karbon laut yang lebih baik, terutama dari wilayah yang kurang terwakili.
Para ilmuwan juga perlu melakukan studi tentang proses biologis dan eksperimen terkait untuk memahaminya lebih lanjut dan mengintegrasikannya ke dalam model.
Laporan tersebut meminta pula pembentukan kerangka kerja penelitian karbon laut lintas ilmu dengan melibatkan peserta non-akademis seperti pembuat kebijakan, manajer, komunikator riset, dan pemegang pengetahuan adat.
Tujuannya adalah menciptakan waktu dan ruang untuk memahami kontribusi ilmu sosial, kemanusiaan, dan seni kreatif dalam bidang penelitian karbon laut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya